hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Keceriaan Jemaah Umrah “Muslimin Family”: 10 Riyal untuk Satu Pertanyaan

jemaah umrah
Jemaah umrah “Muslimin Family” saat berada di Jabal Rahmah tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa | Foto: PeluangNews

PeluangNews, Makkah – “Apa artinya inna salati wa nusuki”, kata Muslimin.

Salah seorang jemaah umrah di dalam bus wisata, Redza, lantas mengangkat tangan sebagai tanda ia tahu arti dari pertanyaan tersebut.

Namun, jawaban itu dinilai salah. Muslimin pun berlalu. Ia bergegas menuju tempat duduknya di kursi belakang para jemaah yang tengah dalam perjalanan ke Kota Thaif, Makkah, Arab Saudi.

Pertanyaan Muslimin merupakan doa iftitah, penggalan dari Surat Al-An’am ayat 162.

Qul inna salati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil-alamin.

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Muslimin kembali ke posisi duduknya, setelah Veby mengambil toa dari genggaman tangan suaminya tersebut. Ibu empat anak itu lalu berdiri menghadap ke para jemaah dari bagian kursi depan.

Di dalam sebuah bus wisata yang tengah melintasi jalan di Padang Arafah, Veby berusaha menghibur 31 penumpang jemaah umrahnya.

Sebagai ketua rombongan jemaah, ia senantiasa membuat perjalanan umrah dan tour city di Arab Saudi menyenangkan dan berkesan.

Berbekal pengalamannya yang sering melaksanakan ibadah ke Tanah Suci Makkah, Veby banyak memberikan motivasi kepada para jemaah agar tetap semangat dan bertawakal kepada Allah SWT.

“InsyaAllah ibadah umrah dan perjalanan tour city kita, salah satunya untuk napak tilas perjuangan Rasulullah Saw mendapat rida dari Allah SWT,” kata Veby.

Untuk menghidupkan suasana perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam dari Makkah ke Kota Thaif,
dia memulai dengan pernyataan;

“Kita buat game ya. Siapa yang bisa menjawab satu pertanyaan dikasih 10 Riyal (Arab Saudi)atau sekitar (Rp48.000). Semuanya ada 10 pertanyaan,” katanya.

Seketika para jemaah memperbaiki posisi duduk mereka yang semula terlihat kantuk sambil bersandar di senderan kursi, jadi duduk agak tegak lurus. Siap-siap menjawab.

“Pokoknya kalau sudah urusan sama duit semua jadi semangat. Enggak ada orang yang gak suka duit. Mami juga suka duit,” tambah Veby, seraya bergurau.

Suasana riuh oleh canda tiga bocah di dalam bus tersebut, sontak berubah. Perhatian para jemaah tertuju kepada Veby.

Rasa kantuk dan lelah serasa hilang. Perempuan ceria yang pandai menghibur dan berjiwa sosial itu mengawali dengan pertanyaan sangat mudah.

“Hewan apa yang menggunakan sepatu,” ujarnya. “Kuda,” celetuk seorang jemaah umrah dari kursi tengah. “Gak jadi…gak jadi terlalu mudah,” katanya.

Veby lantas menggantinya dengan pertanyaan sambung lirik lagu nasid, “Pada zaman dahulu kala, pada zaman jahiliah…dst”

Seorang jemaah perempuan yang duduk di kursi tengah mengangkat tangan. Ia langsung bernyanyi,”

Pada zaman dahulu kala, Pada zaman jahiliah, Lahirlah seorang Rasul, Yang terakhir dan mulia. Nabi Muhammad namanya, Siti Aminah ibunya, Abdullah itu ayahnya…dst.”

“Betul, 10 Riyal ya,” tegas Veby. Ia kemudian melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya.

Mata para jemaah di dalam bus itu masih tertuju padanya. Mereka tampak serius menunggu.

Vebi memulai dengan pertanyaan, sebutkan bunyi surat Yasin ayat 36.
“Subḥānal-lażī khalaqal-azwāja kullahā mimmā tumbitul-arḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya’lamūn.”

Artinya: “Maha Suci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.”

“Ya betul, 10 Riyal lagi,” imbuhnya.
Veby kemudian memenuhi janjinya. Hadiah uang 10 riyal diberikan kepada jemaahnya yang berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Ada jemaah yang berhasil mendapat 20 riyal, ada juga yang hanya memperoleh 10 riyal dari game itu.

Kereta Gantung

Tidak terasa perjalan tour city telah sampai di Kota Thaif, tepatnya di lembah Pegunungan Sarawat (Asir dan Al Hada). Para jemaah turun dari bus yang membawa mereka.

Udara sejuk AC dari bus wisata berubah panas menyengat sesampainya di luar. Suhu udara siang itu diperkirakan mencapai 45 derajat Celcius.

Para jemaah bergegas menuju sebuah masjid untuk melaksanakan salat Zuhur seraya beristirahat sejenak.

Setelah Salat Zuhur, para jemaah kembali menggunakan kaca mata hitam, topi dan alat pelindung lainnya agar terhindari dari sengatan panas.

Para jemaah kemudian menuju sebuah lorong atau baseman untuk naiki kereta gantung. Mereka duduk di kursi tunggu antrean tiket.

Alat transportasi itu digunakan para jemaah umrah “Muslimin Family” bertujuan untuk melihat dari ketinggian, jalan-jalan bukit berbatu yang pernah dilalui Rasulullah Saw dalam menyiarkan agama Islam.

Angin semilir dari atas kereta gantung terasa sejuk di badan, meski cuaca tengah panas menyengat.

Dari ketinggian sekitar 20 hingga 30 meter, hamparan batu besar dan cadas terlihat nyata. Puluhan hewan unta berjalan perlahan ke sana kemari mencari makan.

Kota bersejarah yang berjarak sekitar 70 kilometer di sebelah tenggara Kota Makkah dan berada di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut itu, merupakan saksi bisu perjuangan dan kesabaran Nabi Muhammad SAW saat menyebarkan Islam.

Kondisi alam yang sangat berat, Rasulullah hadapi semua rintangan untuk tegaknya Islam dan kalimat tauhid di muka bumi yakni la Ilaha ilallah.

Di Kota Thaif itu terdapat beberapa tapak sejarah penting yang sering dikunjungi oleh jemaah haji dan umrah.

Lokasi kota yang berada di dataran tinggi pegunungan batu ini memiliki iklim yang sejuk, tanahnya subur, dan dikenal sebagai penghasil buah serta bunga mawar terbesar di kawasan tersebut.

Banyak orang Indonesia mengibaratkan Thaif sebagai ‘Bogor-nya Indonesia’ karena udaranya yang sejuk bila dibanding dengan kota-kota lain di Arab Saudi.

Kota Thaif juga sangat populer sebagai destinasi wisata ziarah bagi jemaah yang sedang menunaikan ibadah haji atau umrah.

Sesampainya di Thaif, para jemaah menaiki kereta gantung untuk melihat jejak Nabi Muhammad di kota itu dari ketinggian.

Dari atas kereta itu tampak jejak Rasulullah Saw berupa jalan setapak yang tertata rapi di atas bukit bebatuan. Jalan tersebut diyakini pernah dilalui Nabi Muhammad Saw.

Berikut beberapa jejak Rasulullah di Kota Thaif:

1. Masjid Addas:

Terletak di area yang dahulu merupakan sebuah kebun anggur. Di tempat ini, Nabi Muhammad SAW yang terluka akibat dilempari batu oleh penduduk Thaif beristirahat.

Di kebun inilah beliau diberi makan buah anggur oleh seorang budak Nasrani bernama Addas, yang kemudian masuk Islam setelah mendengar penjelasan Nabi.

2. Masjid Al-Kuk (Masjid Siku):

Tidak jauh dari Masjid Addas, terdapat masjid kecil yang dibangun dari batu dan bata merah. Lokasi ini diyakini sebagai tempat Nabi bersandar dan beristirahat dalam keadaan lelah dan terluka. Terdapat batu yang dipercaya amblas karena menahan beban siku Nabi.

3. Masjid Abdullah bin Abbas:

Dinamakan dari sepupu Nabi SAW, Abdullah bin Abbas. Beliau adalah seorang ulama besar dan ahli tafsir yang makamnya berada di dekat masjid ini.

Perjalanan dakwah ke Thaif mengajarkan nilai teladan yang luar biasa tentang ketabahan, kesabaran, dan sifat pemaaf Rasulullah SAW ketika ditolak oleh kaum Bani Tsaqif.

Usai dari Kota Thaif, Tour City para jemaah umrah “Muslimin Family” melanjutkan perjalanan menuju Jabal Rahmah, sebuah bukit kasih sayang setinggi 70 meter di Padang Arafah, Makkah.

Dalam tradisi dan sejarah Islam, tempat ini diyakini sebagai lokasi bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa setelah dipisahkan dan diturunkan ke bumi.

Jabal Rahmah terletak di bagian timur Padang Arafah, sekitar 21 km dari Kota Makkah. Bukit ini menjadi salah satu titik utama yang diziarahi saat musim haji dan umrah. Jabal Rahmah sebagai simbol kasih sayang.

“Rahmah” yang berarti kasih sayang, tempat ini sering menjadi lokasi jemaah berdoa memohon ampunan, jodoh, dan keharmonisan rumah tangga.

Perjalanan wisata religi “Muslimin Family” belum berakhir di situ. Mereka melanjutkan ke tempat para syuhada yang gugur dalam Perang Uhud dimakamkan yaitu di kaki Jabal Uhud, Madinah.

Di lokasi yang berjarak sekitar 5 km dari Masjid Nabawi ini, terdapat 70 sahabat Nabi Muhammad SAW yang syahid, termasuk paman Rasulullah, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib.

Makam Sayyidina Hamzah diberi batas atau pagar khusus yang membedakannya dengan makam syuhada lainnya. Kompleks pemakaman dikelilingi oleh pagar tinggi dan tidak jauh dari sana berdiri Masjid Sayyid asy Syuhada untuk para peziarah.

Sekitar 45 menit perjalanan dilanjutkan menuju Kota Makkah. Namun, di tengah perjalanan dipimpin Haji Muslimin dan Hajjah Veby sebagian jemaah sepakat untuk mengunjungi Gua Hiro. Sebagian lagi kembali ke hotel untuk beristirahat lantaran merasa lelah.

Gua Hira terletak di puncak Jabal Nur (Gunung Cahaya), sekitar 4 hingga 7 kilometer di sebelah timur laut Masjidil Haram, Makkah.

Gua bersejarah itu berada di ketinggian sekitar 640 mdpl dan menjadi tempat di mana Nabi Muhammad SAW pertama kali menerima wahyu.

Lokasinya berada di dekat puncak gunung dan memerlukan pendakian dengan waktu tempuh sekitar 45 hingga 60 menit.

Di dalam gua ini, Haji Muslimin menyempatkan diri salat sunah berdoa dan berzikir mengharap ampunan, keselamatan di dunia dan akhirat bagi dirinya, serta keluarganya kepada Sang Pencipta. []

pasang iklan di sini
octa vaganza