
PeluangNews, Jakarta-Berawal dari sepiring dendeng batokok saat berkunjung ke Padang, Sumatra Barat, Guruh menemukan peluang bisnis kuliner yang menjanjikan di Jakarta. Mengandalkan perpaduan daging bakar dan sambal hijau bercita rasa asam-segar, usaha Badendeng kini mampu menjual hingga 100 porsi sehari. Bahkan, cita rasa sambalnya menarik perhatian pengunjung asal Senegal dan membuka peluang pengembangan pasar yang lebih luas.
Di tengah Pangan Nusa Expo 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 14–18 Oktober 2026, Badendeng memperkenalkan dendeng batokok dengan karakter rasa khas Minang. Daging dendeng dibakar di atas wajan panas, diperciki minyak kelapa, lalu disajikan bersama sambal hijau segar yang menjadi andalannya.
Bagi Guruh, pemilik Badendeng yang berdomisili di Jakarta, perjalanan bisnis tersebut bermula dari rasa penasaran. Ia mengaku bukan orang yang gemar jajan atau sembarangan mencoba makanan. Namun, pengalaman mencicipi dendeng batokok di sebuah rumah makan di Padang mengubah pandangannya.
Hal yang paling membekas bukan hanya cita rasa dagingnya, melainkan sambal hijau yang menghadirkan sensasi asam dan segar. Berbeda dari sambal yang biasa ditemuinya di Jakarta, sambal tersebut tidak dimasak sehingga memberikan karakter rasa tersendiri.
“Jadi, yang saya rasakan itu mulai dari dagingnya, kemudian sambalnya itu berbeda dengan di Jakarta karena rasanya asam dan segar. Sambalnya tidak dimasak,” ujar Guruh saat ditemui di Paviliun Pangan Nusa Expo 2026, Jumat (16/10/2026).
Pengalaman tersebut berkembang menjadi ide usaha. Guruh berkenalan dengan juru masak setempat untuk mempelajari sajian dendeng batokok, kemudian membawanya ke Jakarta dengan sejumlah penyesuaian sesuai selera konsumen Ibu Kota.
Sekitar dua tahun lalu, ia membuka gerai pertama di Heritage Square, Kuningan. Selain dendeng batokok, Badendeng menawarkan menu lain, seperti ayam batokok, telur barendo, dan sop iga.
Respons konsumen menjadi modal bagi Guruh untuk mengembangkan usahanya. Melalui penjualan langsung dan daring, Badendeng mampu menjual sekitar 60–100 porsi setiap hari. Capaian tersebut mendorongnya membuka gerai kedua di Bintaro, yang saat wawancara berlangsung baru beroperasi sekitar tiga minggu.
Peluang pengembangan pasar juga terlihat dari pengalaman Guruh selama pameran. Seorang pengunjung asal Semarang yang mencicipi dendeng batokok hingga dua kali kembali untuk menanyakan apakah makanan tersebut bisa dibawa pulang ke kota asalnya.
Pertanyaan itu membuat Guruh mulai mempertimbangkan pengembangan produk siap santap atau ready-to-eat agar dendeng batokok dapat dinikmati konsumen di luar Jakarta. Namun, ia masih mencari cara mengemas sambal hijau agar mampu bertahan selama perjalanan tanpa kehilangan kesegaran dan karakter rasanya.
Tantangan tersebut menjadi penting karena sambal hijau merupakan salah satu pembeda utama Badendeng. Tanpa mempertahankan cita rasa sambal, pengalaman menikmati dendeng batokok dikhawatirkan tidak akan sama.
Potensi pasar di luar negeri pun mulai terlihat. Di tengah rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung bersamaan dengan Pangan Nusa Expo 2026, sambal hijau Badendeng menarik perhatian seorang pengunjung asal Senegal.
Pengunjung tersebut mencicipi hidangan Badendeng dan menyukai sambalnya. Bahkan, ia kembali keesokan harinya untuk menikmati hidangan yang sama.
“Kemarin ada orang Senegal datang ke sini. Dia coba dendeng dan suka sekali dengan sambal hijau kami. Sampai besoknya kembali lagi,” kata Guruh.
Menurut Guruh, pengunjung tersebut menilai sambal hijau racikannya memiliki kemiripan dengan salah satu makanan di negara asalnya. Meski berasal dari tradisi kuliner berbeda, kesamaan karakter rasa itu menciptakan pengalaman yang membuat pengunjung tersebut tertarik. Sambal Badendeng juga memiliki sentuhan rasa kelapa yang didatangkan dari daerah asal untuk menjaga karakter rasanya.
Pengalaman tersebut memberi gambaran bahwa kuliner tradisional Indonesia berpotensi diterima oleh konsumen dari berbagai latar belakang. Meski belum menjadi transaksi ekspor, ketertarikan pengunjung asal Senegal menjadi salah satu respons pasar yang menarik bagi Badendeng.
Pangan Nusa Expo 2026 menjadi pameran kuliner pertama yang diikuti Guruh. Setelah memperoleh informasi mengenai kurasi produk, ia mengirimkan sampel makanan untuk diseleksi hingga akhirnya mendapat kesempatan tampil dalam rangkaian TEI ke-41.
Selama pameran, Badendeng mampu menjual lebih dari 50 porsi dendeng batokok dalam sehari. Bagi Guruh, capaian tersebut bukan hanya soal penjualan, melainkan juga kesempatan untuk membaca selera konsumen, menguji penerimaan produk, dan menjajaki peluang pengembangan usaha.
Dari Jakarta hingga perhatian pengunjung asal Senegal, Badendeng mulai melihat ruang pertumbuhan bagi dendeng batokok. Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas rasa sekaligus menyiapkan produk yang memungkinkan kuliner khas Minang itu menjangkau pasar yang lebih luas.








