
PeluangNews, Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (23/10/2026).
Data Refinitiv mencatat rupiah dibuka di level Rp18.050 per dolar AS, melemah 0,03% atau 5 poin dari penutupan sebelumnya di Rp18.045. Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), rupiah melemah 0,21% atau 38 poin.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan dipicu aksi jual bersih (net sell) investor asing dan kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak Brent naik 4% menjadi US$113,17 per barel, WTI menguat 2,39% menjadi US$99,47 per barel, tertinggi dalam sebulan terakhir.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia memproyeksikan penyaluran kredit baru naik pada kuartal IV-2026. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) diproyeksikan naik menjadi 91,31% dari 90,08% pada kuartal sebelumnya, seiring pelonggaran standar kredit dari 0,28 menjadi 0,15.
BI juga memperpanjang relaksasi LTV/FTV properti hingga 100% dan DP 0% untuk kendaraan bermotor hingga 31 Desember 2027 untuk mendorong kredit. Namun hingga Agustus 2026, KPR masih melambat 4,2% menjadi Rp858,3 triliun, sementara kredit kendaraan terkontraksi 10,3% menjadi Rp127,7 triliun. []







