
Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, Fiona Ritchie, Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Kate
Joyce, Direktur Asia Pasifik, British Council, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. Menteri Agama RI, Prof. Dr. Phil.
Kamaruddin Amin — Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI dan Dr. Fesal Musaad, M.Pd. — Direktur Guru dan
Tenaga Kependidikan Madrasah Kemenag RI
PeluangNews, Jakarta – Sebanyak 6.000 guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) akan mendapat penguatan kompetensi Bahasa Inggris melalui program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP), menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa MI kelas III–VI mulai Juli 2027.
Program hasil kolaborasi British Council dan Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah, Kementerian Agama (Kemenag) RI ini akan menjangkau guru di 34 kota/kabupaten. Pelaksanaannya diawali dengan Training of Trainers (ToT) bagi 68 pemimpin komunitas belajar atau Community of Practice (CoP) Leaders yang nantinya bertugas mendampingi para guru.
Program ini tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran berkelanjutan agar guru dapat meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris dan keterampilan mengajar melalui komunitas profesional.
Country Director Indonesia sekaligus Director Southeast Asia British Council, Summer Xia, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung upaya pemerintah memperkuat pendidikan Bahasa Inggris sejak jenjang dasar.
“Mempersiapkan penerapan wajib Bahasa Inggris di madrasah bukan sekadar perubahan kurikulum. Lebih dari itu, ini adalah upaya membekali para guru agar dapat membuka lebih banyak peluang bagi jutaan anak di seluruh Indonesia,” ujar Summer Xia.
Melalui STEPS-CoP, British Council memadukan keahlian global dengan pengetahuan dan pengalaman pendidik Indonesia untuk membangun model pengembangan profesional yang dapat diperluas dan berkelanjutan.
Menurut Summer, guru perlu didorong untuk saling belajar dan memimpin perubahan di komunitas masing-masing agar semakin banyak siswa memperoleh pendidikan Bahasa Inggris berkualitas, terlepas dari lokasi dan latar belakang mereka.
Salah satu pendekatan utama program ini adalah pembelajaran berbasis komunitas. Guru tidak hanya mengikuti pelatihan dalam sesi tertentu, tetapi juga didorong untuk mendiskusikan tantangan di kelas, bertukar pengalaman, serta mengembangkan praktik pengajaran bersama rekan sejawat.
Sebanyak 68 CoP Leaders akan berperan sebagai fasilitator dan penggerak komunitas belajar di wilayah masing-masing. Mereka akan mendukung pengembangan kapasitas 6.000 guru Bahasa Inggris dan guru kelas MI sekaligus menjaga keberlanjutan proses pembelajaran profesional.
Untuk memetakan kebutuhan pengembangan guru, program ini juga memanfaatkan EnglishScore British Council dan Self-Assessment Tool (SAT). Kedua instrumen tersebut membantu mengidentifikasi kompetensi Bahasa Inggris dan pedagogi guru sehingga pengembangan kapasitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Septriani Nidi, Pengawas Sekolah di Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah Kota Bandar Lampung sekaligus alumni program UK dan salah satu pelatih dalam ToT CoP Leaders, menilai keberlanjutan menjadi faktor penting dalam pengembangan kompetensi guru.
“Guru tidak membutuhkan satu lagi pelatihan yang selesai ketika sesi berakhir. Kami membutuhkan ruang untuk terus belajar setelah kembali ke kelas, untuk mendiskusikan tantangan yang kami hadapi, berbagi praktik yang berhasil, dan belajar dari pengalaman sesama guru,” kata Septriani.
Ia berharap STEPS-CoP dapat membangun komunitas yang membuat guru tidak harus menghadapi tantangan pengajaran sendirian. Dengan demikian, peningkatan kompetensi yang diperoleh dapat dirasakan langsung oleh siswa.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) semester ganjil 2025, terdapat 26.826 Madrasah Ibtidaiyah di seluruh Indonesia. Skala tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan penguatan kapasitas tenaga pendidik untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris di madrasah.
Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menegaskan bahwa penerapan Bahasa Inggris di MI merupakan bagian dari upaya mempersiapkan generasi madrasah menghadapi perkembangan global tanpa meninggalkan nilai dan karakter mereka.
“Penerapan Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah bukan semata-mata penambahan mata pelajaran, tetapi bagian dari ikhtiar mempersiapkan generasi madrasah agar memiliki kemampuan untuk mengakses ilmu pengetahuan dan berinteraksi dengan dunia yang semakin terbuka, tanpa kehilangan akar nilai dan karakter mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, kesiapan guru menjadi salah satu penentu keberhasilan penerapan kebijakan tersebut. Karena itu, guru perlu memperoleh kesempatan untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan saling menguatkan melalui budaya pengembangan profesional yang berkelanjutan.
Summer menegaskan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pelatihan, tetapi juga dukungan pimpinan madrasah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
“Pada akhirnya, program ini bukan sekadar pembekalan untuk guru mengajar Bahasa Inggris, tetapi agar mereka juga dapat membekali murid dengan keterampilan, kepercayaan diri, juga peluang untuk membentuk masa depan mereka,” tutup Summer.








