
PeluangNews, Depok – Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) yang mencapai 80–90% hampir setiap hari mendorong pengembangan kapasitas layanan rawat inap. Bersama ParagonCorp, RSUI meresmikan Ruang Rawat Inap Lantai 9 dengan tambahan 50 tempat tidur untuk memperluas kapasitas perawatan pasien.
Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG, Subsp.Obginsos, mengatakan penambahan fasilitas tersebut merupakan langkah untuk merespons kebutuhan perawatan pasien yang terus berkembang. Pasalnya, tingkat keterisian tempat tidur RSUI saat ini kerap melampaui rentang ideal rumah sakit, yakni 60–80%.
“Kolaborasi antara RSUI dan ParagonCorp merupakan langkah nyata dalam mendukung pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan. Saat ini tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) RSUI mencapai 80–90% hampir setiap hari, sementara rentang ideal BOR rumah sakit berada pada kisaran 60–80%,” ujar Kusuma dalam keterangan tertulis.
Dia berharap kehadiran fasilitas baru tersebut dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak pasien sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan.
Ruang Rawat Inap Lantai 9 RSUI terdiri atas dua wing, yakni Centella dan Olive. Fasilitas ini memiliki 48 tempat tidur Kelas 3 dan dua kamar isolasi, serta dilengkapi ruang tunggu keluarga, mushola, dan toilet pengunjung.
Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan, baik setelah mendapatkan penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun melalui perawatan elektif yang telah direncanakan sebelumnya.
Selain kapasitas layanan, aspek keamanan bangunan turut menjadi perhatian dalam pengembangan ruang rawat inap tersebut. Gedung RSUI dilengkapi bantalan antigempa pada bagian dasar konstruksi yang dirancang untuk menahan guncangan hingga 9,0 skala Richter.
Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E., FINSDV, mengatakan kolaborasi tersebut dilandasi kesamaan visi untuk memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Kami percaya bahwa dampak yang lebih besar dapat diwujudkan ketika berbagai pihak berjalan bersama. Kolaborasi dengan RSUI merupakan salah satu bentuk kontribusi ParagonCorp dalam mendukung pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan,” kata Sari.
Dia berharap fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama di Depok dan sekitarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor swasta penting untuk memperkuat ekosistem universitas yang terintegrasi.
Menurut Heri, sinergi tersebut tidak hanya mendukung pengembangan fasilitas rumah sakit, tetapi juga pendidikan, penelitian, dan inovasi.
“Kolaborasi antara Universitas Indonesia dan ParagonCorp merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan sektor swasta dalam mendukung pengembangan fasilitas serta ekosistem pendidikan, riset, inovasi, dan pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Heri berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat peran RSUI dalam memberikan pelayanan kesehatan sekaligus mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.
Pengembangan ruang rawat inap ini menjadi bagian dari perjalanan RSUI sebagai rumah sakit pendidikan Universitas Indonesia yang mengintegrasikan pelayanan kesehatan, pendidikan, penelitian, dan inovasi.
RSUI memulai pembangunan melalui peletakan batu pertama pada 2013. Pelayanan kemudian dibuka secara bertahap pada 2018, sebelum rumah sakit tersebut mulai melayani masyarakat umum pada 2019. Pada 2024, RSUI ditetapkan sebagai rumah sakit kelas A.
Melalui penambahan kapasitas rawat inap ini, RSUI dan ParagonCorp berharap dapat memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan perawatan pasien secara berkelanjutan.








