
PeluangNews, Jakarta — Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong masyarakat meningkatkan literasi digital dan memahami risiko perdagangan berjangka komoditi (PBK) agar mampu mengambil keputusan transaksi secara bijak. Penguatan pemahaman tersebut dinilai penting di tengah kemudahan akses perdagangan digital dan maraknya tawaran keuntungan yang tidak realistis.
Dorongan itu disampaikan Budi Santoso saat membuka Bulan Literasi PBK 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Mengusung tema “Smart Traders, Wise Choices: Navigating Commodity Futures in the Digital Era”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Perdagangan memperluas pemahaman masyarakat mengenai perdagangan berjangka komoditi.
Mendag yang akrab disapa Busan menegaskan, perkembangan teknologi harus diimbangi kemampuan masyarakat dalam memahami instrumen perdagangan, mengenali risiko, dan menilai tawaran investasi secara kritis.
“Transformasi digital telah mempermudah akses masyarakat terhadap informasi dan instrumen perdagangan. Masyarakat perlu menjadi digital traders sekaligus smart traders yang membekali diri dengan penguatan literasi. Traders yang cerdas mampu mengambil keputusan bijak dan tidak mudah tergiur janji keuntungan,” ujar Mendag Busan.
Menurutnya, PBK memiliki peran dalam mendukung perekonomian nasional melalui instrumen lindung nilai (hedging), pembentukan referensi harga (price discovery and price reference), serta diversifikasi investasi. Pengembangan sektor ini diharapkan dapat memperkuat ekonomi digital Indonesia melalui akses perdagangan komoditas pertanian, energi, dan berbagai komoditas unggulan.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya, menambahkan bahwa pertumbuhan industri PBK harus diiringi penguatan literasi, pengawasan, dan perlindungan masyarakat.
Penguatan pemahaman tersebut juga mencakup implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UUP2SK).
“Bappebti bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi, pengawasan, hingga perlindungan masyarakat. Upaya ini untuk membangun industri PBK yang aman, sehat, transparan, berintegritas, dan berdaya saing,” ujar Tirta.
Di tengah penguatan literasi dan pengawasan, industri PBK mencatat pertumbuhan volume transaksi. Bappebti mencatat total volume transaksi PBK sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai 10,35 juta lot, meningkat 9,4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 9,46 juta lot.
Khusus periode Juli–Agustus 2026, jumlah nasabah aktif tercatat sebanyak 183 ribu nasabah.
Sementara itu, pasar fisik emas digital mencatat volume transaksi sebesar 115,9 ton dengan nilai mencapai Rp299,5 triliun. Nilai transaksi tersebut meningkat 641,1 persen. Transaksi timah murni batangan dan kontrak sertifikat energi terbarukan (Renewable Energy Certificate/REC) juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah komoditas yang aktif diperdagangkan dalam PBK meliputi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), olein, kakao, kopi, dan emas.
Indonesia juga memiliki peluang pengembangan perdagangan komoditas strategis, antara lain karet, kopra, kedelai, jagung, dan teh dari sektor pertanian dan perkebunan. Dari sektor pertambangan dan energi, komoditas potensial mencakup nikel, batu bara, dan perak, serta produk perikanan dan kelautan. Pemanfaatan kontrak multilateral berbasis komoditas strategis dinilai dapat mengoptimalkan kinerja PBK nasional.
Selain mendorong literasi, Kemendag melalui Bappebti memperkuat pengawasan transaksi, keuangan, dan kepatuhan, termasuk pemenuhan ketentuan Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU PPT).
Pengawasan juga dilakukan terhadap aktivitas perdagangan ilegal. Sepanjang Januari–September 2026, pemerintah melalui Bappebti telah memblokir 812 situs perdagangan ilegal.
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem PBK yang aman sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali risiko dan menghindari praktik perdagangan ilegal.
Bulan Literasi PBK 2026 merupakan penyelenggaraan tahun keempat oleh Bappebti. Kegiatan pembukaan diikuti 300 peserta secara daring dan luring, dengan melibatkan para pemangku kepentingan dalam ekosistem PBK, termasuk bursa, lembaga kliring, dan Badan Arbitrase Perdagangan Berjangka Komoditi (BAKTI).
Rangkaian kegiatan berlangsung hingga 8 November 2026 melalui seminar daring dan luring, gelar wicara (talkshow), siniar (podcast), sosialisasi “Trading Goes to Campus”, serta penyampaian informasi terkini PBK (market update).
Program literasi tersebut digelar di lima kota, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Bappebti menargetkan rangkaian kegiatan ini menjangkau 1,5 juta peserta dari kalangan masyarakat umum, pelaku usaha, mahasiswa, dan pemangku kepentingan.
Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Erma Rini, mengapresiasi penyelenggaraan Bulan Literasi PBK 2026. Ia menilai peningkatan pemahaman masyarakat mengenai PBK semakin penting di tengah kemudahan transaksi digital.
“Kami berharap, Bulan Literasi PBK 2026 dapat menjadi sarana untuk memperluas pemahaman masyarakat, memperkuat tanggung jawab pelaku usaha, dan meningkatkan kualitas perlindungan nasabah,” ujar Anggia.
Dari kalangan mahasiswa, Kesya Rizki Az Zahra, mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Mercu Buana yang mengikuti kegiatan tersebut, berharap program literasi ini dapat memperluas pemahamannya mengenai perdagangan berjangka.
“Harapannya, saya bisa mendapat wawasan yang lebih luas mengenai cara trader bekerja di era digital,” ujar Kesya.
Direktur PT Sentra Arta Maxima, Fridericus Wishnubroto, yang hadir mewakili pelaku usaha penyelenggara sistem perdagangan alternatif dalam industri PBK, juga menilai kegiatan literasi memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman masyarakat.
“Untuk memajukan PBK, bulan literasi ini menjadi sesuatu yang sangat penting. Melalui Bulan Literasi PBK 2026, kami harap PBK makin luas dikenal dan dipahami masyarakat,” ujar Fridericus.
Dalam kesempatan yang sama, Bappebti memberikan penghargaan Satya Niyama kepada pelaku usaha yang berkomitmen menerapkan tata kelola yang jujur, transparan, dan patuh terhadap regulasi PBK.
Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog literasi PBK yang menghadirkan Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan PBK Bappebti Ima Siti Fatimah; Ketua Umum Asosiasi Perdagangan Berjangka Komoditi Indonesia (Aspebtindo) Zulfan Syaiful Bahri; Direktur PT Bursa Berjangka Jakarta Syarifah Nuly Nazlia; Direktur Utama PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia Nursalam; serta Direktur Utama PT Indobursa Karisma Berjangka Agung Rihayanto.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, pemerintah berupaya memperkuat pemahaman masyarakat mengenai peluang dan risiko PBK sekaligus mendorong tata kelola industri yang transparan dan bertanggung jawab. Peningkatan literasi diharapkan berjalan seiring dengan pertumbuhan transaksi, efektivitas pengawasan, dan perlindungan nasabah dalam menghadapi perkembangan perdagangan digital.








