hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Ekspor RI Tumbuh, Surplus Nonmigas Capai USD19,35 Miliar

Gedung Kmenterian Perdagangan/ Istimewa – peluangnews

PeluangNews, Jakarta – Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih menunjukkan daya tahan di tengah dinamika ekonomi global. Meski neraca perdagangan pada Juni 2026 mencatat defisit sebesar USD450 juta akibat tekanan sektor migas, surplus perdagangan nonmigas sebesar USD3,04 miliar tetap menjadi penopang utama yang mencerminkan kuatnya daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Kementerian Perdagangan mencatat, surplus nonmigas tersebut mampu mengimbangi defisit perdagangan migas yang mencapai USD3,49 miliar. Secara kumulatif, sepanjang Semester I 2026 Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD3,58 miliar, ditopang surplus perdagangan nonmigas sebesar USD19,35 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit sebesar USD15,77 miliar.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan penguatan kinerja ekspor nonmigas menjadi modal penting bagi ketahanan perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Penguatan ekspor nonmigas menjadi bukti tetap terjaganya daya saing produk Indonesia. Pemerintah akan terus memperluas akses pasar, memperkuat promosi dagang, serta mengoptimalkan berbagai perjanjian perdagangan agar kinerja ekspor terus meningkat,” ujar Mendag Busan.

Pada Juni 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat sebesar USD25,46 miliar, meningkat 9,72 persen dibandingkan Mei 2026 (month to month/MoM) dan tumbuh 8,84 persen dibandingkan Juni 2025 (year on year/YoY).

Peningkatan tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai USD24,39 miliar atau naik 8,68 persen secara bulanan dan tumbuh 9,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kinerja pada Juni turut mendorong pertumbuhan ekspor nasional sepanjang Semester I 2026. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia mencapai USD140,81 miliar atau meningkat 4,13 persen dibandingkan Semester I 2025 (cumulative to cumulative/CtC). Sementara ekspor nonmigas mencapai USD134,58 miliar atau tumbuh 4,90 persen.

Sektor industri pengolahan kembali menjadi motor utama ekspor nasional dengan kontribusi mencapai 82,02 persen terhadap total ekspor selama Semester I 2026. Sementara sektor pertambangan dan lainnya berkontribusi 11,71 persen, sektor migas 4,43 persen, dan sektor pertanian 1,84 persen.

Industri pengolahan juga menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif pada periode tersebut. Nilai ekspornya meningkat 7,37 persen menjadi USD115,50 miliar dari USD107,57 miliar pada Semester I 2025.

Sebaliknya, sektor pertanian mengalami kontraksi 22,55 persen menjadi USD2,59 miliar, sektor migas turun 10,11 persen menjadi USD6,23 miliar, sedangkan sektor pertambangan dan lainnya melemah 5,12 persen menjadi USD16,49 miliar.

Dari sisi komoditas, pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi pada Semester I 2026 berasal dari aluminium dan barang daripadanya (HS 76) yang melonjak 73,93 persen. Selanjutnya nikel dan barang daripadanya (HS 75) tumbuh 62,27 persen, bahan kimia organik (HS 29) naik 31,93 persen, serta tembaga dan barang daripadanya (HS 74) meningkat 29,03 persen.

Sementara itu, Tiongkok masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai USD34,56 miliar atau berkontribusi 25,68 persen terhadap total ekspor nonmigas. Posisi berikutnya ditempati Amerika Serikat sebesar USD15,82 miliar dan India USD9,25 miliar. Ketiga negara tersebut menyumbang 44,31 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia.

Adapun dari sisi pertumbuhan, ekspor nonmigas ke Hong Kong meningkat 39,12 persen, disusul Kamboja 31,42 persen dan Thailand 19,35 persen secara kumulatif Semester I 2026. Kinerja positif juga tercatat pada kawasan Asia Tengah, Asia Timur, Afrika Barat, Eropa Timur, dan Afrika Selatan.

Menurut Budi Santoso, capaian ekspor tersebut menjadi sinyal positif memasuki paruh kedua tahun ini.

“Pertumbuhan ekspor pada Juni menjadi sinyal positif memasuki semester II 2026. Kami akan terus memperkuat penetrasi ke pasar-pasar utama sekaligus membuka peluang di pasar nontradisional agar ekspor Indonesia semakin berkelanjutan,” ungkapnya.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Juni 2026 mencapai USD25,91 miliar atau meningkat 4,41 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 34,27 persen dibandingkan Juni 2025. Secara kumulatif, impor Semester I 2026 mencapai USD137,24 miliar atau tumbuh 18,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut didorong impor migas yang meningkat 38,71 persen menjadi USD22 miliar serta impor nonmigas yang tumbuh 15,50 persen menjadi USD115,23 miliar.

Dari struktur penggunaannya, impor masih didominasi bahan baku dan barang penolong dengan kontribusi 71,37 persen terhadap total impor. Selanjutnya barang modal menyumbang 19,94 persen dan barang konsumsi sebesar 8,69 persen.

“Komposisi tersebut menunjukkan impor Indonesia masih didominasi kebutuhan untuk mendukung aktivitas produksi dan investasi,” kata Mendag Busan.

Selama Semester I 2026, impor bahan baku dan barang penolong meningkat 18,38 persen menjadi USD97,95 miliar. Impor barang modal tumbuh 20,50 persen menjadi USD27,36 miliar, sedangkan impor barang konsumsi naik 17,13 persen menjadi USD11,93 miliar.

Menurut Budi Santoso, peningkatan impor perlu dipandang sebagai refleksi meningkatnya aktivitas ekonomi nasional karena sebagian besar digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri dan investasi.

“Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri dengan upaya memperkuat ekspor sehingga neraca perdagangan tetap sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Berdasarkan komoditas, kenaikan impor nonmigas terbesar terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) yang melonjak 655,65 persen, disusul garam, belerang, batu dan semen (HS 25) sebesar 87,69 persen, serta bijih logam, terak dan abu (HS 26) yang naik 57,07 persen.

Sementara itu, Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar Indonesia dengan nilai USD48,82 miliar atau berkontribusi 42,37 persen terhadap total impor nonmigas. Jepang berada di posisi kedua dengan nilai USD6,41 miliar, diikuti Australia sebesar USD5,71 miliar.

Adapun pertumbuhan impor nonmigas tertinggi berasal dari Meksiko yang melonjak 227,73 persen, Perancis 177,74 persen, dan Spanyol 81,67 persen secara kumulatif Semester I 2026.

pasang iklan di sini
octa vaganza