hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
UMKM  

Dari Usaha Kecil hingga Tembus Pasar Ekspor, Kisah Diaspora NTT Besarkan Bisnis Interior

Bisnis interior milik pasangan suami istri diaspora asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali, Markus Umbu Tara dan Modesta Panyongang. Foto: Dok istimewa
Bisnis interior milik pasangan suami istri diaspora asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali, Markus Umbu Tara dan Modesta Panyongang. Foto: Dok istimewa

PeluangNews, Bali – Merintis usaha dari nol di tanah rantau menjadi tantangan yang dihadapi Markus Umbu Tara dan istrinya, Modesta Panyongang.

Pasangan diaspora asal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini memulai bisnis interior dan furnitur di Bali pada tahun 2000 dengan modal kerja keras, ketekunan, serta kemauan terus belajar mengelola usaha.

Selama lebih dari dua dekade, mereka memperkuat fondasi bisnis melalui peningkatan literasi keuangan, menjaga kualitas produk, membangun komunikasi yang baik dengan pelanggan, serta mengikuti tren pasar.

Pemanfaatan media sosial seperti Facebook dan Instagram juga menjadi strategi untuk memperluas jangkauan pemasaran hingga pesanan terus berdatangan melalui jaringan relasi.

Momentum pertumbuhan usaha terjadi pada 2022 setelah pasangan tersebut bergabung sebagai anggota KSP Kopdit Pintu Air. Dukungan permodalan dari koperasi dimanfaatkan untuk memperbesar kapasitas usaha dengan menambah showroom dan fasilitas produksi.

“Bergabung dengan Pintu Air memberikan dampak nyata bagi UMKM kami. Dari awalnya kami hanya memiliki satu toko, kini kami berhasil memperluas usaha dengan menambah satu showroom khusus untuk produk sofa, serta satu gudang tambahan yang didedikasikan sepenuhnya untuk proses manufaktur sofa kami,” ujar Modesta.

Ekspansi tersebut turut meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka lapangan kerja. Saat ini, usaha mereka mempekerjakan 10 karyawan tetap yang memperoleh upah sesuai standar UMR. Karyawan dengan masa kerja lebih lama juga mendapatkan insentif di atas UMR sebagai bentuk apresiasi perusahaan.

Tidak hanya melayani pasar ritel, bisnis yang dirintis Markus dan Modesta kini menjadi pemasok dekorasi interior, sofa, dan bantal untuk jaringan hotel serta vila di Bali. Produk buatan mereka bahkan telah dipasarkan ke luar negeri melalui jalur ekspor.

Dari sektor ritel bantal saja, omzet usaha mencapai sekitar Rp100 juta per bulan. Penjualan harian berkisar Rp2 juta hingga Rp10 juta, belum termasuk pendapatan dari proyek pengadaan untuk hotel dan vila.

Modesta menilai akses pembiayaan koperasi menjadi salah satu faktor penting yang mendorong perkembangan usaha. Namun, menurutnya, keberhasilan memanfaatkan pinjaman tetap bergantung pada komitmen anggota dalam mengelola keuangan dan memenuhi kewajiban pembayaran.

“Jangan takut untuk meminjam, karena ini adalah sarana kita untuk bertumbuh. Namun, yang paling penting adalah menjaga komitmen untuk mengembalikannya secara tepat waktu, karena itu adalah uang bersama milik anggota koperasi yang harus bergulir,” tegasnya.

Setelah melunasi pinjaman yang sedang berjalan, pasangan tersebut berencana mengajukan pembiayaan yang lebih besar untuk memperluas penetrasi pasar internasional.

Sementara itu, Ketua Komite KSP Kopdit Pintu Air Cabang Bali, Fransisko Nurak Palasa, mengatakan pendampingan kepada anggota tidak berhenti pada pencairan pinjaman. Koperasi secara rutin memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan usaha dan kedisiplinan dalam membayar angsuran.

“Setelah kami memberikan pinjaman, kami selalu mendampingi anggota tersebut secara rutin dengan memberikan edukasi tentang bagaimana mengelola keuangan dalam berbisnis, serta memberikan bimbingan untuk pengembalian angsuran secara disiplin,” papar Fransisko.

Menurutnya, disiplin dalam mengelola keuangan serta konsistensi memenuhi kewajiban angsuran menjadi faktor utama yang membuat usaha Markus dan Modesta mampu berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

pasang iklan di sini
octa vaganza