
PeluangNews, Jakarta-Produk boga bahari Indonesia mencuri perhatian pasar Jepang. Dalam ajang The 28th Japan International Seafood & Technology Expo (JISTE) 2026 di Tokyo, pelaku usaha Indonesia mencatat potensi transaksi mencapai USD 198,33 juta atau sekitar Rp3,49 triliun.
Peluang tersebut menjadi sinyal kuat besarnya permintaan pasar Jepang terhadap produk perikanan Indonesia, mulai dari tuna, gurita, udang hingga berbagai produk hasil laut olahan.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Fajarini Puntodewi mengatakan capaian tersebut mencerminkan tingginya daya saing produk perikanan Indonesia di pasar Jepang.
“Potensi transaksi pada JISTE 2026 menunjukkan tingginya daya saing produk perikanan Indonesia di Jepang. Peluang nyata ini dapat terus dimanfaatkan oleh pelaku usaha Indonesia, termasuk dengan mengoptimalkan implementasi Protokol Perubahan IJEPA,” ujar Fajarini.
Menurut dia, implementasi Protokol Perubahan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) semakin membuka peluang ekspor produk ikan olahan Indonesia melalui kebijakan tarif nol persen.
Peluang pasar tersebut terlihat dari hasil business matching yang mempertemukan eksportir Indonesia dengan buyer Jepang selama pameran. Tuna dalam berbagai bentuk dan olahan menjadi produk dengan potensi transaksi terbesar.
Selain tuna, sejumlah produk laut lainnya juga mendapat respons positif dari buyer Jepang. Di antaranya gurita, ikan kisu, udang goreng atau ebi fry, cakalang, rajungan, cumi-cumi, sotong, olahan ikan teri atau chirimen, telur ikan (tobiko), hingga bulu babi (uni).
Duta Besar RI untuk Jepang Nurmala Kartini Sjahrir mengatakan implementasi Protokol Perubahan IJEPA yang memberikan tarif nol persen bagi produk ikan olahan Indonesia telah memperluas akses pasar di Negeri Sakura.
Menurutnya, sektor perikanan menjadi salah satu pilar penting dalam hubungan ekonomi Indonesia dan Jepang. Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan kemampuan eksportir menjaga kepercayaan buyer.
“Untuk menjaga kepercayaan mitra Jepang, pelaku usaha Indonesia perlu menunjukkan komitmen, konsistensi, dan kontinuitas pasokan. Kepercayaan dari mitra Jepang dibangun tidak hanya dari kualitas produk, tetapi juga dari keandalan dan transparansi dalam memenuhi komitmen,” ujar Kartini.
JISTE 2026 yang digelar di Tokyo Big Sight, Tokyo, pada 19-21 Agustus 2026 diikuti sekitar 700 perusahaan dari 19 negara. Pameran tersebut juga mencatat 30.091 pengunjung, naik 7,73 persen dibandingkan 27.932 pengunjung pada JISTE 2025.
Indonesia turut memperkuat kehadirannya melalui Paviliun Indonesia seluas 72 meter persegi yang diikuti 14 perusahaan. Keikutsertaan tersebut merupakan hasil kolaborasi Kementerian Perdagangan melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Osaka dan Atase Perdagangan Tokyo, KBRI Tokyo, BNI, BRI, serta ASEAN-Japan Centre.
Tak sekadar menghasilkan penjajakan bisnis, keikutsertaan Indonesia juga melahirkan kerja sama konkret. PT Nirvana Niaga Sejahtera menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan Jepang, Godai Co., Ltd., untuk pengembangan produk sashimi-grade yellowfin tuna loin.
Kerja sama tersebut memiliki potensi transaksi USD 9,6 juta atau sekitar Rp169,25 miliar dan merupakan tindak lanjut dari pertemuan bisnis kedua perusahaan pada JISTE 2025.
Manajer Pengembangan Bisnis PT Nirvana Niaga Sejahtera Andi Faisal menilai keikutsertaan dalam JISTE untuk kedua kalinya memberikan dampak positif terhadap ekspansi pasar perusahaan di Jepang.
“JISTE 2026 sangat efektif memperkuat penetrasi pasar kami di Jepang, baik melalui MoU dengan Godai Co., Ltd. maupun penjajakan dengan empat calon buyer baru,” kata Andi.
Kepala ITPC Osaka Didit Akhdiat mengatakan pihaknya akan terus memperkuat promosi produk unggulan Indonesia, termasuk komoditas perikanan, melalui pemasaran, fasilitasi perdagangan, dan perluasan jejaring dengan buyer Jepang.
“Kami harap, upaya ini dapat membuka akses pasar dan peluang bisnis, serta mengoptimalkan manfaat Protokol Perubahan IJEPA bagi pelaku usaha kedua negara,” papar Didit.








