Kekuatan utama ekonomi Kota Pariwisata dan MICE ini bertumpu di konsumsi rumah tangga, UMKM fesyen, F&B, dan ekonomi kreatif. Oleh-oleh dari sini kaya ragam. Dari Kartika Sari, ambengan, brownies kukus, hingga baju brand lokal murah.

Arsitektur kolonial Belanda di Jalan Braga, Gedung Sate, Bank Indonesia, Villa Isola. Berbagai bangunan art-deco 1920–an bernuansa Eropa masih berdiri utuh. Itu yang bikin Bandung berbeda dari kota-kota lain di Pulau Jawa. Semasa kolonial, ia disebut Paris van Java. Dikenal juga dengan nama Kota Kembang, selanjutnya Kota Pendidikan dan Kota Kreatif.
Bandung juga pusat industri dan kuliner. Dari factory outlet, distro, sampai jajan jalanan. Menu wajib dicoba antara lain: batagor kingsley, seblak, cimol, colenak, surabi. Tak salah jika disebut Bandung surganya jajanan dan belanja murah. Selalu hadir menu baru tiap kita berkunjung ke sana. Kafe, galeri, startup, brand lokal tumbuh subur di sini. Hampir semua fashion brand Indonesia lahir dari Bandung.
Terletak di ketinggian 768 meter dpl dengan luas wilayah 167,67 km². Nama Bandung berasal dari kata “bendung” karena dulunya aliran Sungai Citarum tertahan oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu. Iklimnya sejuk pegunungan karena dikelilingi Gunung Tangkuban Perahu, Patuha, Papandayan. Suhu 18-24°C. Makanya jadi tujuan “healing” warga Jakarta sejak zaman dulu. Makin terasa nyaman saat mendengar percakapan warga dalam bahasa Sunda yang halus. Meski traffic sehari-hari macet, urang Bandung terkenal kalem dan cenderung tetap santai.
Di jalanan Dago dan sekitarnya, hujan jadi ciri khas. Hampir tiap sore hujan. Membawa payung dan jaket jadi suatu keharusan. Pada akhir pekan, suasananya sangat ramai cenderung berdesakan. Akses ke wilayah ini pun macet di mana-mana. Sehingga, waktu terbaik Anda berkunjung adalah pada hari kerja.
Untuk dapatkan kesan khusus, menyewa motor lebih enak buat keliling Lembang, bawa jaket tebal, payung, powerbank. Misalnya untuk rute tiga hari. Hari pertama: Kota – Braga – Gedung Sate. Hari kedua: Lembang – Tangkuban – Floating Market. Hari ketiga: Ciwidey – Kawah Putih – Ranca Bali. Singkatnya: Bandung itu kota yang bisa ngasih Anda sejarah, alam, kuliner, dan gaya hidup sekaligus. Logis jika sejak jaman Belanda sampai sekarang ia jadi destinasi wisata favorit.
Jika dulunya Bandung jadi lokasi kampus teknik pertama, di zaman Hindia Belanda (kini ITB), kini kota metropolitan terbesar ketiga di Tanah Air. Posisi dan identitas yang melekat pada dirinya dewasa ini adalah kota jasa, kreatif, dan pariwisata. Bukan kota industri berat lagi. Ekonomi tumbuh 5,3% di awal 2026. Pemkot menargetkan bisa kembali ke level pra-Covid sebesar 7,6%. Faktor pendorong lain event besar seperti Pocari Sweat Run, Asia Africa Festival, Bandung Kota Angklung, Bazar UMKM. Saat Nataru, hunian hotel pusat kota terisi 100%.
Kekuatan utama ekonomi di konsumsi rumah tangga, UMKM fesyen, F&B, dan ekonomi kreatif. Kota Pariwisata dan MICE. Oleh-oleh dari sini kaya ragam. Sebut saja Kartika Sari, ambengan, brownies kukus, baju brand lokal murah; Saung Angklung Udjo untuk belajar angklung dan pertunjukan tari; dan Sunda Pasar Baru Trade Center untuk tekstil dan konveksi termurah; plus Museum Geologi yang bangunannya cantik dan edukatif.
Pemkot fokus event buat dongkrak pajak hotel dan restoran. Tantangan 2026 dan ke depanya tentulah mengejar pertumbuhan 8% agar sama seperti capaian prapandemi. Mesin utamanya: belanja, makanan, nginap, dan event. Ditopang keuangan, properti, dan anak muda kreatif dari kampus. Pemkot optimis 2026 ekonomi Jabar bisa 5,5%-6% dan Bandung jadi lokomotifnya karena konsumsi rumah tangga kuat.
Jangan pernah lupa, bahkan ini ikon sejarah paling fenomenal, di Bandung-lah diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika, 18-24 April 1955. Bayangkan peristiwa sebesar itu—yang melibatkan 29 negara, dihadiri kepala negara, kepala pemerintahan atau menlu—digelar pada saat Republik muda belia: baru 10 tahun. Pertemuan itu melahirkan prinsip Dasasila Bandung (melawan penjajahan) itu dilaksanakan di Gedung Merdeka. Dari 29 negara itu, beberapa di antaranya kini sudah menjadi negara besar, yakni India, Cina, Jepang, Mesir, Pakistan, dan lain-lain.●





