
PeluangNews, Jakarta — Sampah yang selama ini dianggap sebagai barang tak berguna justru bisa memiliki nilai baru. Hal itu yang coba dibuktikan Maybank Indonesia melalui gerakan Balikbaik, sebuah program yang tidak hanya mengajak masyarakat memilah sampah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai guna dan berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Program tersebut menjadi bagian dari Maybank Global Corporate Responsibility Day (Global CR Day) 2026 yang digelar serentak di 18 negara. Di Indonesia, gerakan Balikbaik dimulai dari lingkungan sekolah dengan melibatkan siswa, guru, relawan, komunitas, hingga karyawan Maybank.
Direktur Human Capital Maybank Indonesia Irvandi Ferizal mengatakan, nama Balikbaik dipilih untuk menggambarkan semangat mengembalikan sesuatu yang dianggap tidak berguna menjadi sesuatu yang bermanfaat.
“Namanya adalah Balikbaik. Nama ini sederhana, tetapi memiliki makna yang kuat. Artinya, bagaimana sesuatu yang sebelumnya kita anggap tidak berguna bisa kita kembalikan menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat,” ujar Irvandi dalam kegiatan Global CR Day 2026 di SDN 08 Ragunan, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Irvandi, persoalan sampah di Indonesia tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengangkut dan membuangnya. Perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci, terutama dengan membangun kebiasaan memilah sampah sejak usia sekolah.
Karena itu, Maybank memperkenalkan konsep upcycling, yakni mengolah kembali barang yang sudah tidak digunakan menjadi material atau produk baru yang memiliki nilai lebih tinggi.
Dalam kegiatan tersebut, sekitar 300 tumbler bekas yang dikumpulkan dari karyawan Maybank diolah menjadi instalasi yang memiliki nilai guna. Langkah itu sekaligus menjadi contoh konkret kepada siswa bahwa barang bekas tidak selalu harus berakhir sebagai sampah.
“Ini tidak hanya masalah pengolahan sampah, tapi bagaimana sampah-sampah plastik bisa kita olah kembali menjadi material pascakonsumsi, menjadi produk baru yang bisa digunakan, memberi manfaat sosial, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Gerakan tersebut memiliki skala yang cukup luas. Tahun ini, Global CR Day di Indonesia digelar di 66 titik dengan melibatkan sekitar 1.800 Maybankers dan menjangkau lebih dari 3.250 siswa sekolah dasar.
Khusus di SDN 08 Ragunan, kegiatan melibatkan 50 relawan Maybankers, 20 guru, dan sekitar 150 siswa. Maybank juga menyiapkan pendampingan terhadap enam sekolah binaan melalui program Cahaya Kasih yang akan berjalan selama dua tahun.
Irvandi menegaskan, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari banyaknya sekolah atau peserta yang terlibat. Yang lebih penting adalah terbentuknya kebiasaan baru di tengah masyarakat.
“Yang lebih penting bagi kami, makin banyak orang yang bisa kita ajak memahami bagaimana kita menjaga lingkungan, mulai dari hal-hal sederhana dan kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.
Head of Sustainability Maybank Indonesia Maria Triffany Fransiska mengatakan, Balikbaik memang dirancang sebagai program jangka panjang. Maybank ingin membawa isu pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular menjadi bagian dari aktivitas sekolah dan masyarakat selama dua tahun ke depan.
“Harapannya ini bukan sekadar tema yang cuma satu hari, habis itu selesai. Tapi tema ini yang akan kita bawa selanjutnya ke depan,” tambah Maria.
Dia menjelaskan, sekolah binaan nantinya diarahkan menjadi impact hub yang mempertemukan siswa, guru, komunitas, orang tua, dan Maybank. Selain edukasi lingkungan, kegiatan tersebut akan dikembangkan dengan pemanfaatan teknologi untuk memantau dampak program.
Yang menarik, Maybank juga ingin membawa pengelolaan sampah lebih jauh dari sekadar persoalan lingkungan. Produk hasil pengolahan sampah diharapkan memiliki nilai ekonomi dan dapat masuk ke akses pasar.
“Value-value ini yang nanti juga bisa dijual, baik kepada pelanggan-pelanggan kami, atau bahkan bisa kami adopsi sebagai bentuk merchandise kami,” papar Maria.
Dengan pendekatan tersebut, Maybank ingin membangun pemahaman bahwa sampah bukan hanya persoalan yang harus disingkirkan, tetapi juga sumber daya yang masih memiliki nilai apabila dikelola dengan tepat.
Gerakan itu pun dimulai dari lingkungan paling dekat dengan anak-anak. Maybank berharap siswa membawa kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari sekolah ke rumah, kemudian menularkannya kepada keluarga dan lingkungan sekitar.
“Mulai dari diri kita sendiri, dari bagaimana kita menggunakan, memilah dan memberi kembali nilai pada barang yang ada di sekitar kita,” jelas Irvandi.








