
PeluangNews, Jakarta – Ekonom Senior INDEF Didik J. Rachbini memprediksi nilai tukar rupiah akan sulit menguat, bahkan terus melemah hingga lima tahun mendatang. Dia pesimistis kondisi tersebut dapat berubah karena persoalan yang membebani rupiah bersifat struktural dan tidak cukup diatasi hanya melalui kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Indonesia memang memiliki pasar domestik yang besar, sayangnya menurut dia kekuatan tersebut belum didukung oleh struktur ekonomi yang kuat di sektor luar negeri.
“Pasar domestik yang besar tidak menjamin ekonomi menjadi kuat setidaknya dilihat dari nilai tukar mata uangnya. Indonesia sudah tergolong sebagai ekonomi skala besar dengan pasar domestik yang besar pula. Namun dengan skala ekonomi besar tersebut, mata uangnya tidak pernah bisa menguat karena begitulah struktur ekonomi Indonesia terbentuk, lemah dalam sektor luar negerinya,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Peluang, Minggu (30/8/2026).
Menurut dia, perekonomian Indonesia selama ini terlalu mengandalkan pasar domestik atau berorientasi ke dalam (inward looking). Kondisi tersebut membuat kegiatan ekonomi menghasilkan perputaran rupiah dalam negeri, tetapi belum cukup kuat menghasilkan devisa.
“Untuk menjadikan nilai tukar stabil dan kuat, maka orientasi kebijakan harus diubah menjadi berorientasi keluar (outward looking). Indonesia memerlukan lebih banyak transaksi bisnis yang memperoleh pendapatan signifikan dari luar negeri, bukan hanya dari konsumen domestik,” ujarnya.
Didik mengatakan besarnya jumlah penduduk dan pasar domestik membuat pelaku usaha nasional dapat tumbuh tanpa harus memiliki orientasi kuat untuk memasuki pasar internasional. Padahal, ekspor dan kegiatan ekonomi yang berorientasi keluar diperlukan untuk memperkuat pasokan devisa.
Ekonomi domestik yang sangat dominan diyakininya hanya menghasilkan lebih banyak perputaran rupiah. Sementara itu, ekonomi perlu mengembangkan kebijakan ekonomi yang berbasis ekspor yang akan mendatangkan cadangan devisa dolar yang besar.
Ia menilai BI memang memiliki instrumen untuk menjaga stabilitas rupiah, salah satunya melalui kebijakan suku bunga. Namun, kebijakan tersebut memiliki keterbatasan.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, suku bunga dapat dinaikkan untuk menjaga daya tarik aset Indonesia bagi investor. Sebaliknya, penurunan suku bunga untuk mendorong investasi berisiko mendorong investor beralih ke aset berbasis dolar AS.
“Kebijakan konservatif yang sederhana hanya dengan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat,” ujarnya.
Menurut Didik, kebijakan moneter tidak dapat menyelesaikan berbagai persoalan struktural yang memengaruhi daya saing ekonomi Indonesia.
“Faktor lain yang berasosiasi dengan investasi dan produksi tidak mendukung, seperti kepercayaan terhadap hukum rendah, korupsi, dan sektor luar negeri lemah karena daya saing rendah,” katanya.
Ia menilai investasi asing, yang seharusnya menjadi salah satu sumber masuknya devisa, juga menghadapi berbagai kendala. Investor global, menurut dia, memiliki banyak pilihan negara tujuan investasi.
“Indonesia sangat membutuhkan modal asing karena investasi tersebut mendatangkan dana segar devisa bagi Indonesia. Tetapi investor memiliki banyak pilihan pasar berkembang lainnya,” ujarnya.
Selain investasi, Indonesia masih mengandalkan penerimaan devisa dari ekspor komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel. Namun, penerimaan dari sektor tersebut sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga global.
Ketika harga komoditas turun, penerimaan devisa ikut tertekan. Sementara itu, Indonesia tetap membutuhkan dolar untuk membiayai impor barang modal dan bahan baku serta berbagai transaksi internasional.
Didik menilai kondisi tersebut membuat rupiah tetap rentan terhadap tekanan, meskipun ekonomi Indonesia terus tumbuh.
“Dengan kondisi seperti ini, nilai tukar rupiah sangat rentan dan tidak perlu krisis untuk menjadikan rupiah lemah dengan sendirinya,” katanya.
Menurut dia, tantangan terbesar bagi rupiah ke depan adalah meningkatkan kapasitas ekonomi untuk menghasilkan devisa secara berkelanjutan melalui ekspor, investasi, pariwisata, dan berbagai aktivitas ekonomi internasional lainnya.
Pergantian kepemimpinan di BI, kata Didik, tidak akan otomatis mengubah persoalan struktural tersebut.
“Jadi berdasarkan analisis menyeluruh terhadap kondisi sektor moneter, sektor riil, sektor domestik dan sektor luar negeri di atas, maka BI lima tahun diperkirakan menghadapi kesulitan dan tidak akan bisa memperbaiki nilai tukar rupiah yang lebih stabil dan lebih kuat,” ujarnya.





