
PeluangNews, Salatiga-Berawal dari usaha rumahan dengan produksi hanya 10 kilogram per hari, bisnis olahan singkong asal Salatiga, Jawa Tengah, Argotelo, kini berhasil menembus pasar internasional. Produk berbahan dasar singkong itu tidak hanya menembus Australia, tetapi juga telah dipasarkan ke Singapura, Korea Selatan, dan Hong Kong, sekaligus menjadi motor pemberdayaan ratusan warga di kampung asalnya.
Kesuksesan tersebut menjadi bukti bahwa komoditas lokal dapat memiliki daya saing global ketika dipadukan dengan inovasi, transformasi digital, dan penguatan kualitas produk.
Pendiri Argotelo, Toni Anandya, mengatakan nama Argotelo lahir dari perpaduan kata argo yang berarti gunung dan telo yang berarti singkong. Filosofi itu menggambarkan cita-citanya membangun usaha yang mampu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar.
“Kami ingin Argotelo bisa memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas layaknya gunung yang memberikan manfaat kepada masyarakat yang ada di dalamnya,” ujar Toni.
Argotelo dirintis pada 2016 dengan modal terbatas. Saat itu Toni memproduksi sekitar 10 kilogram olahan singkong per hari dan memasarkannya secara langsung dari rumah ke rumah menggunakan sepeda motor.
Perubahan besar mulai terjadi pada 2018 ketika Argotelo memutuskan masuk ke ekosistem digital. Langkah tersebut menjadi modal penting saat pandemi Covid-19 melanda.
“Pada 2018, kami sadar Argotelo bisa memberikan inovasi dengan jualan secara daring. Kemudian saat pandemi Covid-19, ketika pelaku usaha lainnya mungkin belum terlalu merambah daring, kami sudah jauh lebih siap. Saat ini, 90 persen penjualan kami adalah dari daring,” katanya.
Kini Argotelo memiliki sedikitnya 25 varian produk olahan singkong, mulai dari gemblong lumer, getuk, singkong fla, stik tela-tela, rondo royal, mento, nugget singkong, hingga molen tape.
Seiring meningkatnya permintaan, kapasitas produksi juga melonjak drastis menjadi sekitar 500 ton per tahun. Perusahaan pun telah mengantongi berbagai legalitas usaha, mulai dari sertifikasi halal, izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), hingga hak merek.
Tumbuh Bersama Masyarakat
Pertumbuhan Argotelo juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Saat ini usaha tersebut mempekerjakan 35 karyawan, dengan mayoritas berasal dari lingkungan sekitar.
“Delapan puluh persen karyawan kami adalah masyarakat sekitar, melibatkan karang taruna dan kelompok sadar wisata untuk ikut berdaya bersama di Argotelo,” ujar Toni.
Tak hanya itu, Argotelo juga menggagas Kampung Singkong di Salatiga yang kini menjadi ekosistem pemberdayaan bagi sekitar 300 pekerja. Seluruh kebutuhan bahan baku singkong dipasok dari sentra-sentra produksi di sekitar Salatiga sehingga menciptakan rantai ekonomi yang saling menguatkan.
Di sisi lain, Argotelo aktif mengikuti berbagai program pembinaan yang diselenggarakan pemerintah, mulai dari pelatihan pengolahan pangan, higienitas, hingga pemasaran digital.
“Pembinaan di antaranya seperti pengolahan pangan, higienitas, hingga penjualan untuk media sosial,” tutur Toni.
Trade Expo Indonesia Buka Jalan Ekspor
Momentum penting datang ketika Argotelo mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, pameran perdagangan internasional terbesar di Indonesia. Ajang tersebut membuka peluang bertemu langsung dengan pembeli dari berbagai negara.
Hasilnya, Argotelo berhasil membangun jejaring bisnis dengan calon pembeli dari Australia dan Dubai, sekaligus merealisasikan ekspor perdana ke Australia.
“Kami ikut TEI 2025 dan alhamdulillah dari pameran tersebut kami mendapat networking dari Australia dan berkenalan dengan teman-teman dari Dubai. Kemudian yang terbaru, kami berhasil mengekspor produk ke Australia,” kata Toni.
Meski telah memasuki pasar ekspor, Toni mengaku masih ingin memperluas jangkauan bisnisnya melalui berbagai pameran dagang internasional.
“Kami ingin sekali bisa ikut pameran semacam TEI lagi. Kemudian kami juga berharap bisa mendapatkan akses untuk pameran yang mempertemukan langsung dengan buyer di luar negeri,” ujarnya.
Kemendag Siap Perluas Pasar Ekspor
Dukungan terhadap pengembangan Argotelo juga datang dari pemerintah. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengunjungi Kampung Singkong Argotelo di Salatiga pada Kamis (18/6) dan mengapresiasi keberhasilan usaha tersebut mengangkat singkong menjadi produk bernilai tambah sekaligus memberdayakan masyarakat.
“Saya bangga Argotelo tidak sekadar berbisnis, tetapi turut memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Argotelo membuktikan produk lokal yang memiliki kualitas unggul akan mampu berdaya saing di pasar global. Kami akan terus mendukung Argotelo agar makin memperluas pasar ekspornya,” ujar Budi Santoso.
Menurutnya, Kementerian Perdagangan terus membuka akses bagi pelaku UMKM melalui berbagai program strategis, seperti business matching, pameran dagang internasional, coaching ekspor, hingga promosi melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara.
Perjalanan Argotelo menjadi gambaran bagaimana inovasi mampu mengubah komoditas sederhana menjadi produk bernilai tinggi yang diterima pasar dunia. Dari sebuah usaha rumahan di kaki gunung, Argotelo kini berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang tidak hanya mengangkat singkong sebagai produk unggulan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan kesejahteraan masyarakat lokal.








