hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

INDEF: Pemerintah Belum Optimal Garap Pasar Ekspor, Pertumbuhan Ekonomi Sulit Tembus 7-8%

Sumber: Kementerian Keuangan

PeluangNews, JAKARTA — Pemerintah dinilai belum menjadikan sektor luar negeri, khususnya ekspor, sebagai mesin utama untuk mendorong transformasi struktural dan industrialisasi nasional. Kebijakan ekonomi yang masih relatif berorientasi pada pasar domestik dinilai membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bertahan di kisaran 5%.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Didik J Rachbini mengatakan sektor luar negeri sebenarnya tidak sepenuhnya diabaikan. Sejumlah kegiatan ekspor, penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI), hingga hilirisasi tetap berjalan. Namun, sektor tersebut belum ditempatkan sebagai bagian utama dari strategi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Masalahnya adalah sektor luar negeri belum dijadikan mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi,” ujarnya melalui pesan tertulis yang diterima Peluang, Minggu (9/8) .

Menurut Rektor Universitas Paramadina ini, kebijakan ekonomi selama ini masih terlalu inward looking atau berorientasi ke dalam negeri. Fokus tersebut tercermin dari kuatnya kebijakan yang mengandalkan pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, serta konsumsi masyarakat.

Padahal, Indonesia membutuhkan perubahan orientasi menjadi outward looking dengan mendorong penetrasi pasar internasional melalui industri yang memiliki daya saing kuat dan berorientasi ekspor.

Didik menilai perubahan tersebut penting apabila Indonesia ingin mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Pasalnya, dengan kebijakan yang ada saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai sulit menyamai negara seperti Vietnam yang mampu mencatat pertumbuhan hingga 8,3%.

“Untuk menuju pertumbuhan 7-8 persen seperti Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi outward looking mutlak harus dilakukan,” katanya.

Didik mengatakan besarnya pasar domestik Indonesia memang menjadi kekuatan tersendiri. Namun, mengandalkan konsumsi dalam negeri saja tidak cukup untuk mendorong industrialisasi Indonesia menjadi berkelas dunia.

Menurut dia, dunia usaha nasional perlu didorong untuk naik kelas dengan meningkatkan kemampuan bersaing di pasar global. Orientasi ekspor juga dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh devisa sekaligus memperluas kapasitas industri nasional.

“Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar memang mempunyai pasar domestik yang besar pula. Tetapi masalahnya bukan hanya mengandalkan konsumsi domestik yang besar, tetapi dunia usaha Indonesia mampu naik kelas karena dipaksa dan diberi kesempatan untuk bersaing di pasar global,” ujar Didik.

Ia menilai perubahan kebijakan menjadi lebih outward looking juga berpotensi meningkatkan investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan sistem insentif yang tepat, dukungan infrastruktur, serta birokrasi yang lebih ramah dan efisien, Indonesia dinilai dapat menjadi tujuan investasi yang lebih menarik bagi investor global.

Masuknya investasi asing kemudian dapat berjalan beriringan dengan peningkatan investasi domestik, terutama jika diarahkan untuk membangun industri berorientasi ekspor.

 

“Pada saat yang sama investasi dalam negeri bisa bertumbuh bersamaan dengan investasi luar negeri yang masuk karena rancangan kebijakan orientasi ekspor,” katanya.

Menurut Didik, pengembangan industri juga akan semakin kuat karena Indonesia memiliki basis sumber daya nasional yang besar. Penguatan industri berbasis sumber daya atau resource-based industry dapat menjadi salah satu fondasi untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Dia juga menilai belanja pemerintah tidak dapat menjadi satu-satunya andalan untuk mengerek pertumbuhan ekonomi ke level 7-8%. Belanja pemerintah, kata dia, lebih berfungsi sebagai penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak turun terlalu jauh dari level saat ini.

Menurut dia, kemampuan fiskal pemerintah juga menghadapi tantangan, baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran. Kondisi tersebut membuat stimulus melalui belanja pemerintah sulit dipertahankan sebagai mesin pertumbuhan dalam jangka panjang.

Di sisi lain, konsumsi masyarakat juga menghadapi tantangan seiring tergerusnya kelas menengah. Kondisi tersebut membuat konsumsi domestik semakin sulit diandalkan untuk menghasilkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengevaluasi kembali arah kebijakan ekonomi dengan memberikan porsi yang lebih besar pada sektor luar negeri dan ekspor.

Didik mengingatkan Indonesia sebenarnya pernah menerapkan strategi outward looking yang berhasil. Pada era 1980-an, pemerintah mendorong investasi dan pengembangan industri berorientasi ekspor yang kemudian berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi tinggi selama periode berikutnya.

Pengalaman tersebut seharusnya dapat menjadi pembelajaran bagi pemerintah saat ini. Dengan kembali memperkuat orientasi ekspor, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan pertumbuhan sekaligus mendorong transformasi industri nasional.

Sebaliknya, jika pertumbuhan masih bertumpu pada sumber daya dan pasar domestik, Indonesia dinilai akan sulit keluar dari pertumbuhan moderat sekitar 5%.

“Tanpa perubahan kebijakan, maka janji kampanye sulit untuk bisa diwujudkan,” ujarnya.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza