hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Adu Rapor Bank di Semester 1

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, tekanan geopolitik, dan persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat, industri perbankan nasional tetap mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I 2026. Ekspansi kredit yang berkelanjutan, kualitas aset yang terjaga, serta efisiensi operasional menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan laba dan aset sejumlah bank besar.

Secara keseluruhan, kinerja semester I 2026 menunjukkan bahwa industri perbankan masih mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah berbagai tantangan. Meski masing-masing bank memiliki strategi yang berbeda—mulai dari memperkuat kredit korporasi, pembiayaan perumahan, hingga optimalisasi dana murah—seluruhnya mengarah pada tujuan yang sama, yakni menjaga profitabilitas, memperkuat kualitas aset, dan mempertahankan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Berikut adalah realisasi kinerja sejumlah bank per Semester 1 2026.

 

BCA, Kredit Tembus Rp1 triliun

Bank Central Asia berhasil menyalurkan kredit per semester I-2026 sebesar Rp1.082 triliun, tumbuh 8% YoY. Ini merupakan capaian penting karena angka itu merupakan realisasi penyaluran kredit pertama yang berhasil menembus angka Rp1 triliun.

Total Dana Pihak Ketiga bank tersebut juga naik 7,9% YoY menjadi Rp1.284 triliun. Porsi CASA BCA mencapai sekitar 84,3% dari total DPK, dan Cost of Fund (CoF) konsisten terjaga. “Kami memastikan penyaluran kredit BCA dilakukan dengan selalu mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas perusahaan,” ujar Presiden Direktur BCA Hendra Lembong.

Dengan capaian tersebut, total laba BCA dan entitas anak pada semester I 2026 mencapai Rp29,5 triliun.

 

Bank Mandiri, Genjot Laba 24,4%

Bank Mandiri pada paruh pertama 2026 membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun atau meningkat 24,4% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan laba Bank Mandiri salah satunya didukung dari penyaluran kredit secara bank only sebesar Rp1.592 triliun per Juni 2026 atau tumbuh 19,9% (yoy). Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri yang sebesar 12,67% (yoy) per Juni 2026 berdasarkan data Bank Indonesia (BI).

Pertumbuhan intermediasi tersebut ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin sehat. Dana pihak ketiga (DPK) bank only tercatat sebesar Rp1.710 triliun atau tumbuh 17,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK industri yang sebesar 10,2% (yoy) pada periode yang sama. Pertumbuhan DPK emiten berkode saham BMRI tersebut dikontribusikan oleh meningkatnya aktivitas dan volume transaksi nasabah di seluruh ekosistem Bank Mandiri.

 

 

 

BTN, Bangun Ekosistem Layanan Keuangan

Bank Tabungan Negara berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun atau tumbuh 40,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) per semester I/2026 dari Rp1,70 triliun di periode yang sama tahun lalu.  Penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi sebesar Rp418,11 triliun, meningkat 11,2% yoy dari Rp376,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan kinerja positif tersebut menunjukkan strategi transformasi BTN yang selaras dengan arah transformasi Danantara Indonesia, telah berjalan sesuai target. “BTN tidak hanya terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin pembiayaan perumahan nasional, tetapi juga membangun ekosistem layanan keuangan yang terintegrasi guna mendukung program prioritas pemerintah, termasuk Program 3 Juta Rumah, sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat,” ujarnya.

 

Bank OCBC Indonesia, Bukukan Laba Rp2,7 Triliun

PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) membukukan laba bersih sebesar Rp 2,7 triliun pada semester I-2026. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK) yang sama-sama meningkat 11% secara tahunan (year on year/yoy). Hingga Juni 2026 total kredit OCBC mencapai Rp 185,3 triliun, naik 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi pendanaan, DPK juga tumbuh 11% yoy menjadi Rp 239,9 triliun. Pertumbuhan DPK terutama ditopang dana murah atau current account saving account (CASA) yang melonjak 26% yoy menjadi Rp 145,2 triliun.

“Kami terus meningkatkan kapabilitas dalam melayani kebutuhan nasabah, termasuk wealth management yang terus berkembang di Indonesia. Dengan kapabilitas yang semakin terintegrasi dan didukung kekuatan ekosistem Grup OCBC, kami berfokus menjadi mitra keuangan jangka panjang bagi nasabah,” ujar Presdir OCBC Indonesia Parwati Surjaudaja.

 

Bank Danamon, Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan

Bank Danamon melaporkan capaian laba bersih konsolidasian sebesar Rp2,4 triliun pada semester 1 2026, tumbuh 33% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kinerja profitabilitas yang sehat ini didukung oleh pertumbuhan total kredit dan trade finance konsolidasian sebesar 12% secara year-on-year, yang sejalan dengan pertumbuhan simpanan nasabah sebesar 14% year-on-year.

Nobuya Kawasaki, Direktur Utama Danamon menjelaskan sepanjang semester pertama 2026, Danamon konsisten merealisasikan fokus strategis untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan dan memperkuat kolaborasi dalam ekosistem finansial grup.

 

Bank Permata, Kemampuan Beradaptasi

PT Bank Permata Tbk (Permata Bank) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 4,5 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada Semester I tahun 2026.  Bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Bangkok Bank tersebut juga mencatatkan kenaikan pendapatan operasional sebesar 3,3 persen YoY serta pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 5,3 persen dengan kualitas aset yang tetap terjaga.

Direktur Utama Permata Bank Meliza M. Rusli mengatakan, capaian tersebut mencerminkan kemampuan bank menjaga kinerja di tengah volatilitas pasar keuangan domestik dan tensi geopolitik global yang masih berlangsung. “Kinerja Semester I tahun 2026 bukan hanya mencerminkan hasil kinerja yang sehat, tetapi juga menunjukkan kepercayaan dari nasabah, serta kemampuan untuk terus beradaptasi di tengah perubahan yang berlangsung cepat,” ujarnya.

 

Bank Ganesha, Bukukan Aset Rp11,13 Triliun

Bank Ganesha pada Semester I Tahun 2026 mencatatkan kinerja keuangan yang positif di tengah dinamika industri perbankan nasional yang masih menghadapi persaingan ketat dalam penghimpunan dana dan tantangan kondisi ekonomi global. Hingga 30 Juni 2026, total aset Bank Ganesha tercatat sebesar Rp11,13 triliun. Penyaluran kredit mencapai Rp5,98 triliun, mencerminkan komitmen Bank Ganesha dalam mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan yang selektif, produktif, dan mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudent banking). Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) berhasil dihimpun sebesar Rp7,17 triliun, didukung oleh strategi optimalisasi struktur pendanaan untuk menjaga likuiditas sekaligus meningkatkan efisiensi biaya dana.

Bank Ganesha membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp113,77 miliar pada Semester I 2026.

 

BTPN Syariah, Komitmen Dampingi Nasabah Ultra Mikro

BTPN Syariah terus memperkuat posisinya sebagai bank syariah yang fokus mendampingi segmen ultra mikro di Indonesia. Sepanjang semester pertama 2026, BTPN Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp 655 miliar. Aset mencapai Rp 23 triliun, tumbuh 8% secara YoY, sementara penyaluran pembiayaan mencapai Rp 11 triliun, tumbuh 9% secara YoY dengan rasio keuangan yang tetap solid, tercermin dari Return on Asset (RoA) sebesar 7,2% dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 58,7%.

“Kami akan terus memperkokoh fondasi melalui kualitas pembiayaan yang sehat serta bertumbuh lebih beragam melalui pengembangan inisiatif baru bagi nasabah kami. Kami percaya, semakin besar dampak yang kami hadirkan bagi nasabah, semakin kuat pula pertumbuhan berkelanjutan yang dapat kami ciptakan.”tutur Fachmy Achmad, Direktur BTPN Syariah.

 

Bank BJB, Perkuat Fundamental Bisnis

Bank bjb kembali membukukan kinerja positif pada Semester I Tahun 2026 dengan tetap menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat, berkualitas, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi serta tantangan industri perbankan. Melalui strategi growth with quality, Perseroan terus memperkuat fundamental bisnis, menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi, serta memperluas sumber pertumbuhan melalui transformasi digital dan pengembangan bisnis berbasis ekosistem pemerintah daerah.

Hingga Semester I 2026 bank bjb secara konsolidasi membukukan total aset sebesar Rp228,2 triliun. Perusahaan anak memberikan kontribusi aset sebesar Rp44,2 triliun atau sekitar 19,4 persen terhadap total aset konsolidasi Grup bjb. Di sisi intermediasi, penyaluran kredit termasuk pembiayaan secara konsolidasi mencapai Rp140,4 triliun, terdiri atas kontribusi perusahaan anak sebesar Rp29,3 triliun dan bank only sebesar Rp111,1 triliun.

 

Maybank Indonesia, Bukukan Pertumbuhan Laba 21,8%

Maybank Indonesia membukukan Laba Sebelum Pajak sebesar Rp933 miliar pada Semester 1 2026, meningkat 21,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada 30 Juni 2026, total kredit Bank tumbuh 3,8% Y-o-Y menjadi Rp126,28 triliun, sementara total aset tumbuh 15,6% Y-o-Y menjadi Rp213,81 triliun, sementara Simpanan nasabah tumbuh 8,2% Y-o-Y menjadi Rp124,10 triliun, didukung oleh pertumbuhan giro dan tabungan (CASA) sebesar 22,4% Y-o-Y sehingga semakin memperkuat komposisi pendanaan Bank.

Pada periode tersebut, Perbankan Syariah Maybank Indonesia membukukan Laba Sebelum Pajak (Profit Before Tax/PBT) sebesar Rp488 miliar, meningkat 55,1% Y-o-Y, didukung pertumbuhan pembiayaan Syariah serta optimalisasi komposisi pendanaan yang berkelanjutan.

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan, mengatakan bahwa kinerja Maybank Indonesia pada periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 mencerminkan pelaksanaan prioritas strategis Bank secara disiplin, ditopang oleh pertumbuhan portofolio pembiayaan yang berkelanjutan. (drp)

 

pasang iklan di sini
octa vaganza