hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Waspada Fenomena Makan Utang

Ilustrasi-Foto: Okezone.com

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 sebesar 5,29% secara tahunan (year on year/YoY). Sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 5,61%. Dari sisi pengeluaran, belanja pemerintah masih tumbuh tertinggi sebesar 15,97%. Ini antara lain ditopang dari stimulus fiskal, termasuk subsidi bahan bakar dan program populis seperti Makan Bergizi Gratis.

Konsumsi rumah tangga yang sejak zaman baheula menjadi penopang utama pertumbuhan nasional tumbuh sebesar 5,06%. Semua komponen pengeluaran juga menunjukan pertumbuhan positif. Demikian pula dengan aktivitas produksi, semuanya tumbuh kecuali sektor pertambangan.

Angka-angka statistik yang positif tersebut memang indah untuk dijadikan bahan pidato di atas podium. Namun demikian, data itu juga perlu disandingkan dengan data lainnya, terutama pada ekonomi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, per Juni 2026, rata-rata Saldo per Rekening (< Rp100 juta) sebesar Rp1,45 juta, turun dibanding periode sama 2025 sebesar Rp1,76 juta dan tahun-tahun sebelumnya. Ini yang populer disebut fenomena makan tabungan (Mantap) dimana sebagian rakyat mulai menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan harian.

Pada saat yang sama, jumlah pinjaman konsumtif (pinjol, paylater, pegadaian) justru melonjak. Dari data OJK, outstanding pembiayaan pinjaman online (pinjol) mencapai Rp105,14 triliun per Juni 2026, tumbuh 25,88% yoy. Ini diiringi dengan naiknya tingkat wanprestasi di posisi 4,26%. Selain itu, outstanding paylater perbankan juga melesat 33,54% menjadi Rp30,71 triliun.

Pembiayaan pegadaian juga tumbuh sebesar 54,47% yoy menjadi Rp162 triliun, yang mayoritas disalurkan ke produk gadai. Peningkatan pinjaman konsumsi berjangka pendek ini mencerminkan semakin banyaknya masyarakat yang makan utang (Maut) untuk sekadar menutup kebutuhan hidup.

Duet Mantap dan Maut mengindikasikan pertumbuhan semu konsumsi masyarakat yang mengandalkan utang berulang alih-alih kenaikan pendapatan riil. Sementara realitasnya, banyak rakyat yang semakin terengah-engah akibat kenaikan harga barang dan terbatasnya penghasilan.

Darrel Huff, penulis buku How To Lie With Statistics (1954), mengingatkan, statistik sering kali disalahgunakan untuk memanipulasi opini publik. Namun Huff juga tidak menolak mentah-mentah data statistik. Ia hanya mendorong publik untuk lebih kritis dalam membaca data agar tidak mudah dibohongi. Salam Redaksi.

 

pasang iklan di sini
octa vaganza