
PeluangNews, Jakarta – Dua gempa bumi mengguncang wilayah Indonesia Timur dan Barat pada Minggu (4/10/2026) pagi dalam selang 42 menit.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memastikan keduanya tidak berpotensi tsunami.
Gempa pertama berkekuatan Magnitudo 6,1 mengguncang Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pukul 05.55.52 WIB atau 06.55 WITA.
Pusat gempa berada di laut, 14 kilometer Barat Daya Kodi, Sumba Barat Daya pada koordinat 9,70 Lintang Selatan – 118,92 Bujur Timur dengan kedalaman dangkal 10 kilometer.
Plh Deputi Geofisika BMKG Arda Sena menyebut gempa ini jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif Sesar Waikabubak. Dalam pemutakhiran BMKG, magnitudo dimutakhirkan menjadi M5,9 dengan kedalaman 30 km.
Guncangan terkuat dirasakan di Kodi, Balaghar, dan Kodi Bangedo dengan skala VI MMI, dimana getaran dirasakan semua penduduk dan mayoritas panik berhamburan keluar rumah.
Direktur Seismologi BMKG Teguh Rahayu melaporkan hingga pukul 08.40 WITA terdapat kerusakan sedang di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi meliputi satu bangunan SD Islam dan dua rumah warga, serta satu warga luka ringan.
Laporan warga di media sosial juga menyebut kerusakan pada Gereja Katedral Weetebula dan beberapa makam warga.
BMKG mencatat hingga pukul 09.05 WITA telah terjadi 62 kali gempa susulan dengan magnitudo M1,5 hingga M4,3. BMKG memprediksi aktivitas susulan akan meluruh dalam kurang dari satu bulan.
Sedangkan kejadian gempa kedua berkekuatan M5,9 mengguncang Aceh Jaya pada pukul 06.37.31 WIB. Pusat gempa di laut 68 kilometer Barat Daya Calang, Aceh Jaya pada koordinat 4,56 LU – 94,97 BT dengan kedalaman 26 kilometer.
Guncangan dirasakan di Aceh Besar III-IV MMI, Banda Aceh dan Aceh Barat III MMI, serta Aceh Selatan, Pidie Jaya, Bener Meriah, Nagan Raya II MMI. Warga Calang sempat panik dan keluar rumah.
Hingga berita ini ditulis, BPBD Sumba Barat Daya dan Aceh Jaya masih melakukan pendataan. BMKG mengimbau warga tetap tenang, menghindari bangunan retak, dan tidak percaya hoaks.
“Hati-hati terhadap gempa bumi susulan yang mungkin terjadi,” tulis BMKG. []








