hayed consulting
hayed consulting
umkm insigh

Riset Kopsyah BMI Tembus Konferensi CSR Internasional di Rumania

Dr. Andreea Seulean dari Fakultas Bisnis Universitas Babes Bolyai. Foto: klikbmi
Dr. Andreea Seulean dari Fakultas Bisnis Universitas Babes Bolyai. Foto: klikbmi

PeluangNews, Jakarta — Kiprah Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) dalam pemberdayaan anggota dan masyarakat mendapat perhatian di forum akademik internasional. Riset kolaboratif yang melibatkan Kopsyah BMI dipresentasikan dalam 24th SRRNet International Conference on Corporate Social Responsibility and Sustainability di Cluj-Napoca, Rumania, pada 9–12 September 2026.

Konferensi yang diselenggarakan Faculty of Business, Babes-Bolyai University bersama Social Responsibility Research Network (SRRNet) tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk membahas tanggung jawab sosial dan keberlanjutan di tengah berbagai tantangan global.

Dalam forum tersebut, tim peneliti mempresentasikan paper berjudul “Community Empowerment through Cooperatives’ Business and Social Responsibilities: Empirical Evidence from Indonesia.” Penelitian ini merupakan kolaborasi Dr. Risa Bhinekawati dari Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan Islam (STEBANK) Mr. Sjafruddin Prawiranegara bersama tim dan Kopsyah BMI.

Risa mengatakan dirinya tidak dapat hadir secara langsung untuk mempresentasikan paper tersebut karena kendala visa. Meski demikian, presentasi tetap dilakukan oleh Dr. Andreea Seulean dari Fakultas Bisnis Universitas Babes-Bolyai.

“Meskipun secara pribadi saya tidak dapat mempresentasikan makalah tersebut di konferensi karena masalah visa, Dr. Oana Gica dan Dr. Monica Maria Coros telah mengonfirmasi kesediaan Dr. Andreea Seulean dari Fakultas Bisnis Universitas Babes Bolyai untuk mempresentasikan makalah tersebut,” terang Risa dihadapan wartawan.

Menurut dia, proses persiapan presentasi dilakukan secara daring bersama presenter pengganti untuk memastikan penelitian dapat disampaikan dengan baik dalam konferensi internasional tersebut.

“Dr. Andreea-Angela Seulean dan tim peneliti saya telah berkomunikasi online untuk memastikan presentasi berjalan dengan baik,” ujarnya.

Penelitian tersebut mengkaji bagaimana koperasi dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial melalui berbagai program pemberdayaan yang diarahkan pada peningkatan kapasitas anggota dan kesejahteraan masyarakat.

Riset menggunakan populasi 243.301 anggota Kopsyah BMI dan memperoleh 802 responden melalui kuesioner dengan skala Likert. Data kemudian dianalisis menggunakan Stata 16 melalui pengujian validitas, reliabilitas, asumsi klasik, dan regresi linear berganda.

Penelitian tersebut secara khusus mengkaji empat bentuk modal yang dikembangkan melalui aktivitas koperasi, yakni human capital, social capital, physical capital, dan financial capital.

Human capital mencakup pengembangan keterampilan membangun jaringan, keterampilan teknis, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi. Sementara social capital mencakup hubungan dengan pembeli dan pemangku kepentingan, pemasaran kolektif yang transparan, kepercayaan dalam jejaring sosial, serta komunikasi yang efektif.

Adapun physical capital meliputi dukungan terhadap perizinan usaha, pengembangan fasilitas produksi dan penyimpanan, serta perbaikan tempat usaha. Sedangkan financial capital mencakup akses pembiayaan jangka pendek, pembiayaan yang terjangkau, mekanisme pembayaran kewajiban, dan kemampuan anggota memenuhi kewajiban tepat waktu.

Hasil penelitian menunjukkan keempat variabel tersebut memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap business performance and well-being atau kinerja usaha dan kesejahteraan anggota.

Dalam hasil regresi, human capital memiliki koefisien 0,0485 dengan nilai p 0,032. Social capital sebesar 0,1414 dengan nilai p 0,012, physical capital sebesar 0,3367 dengan nilai p <0,001, dan financial capital sebesar 0,3671 dengan nilai p <0,001. Sementara variabel kontrol income level juga menunjukkan pengaruh positif dan signifikan dengan nilai p 0,008.

Secara simultan, human capital, social capital, physical capital, dan financial capital memberikan kontribusi sebesar 69,69 persen terhadap variasi peningkatan kinerja usaha dan kesejahteraan anggota dalam model penelitian. Sementara 31,31 persen lainnya dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan anggota melalui koperasi tidak hanya berkaitan dengan akses pembiayaan. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, jejaring sosial, dukungan terhadap aset fisik usaha, serta akses terhadap sumber daya keuangan menjadi faktor yang saling berkaitan dalam mendukung perkembangan usaha dan kesejahteraan anggota.

“Penelitian ini melihat bagaimana koperasi dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial melalui berbagai aktivitas pemberdayaan. Pengalaman Kopsyah BMI menjadi bukti empiris mengenai peran koperasi dalam meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan anggotanya,” kata Risa.

Bagi Kopsyah BMI, penelitian tersebut sekaligus menjadi ruang untuk membawa praktik pemberdayaan koperasi Indonesia ke dalam diskursus akademik internasional. Keterlibatan koperasi dalam riset memungkinkan berbagai program yang dijalankan di tingkat akar rumput dikaji berdasarkan pendekatan ilmiah.

Kolaborasi antara peneliti dan praktisi juga mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman langsung di lapangan. Berbagai program koperasi tidak hanya dilihat sebagai aktivitas pelayanan kepada anggota, tetapi juga sebagai bagian dari pendekatan pemberdayaan masyarakat.

Dalam kesimpulannya, penelitian tersebut menyatakan bahwa koperasi memiliki potensi menjadi mitra bagi perusahaan dalam menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR). Penelitian juga menekankan pentingnya tata kelola yang baik sebagai prasyarat bagi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

“Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak cukup hanya memberikan akses keuangan, tetapi juga perlu membangun kapasitas manusia, jejaring sosial, aset fisik, dan kemampuan finansial,” ujar Risa.

Bagi tim peneliti, partisipasi dalam konferensi internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pertukaran pengetahuan mengenai peran organisasi yang berakar kuat di masyarakat dalam mendorong keberlanjutan.

Sementara bagi Kopsyah BMI, keterlibatan dalam penelitian menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya riset dan dokumentasi atas praktik pemberdayaan yang selama ini dijalankan. Dengan demikian, pengalaman koperasi di tingkat akar rumput dapat terus dipelajari, diuji secara akademik, dan dibagikan dalam ruang pengetahuan yang lebih luas.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen Kopsyah BMI untuk mengembangkan koperasi yang tidak hanya bertumbuh secara kelembagaan dan bisnis, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat melalui semangat “Melayani Dengan Hati Nurani.”

pasang iklan di sini
lpdb.go.id