Untuk mempercepat penanganan, pemerintah membuka peluang penggunaan berbagai teknologi, termasuk waste to energy di sejumlah kabupaten dan kota.
Tiga proyek pengolahan sampah di Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Denpasar kini telah rampung. Sejalan dengan itu, penyelesaian 12 proyek berikutnya dikerjakan percepatannya. Targetnya selesai dalam waktu tidak lebih dari tujuh minggu. Percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi langkah mendesak, terutama setelah beberapa kejadian yang menimbulkan korban jiwa akibat bencana sampah.
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan penyelesaian 32 kawasan aglomerasi pengelolaan sampah sebagai tahap awal. Namun, capaian tersebut baru mencakup sekitar 24 hingga 25 persen dari total persoalan sampah nasional. Volume sampah nasional saat ini mencapai sekitar 100 ribu ton per hari. Jumlah tersebut tersebar di berbagai daerah dengan kapasitas yang berbeda-beda, mulai dari 500 ton hingga 700 ton per hari.
“Kalau 32 aglomerasi itu selesai semua, baru kita menyelesaikan sekitar 24 sampai 25 persen. Masih ada sekitar 75 persen yang harus kita tangani,” ujar Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Maka, untuk mempercepat penanganan, pemerintah membuka peluang penggunaan berbagai teknologi, termasuk waste to energy di sejumlah kabupaten dan kota.
“Kalau ada yang menggunakan waste to energy silakan, kita akan buat agar lebih cepat karena ini banyak terdapat di beberapa kabupaten dan kota. Gubernur, bupati hingga wali kota, diminta mengawal percepatan program tersebut agar target waktu dapat tercapai. Kita ingin lingkungan bersih,” katanya. Langkah percepatan ini merupakan bagian dari arahan Presiden yang menargetkan penanganan sampah nasional dapat diselesaikan secara bertahap hingga tahun 2029. Dalam skema tersebut, pengelolaan sampah di fasilitas publik ditargetkan selesai lebih cepat dibandingkan rumah tangga.
“Semua tempat yang bisa dikelola harus selesai di tempatnya. Kantor selesai di kantor, pasar selesai di pasar, sekolah selesai di sekolah, restoran juga demikian. Rumah tangga yang memang perlu waktu lebih panjang,” ujar Zulhas pada acara Penandatanganan Bersama Perjanjian Kerja sama (PKS) antara Pemda dan Badan Usaha Pengembangan dan Pengelola (BUPP) Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL), di Jakarta, Selasa (21/4).
Bingung bagaimana cara mengurangi jumlah sampah di rumah? Selain memilah, ada cara lain yang lebih kreatif dan menguntungkan, yaitu dengan mengolah sampah menjadi produk yang bernilai jual. Pada tataran individu, setidaknya ada lima ide bisnis dari pengolahan sampah yang bisa Anda coba.
Bisnis pengolahan sampah menawarkan banyak manfaat. Tak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga memberi kontribusi besar bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan mengubah sampah menjadi produk bernilai, bisnis ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir, tetapi juga melestarikan sumber daya alam yang terbatas.
Selain itu, proses daur ulang juga menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Bahkan, bisnis pengolahan sampah turut berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan pencemaran lingkungan. Singkatnya, bisnis pengolahan sampah adalah investasi yang bijak, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi. Produk dari plastik daur ulang; kerajinan tangan dari barang bekas; pupuk kompos; kemasan produk dari limbah; produk tekstil dari bahan daur ulang.●






