
PeluangNews, Jakarta – Pemerintah menyiapkan insentif besar-besaran untuk kendaraan listrik sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan pemerintah tengah menghitung anggaran insentif untuk motor dan mobil listrik yang ditargetkan mulai berjalan pada Juni 2026.
“Yang jelas saya ingin itu mulai awal Juni bisa diimplementasikan supaya ada dorongan tambahan di perekonomian,” ujar Purbaya, dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK II, di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Pemerintah menyiapkan bantuan sekitar Rp5 juta per unit untuk pembelian motor listrik dengan target 100 ribu unit. Sementara untuk mobil listrik, skema insentif akan berbeda-beda tergantung jenis baterai yang digunakan.
“Ada yang PPN-nya ditanggung 100 persen, ada yang 40 persen, tergantung baterainya. Jumlah mobilnya 100 ribu juga,” kata dia.
Menurut Purbaya, kebijakan tersebut tidak semata-mata soal subsidi kendaraan listrik. Pemerintah ingin mempercepat peralihan penggunaan BBM ke energi listrik agar impor minyak dan BBM dapat ditekan.
“Yang penting adalah ada switch dari pemakaian BBM ke listrik sehingga impor BBM maupun minyak kita bisa berkurang. Jadi jangan dilihat seperti subsidinya, tapi itu tujuan utamanya sehingga kita lebih tahan ekonominya dari sisi energi,” ujarnya.
Selain menyiapkan insentif kendaraan listrik, pemerintah juga tengah merancang pembentukan bond stabilization fund untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik di tengah tekanan global.
Purbaya mengatakan langkah tersebut dilakukan agar pasar obligasi Indonesia tidak mudah diguncang oleh arus modal asing.
“Pada dasarnya saya hanya ingin supaya market obligasi relatif stabil dan tidak gampang digoyang investor asing,” jelasnya.
Ia menegaskan skema stabilisasi tersebut akan dikerjakan bersama bank sentral dan sejumlah lembaga keuangan di bawah pemerintah. Menurutnya, kemampuan fiskal Indonesia masih cukup untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
“Kalau lihat volumenya yang keluar selama ini, sebenarnya tidak besar-besar amat. Harusnya darah kita cukup,” ucapnya.
Di sisi lain, Purbaya juga menanggapi sejumlah prediksi ekonom yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya ditopang faktor musiman dan stimulus jangka pendek.
Ia menilai banyak prediksi sebelumnya justru meleset karena ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh kuat di tengah tekanan global.
“Katanya ekonomi Indonesia mau hancur, kok malah tumbuh kencang. Sekarang sudah tumbuh kencang, cari alasan lain lagi,” pungkas Purbaya.







