
PeluangNews, Jakarta – Ketergantungan Indonesia terhadap impor parafin untuk kebutuhan industri batik mendorong lahirnya inovasi baru berbasis sumber daya dalam negeri. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini memperkenalkan Bio Paraffin Substitute (BioPAS), malam batik berbahan dasar minyak sawit yang berpotensi menggantikan parafin impor sekaligus memperkuat keterkaitan antara industri sawit dan warisan budaya batik Indonesia.

Peluncuran BioPAS menjadi salah satu langkah strategis BRIN dalam menjawab tantangan ketergantungan Indonesia terhadap impor parafin yang selama ini menjadi komponen utama dalam produksi malam batik nasional.
Selama ini, sekitar 80 persen komposisi malam batik tersusun atas resin alam dan parafin. Namun, hampir seluruh kebutuhan parafin nasional masih bergantung pada impor karena merupakan produk turunan minyak bumi. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan bahan baku alternatif yang berkelanjutan, terbarukan, dan berasal dari sumber daya lokal.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Agus Triputranto, bersama tim berhasil mengembangkan BioPAS melalui modifikasi struktur trigliserida minyak sawit domestik. Inovasi ini bahkan telah memperoleh paten granted pada 2024, menandakan kesiapan teknologi untuk dimanfaatkan lebih luas oleh industri.
“BioPAS dikembangkan sebagai substitusi parafin berbasis minyak bumi sehingga industri batik memiliki alternatif bahan baku yang berasal dari sumber daya nasional yang terbarukan,” ujar Agus dalam ajang BRIN Goes to Society: Nature, Science, and Future Experience di AEON Mall Sentul City, Bogor, pada 1–7 Juni 2026.
Menurut Agus, BioPAS memiliki nilai strategis karena menghubungkan dua kekuatan besar Indonesia, yakni sawit sebagai komoditas unggulan nasional dan batik sebagai warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO.
Dengan memanfaatkan turunan minyak sawit sebagai bahan baku malam batik, BRIN berupaya menciptakan sinergi yang saling menguatkan antara sektor perkebunan dan industri kreatif nasional.
Dari sisi teknologi, BioPAS menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan malam batik konvensional. Produk ini dapat digunakan untuk berbagai metode pembatikan, mulai dari batik tulis, batik cap, hingga teknik batik lilin dingin.
Karakteristik BioPAS dinilai mampu memenuhi kebutuhan para perajin karena memiliki daya tembus yang baik pada kain, mudah diaplikasikan saat proses pembatikan, mampu menghasilkan garis motif yang tajam atau ngawat, tidak mudah retak, serta mudah dilepaskan kembali pada tahap pelorotan atau lorod.
Selain itu, BioPAS juga dinilai lebih ramah lingkungan karena termasuk kategori biowax yang menghasilkan dampak karbon lebih rendah dibandingkan malam berbasis parafin fosil.
“Keunggulan utama BioPAS adalah kemampuannya diaplikasikan pada berbagai metode pembatikan dengan harga yang lebih kompetitif, sekaligus menawarkan karakteristik teknis yang dibutuhkan para perajin,” ungkap Agus.
Pengembangan BioPAS telah melalui perjalanan riset yang cukup panjang. Riset awal dimulai pada periode 2015–2016 melalui dukungan pendanaan DIPA BPPT. Selanjutnya dilakukan pengujian standar pada 2016, uji aplikasi pada 2017, hingga berbagai kegiatan sosialisasi dan workshop pada 2019 dan 2021.
Rangkaian tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan inovasi dapat diterima dan diterapkan oleh para pelaku industri batik.
Dari sisi ekonomi, potensi pemanfaatan BioPAS dinilai sangat besar. Industri batik Indonesia saat ini melibatkan sekitar 55 ribu unit usaha yang mayoritas merupakan usaha mikro dan kecil serta menyerap ratusan ribu tenaga kerja.
Agus menjelaskan bahwa kebutuhan lilin untuk industri batik nasional diperkirakan mencapai sedikitnya 84 ribu ton per tahun. Untuk batik tulis saja, kebutuhan lilin mencapai sekitar 165.476 kilogram per bulan, sedangkan batik cap mencapai lebih dari 13,6 juta kilogram per bulan.
Besarnya kebutuhan tersebut membuka peluang besar bagi pemanfaatan BioPAS sebagai pengganti parafin impor.
“Dengan kebutuhan malam batik nasional yang sangat besar, penggunaan BioPAS berpotensi memberikan penghematan devisa sekaligus meningkatkan serapan produk turunan sawit dalam negeri,” jelasnya.
Saat ini BioPAS telah mulai direplikasi secara terbatas oleh sejumlah perajin yang tergabung dalam Koperasi Batik Indonesia di Pekalongan, Jawa Tengah. Permintaan untuk uji coba penggunaan juga terus meningkat meskipun masih dalam skala terbatas.
Meski demikian, Agus menilai proses pendampingan teknologi tetap diperlukan karena keberhasilan penggunaan malam batik sawit dipengaruhi oleh metode pembatikan, karakter motif, kebiasaan perajin, hingga kondisi cuaca di masing-masing daerah.
Ke depan, inovasi BioPAS diharapkan tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku industri batik, tetapi juga menjadi solusi berkelanjutan yang mendukung penguatan industri sawit, pelestarian budaya batik, serta pengembangan ekonomi hijau nasional.








