
PeluangNews, Jakarta-Upaya meningkatkan akurasi prediksi hujan ekstrem kini mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Diponegoro (Undip) memperkuat kolaborasi riset dengan mengembangkan model prediksi hujan ekstrem berbasis deep learning sebagai langkah memperkuat mitigasi risiko banjir, khususnya di wilayah Semarang dan sekitarnya.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan pemasangan Automatic Weather Station (AWS) di Gedung Geofisika dan Geothermal, Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip. Instalasi perangkat dilakukan dalam kunjungan penjajakan kerja sama antara Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN dengan FSM Undip.
Ketua Kelompok Riset Hidrometeorologi, Hidroklimatologi, dan Kejadian Ekstrem PRIMA BRIN, Eddy Hermawan, mengatakan kolaborasi ini menjadi bagian dari penelitian Pengembangan Model Prediksi Hujan Ekstrem Berbasis Deep Learning untuk Mendukung Strategi Pengurangan Risiko Bencana Banjir.
“Kegiatan penelitian ini dipimpin oleh Dr. Teguh Harjana, M.Sc., dengan dukungan pendanaan dari Rumah Program Model Hasil Riset dan Inovasi Kebencanaan dan Sumber Daya Kebumian, Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN Tahun 2026,” ujar Eddy, Jumat (3/7).
Menurut Eddy, penelitian tersebut melibatkan tim lintas disiplin yang terdiri atas periset dari PRIMA BRIN, Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS), Pusat Riset Komputasi (PRK) BRIN, Departemen Matematika FMIPA Universitas Padjadjaran, serta Departemen Fisika FSM Undip.
Dalam kerja sama tersebut, AWS berperan sebagai sistem pengamatan cuaca otomatis yang mampu merekam berbagai parameter meteorologi secara berkelanjutan, mulai dari curah hujan, suhu udara, kelembapan, tekanan udara, radiasi matahari, hingga kecepatan dan arah angin.
Eddy menjelaskan, keberadaan perangkat tersebut akan memperkuat jaringan observasi iklim nasional sekaligus menyediakan data cuaca lokal yang lebih akurat untuk mendukung penelitian dan pengembangan teknologi prediksi cuaca.
“Data hasil pengamatan AWS akan menjadi sumber informasi penting dalam pengembangan model prediksi cuaca dan iklim, validasi data satelit maupun radar cuaca, serta analisis kejadian cuaca ekstrem di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya,” katanya.
Selain dimanfaatkan dalam riset BRIN, data yang dihasilkan AWS juga dapat digunakan oleh dosen, mahasiswa, dan peneliti Undip untuk berbagai kegiatan akademik, seperti penelitian tugas akhir, publikasi ilmiah, hingga pengembangan teknologi berbasis data iklim.
Kunjungan tim PRIMA BRIN ke FSM Undip juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Ruang lingkup kerja sama mencakup penelitian bersama, pertukaran data dan keahlian, pelibatan mahasiswa dalam proyek riset, publikasi ilmiah kolaboratif, hingga pengembangan sumber daya manusia di bidang klimatologi, meteorologi, dan kecerdasan artifisial.
“Melalui kolaborasi ini diharapkan terbangun sinergi yang kuat antara institusi riset dan perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional,” tutur Eddy.
Ke depan, kolaborasi BRIN dan Undip ditargetkan menghasilkan berbagai luaran strategis, antara lain publikasi ilmiah bereputasi internasional, prototipe sistem analisis dan prediksi cuaca berbasis AI, peningkatan kualitas data observasi iklim nasional, serta rekomendasi kebijakan berbasis sains untuk memperkuat adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia.








