hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Opini  

KB PII dan Kekuasaan: Jangan Kehilangan Arah di Tengah Badai

PII
Pengurus PII periode 2026-2028 | Foto: Dok. Ist

Oleh: Edy Mulyadi

PeluangNews, Jakarta – Pelajar Islam Indonesia (PII) tidak lahir dari ruang nyaman. Ia lahir dari dentuman sejarah. Didirikan 4 Mei 1947, saat republik masih berdarah-darah mempertahankan kemerdekaan.

Pelajar Islam Indonesia bukan sekadar organisasi pelajar. Ia adalah kawah candradimuka. Tempat kader ditempa. Bukan hanya untuk cerdas, tapi juga untuk berani dan militan.

Sejak awal, PII tidak alergi terhadap politik. Tapi politik yang dikenalnya bukan politik dagang sapi. Ia adalah politik nilai. Politik yang dilandasi nilai-nilai Islam. Dalam masa revolusi, kader PII tidak hanya belajar. Mereka ikut menjaga republik. Terlibat dalam pergulatan ideologi. Berdiri menghadapi ancaman yang bisa merobek bangsa ini dari dalam. Termasuk menghadapi ancaman ideologi seperti PKI.

Masuk era Orde Baru, tekanan datang. Ruang gerak menyempit. Azas tunggal dipaksakan bagi semua organisasi politik dan organisasi massa. Tapi di situlah mental diuji. Kader belajar satu hal penting: kekuasaan tidak selalu berpihak pada kebenaran.

Pasca reformasi, panggung terbuka lebar. Alumni PII menyebar ke berbagai lini. Dari mimbar dakwah hingga ruang akademik. Dari masyarakat sipil hingga lingkar kekuasaan.

Di titik ini, satu pertanyaan tidak bisa dihindari. Apakah nilai itu masih dibawa? Atau diam-diam ditinggalkan? Sebab hari ini, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ekonomi menekan. Rakyat dicekik harga kebutuhan yang terus naik. Daya beli tergerus. Ketimpangan makin lebar. Hukum kehilangan wibawa. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Rakyat kecil dihukum cepat. Yang besar sering lolos tanpa jejak.

Politik? Lebih memprihatinkan. Transaksi kekuasaan berlangsung dengan telanjang. Politik dinasti tumbuh subur tanpa kenal malu. Etika publik runtuh pelan-pelan.

Ujian itu bernama kekuasaan

Dalam situasi seperti ini, KB PII tidak bisa sekadar jadi penonton. Tidak cukup hanya bangga pada sejarah. Tidak cukup hanya bernostalgia dengan beragam reuni. Ada tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Menjaga kompas moral yang dilandasi nilai-nilai Islam. Membangun keberanian struktural. Dan menghidupkan tradisi intelektual.

Namun, semua itu akan diuji dalam satu tempat: kekuasaan. Di sanalah nilai diuji, bukan di forum diskusi. Bukan di ruang pelatihan. Tapi di meja keputusan. Dan di sanalah pula banyak yang tergelincir.

Kita bicara jujur saja. Ada yang dulu lantang meneriakkan keadilan. Hari ini duduk di kursi kekuasaan, lalu memilih diam saat kebijakan zalim lewat di depan mata. Alasannya: “ini keputusan bersama.” Padahal yang hilang bukan suara. Tapi keberanian.

Ada yang dulu keras mengkritik oligarki. Hari ini justru masuk dalam lingkarannya. Ikut menikmati. Ikut membenarkan. Bahasanya berubah. Dari perlawanan menjadi penyesuaian. Ini bukan adaptasi. Ini degradasi.

Ada pula yang masuk dengan niat baik. Ingin memperbaiki dari dalam. Tapi pelan-pelan mulai berkompromi. Awalnya kecil. Lalu membesar. Sampai akhirnya, dia tidak lagi bisa membedakan mana prinsip, mana kepentingan. Dia tidak merasa berubah. Padahal semua orang melihat ia sudah jauh.

Inilah ujian terbesar itu. Bukan bagaimana masuk ke kekuasaan. Tapi bagaimana bertahan di dalamnya tanpa kehilangan nilai-nilai Islam yang menjadi fondasi sejak awal. Karena sistem hari ini memang tidak netral. Ia mendorong kompromi. Memberi tempat bagi yang patuh. Dan menyingkirkan yang terlalu lurus. Kalau tidak punya pondasi kuat, siapa pun bisa hanyut.

Di sinilah KB PII harus mengambil posisi. Keragaman sikap itu wajar. Ada yang berpolitik. Ada yang berdakwah. Ada yang bergerak di masyarakat sipil. Ada pula yang memilih menjaga jarak dari kekuasaan. Semua sah. Selama tetap berada dalam satu garis: nilai-nilai Islam sebagai fondasi.

Yang berpolitik, jangan kehilangan arah.
Yang berdakwah, jangan kehilangan keberanian. Yang intelektual, jangan kehilangan ketajaman. Dan yang menjauh, jangan berhenti mengingatkan.

Kalau ini bisa dijaga, KB PII tidak hanya akan tetap relevan. Tapi bisa menjadi kekuatan moral yang dibutuhkan bangsa ini.

Pertanyaannya sederhana. Di tengah kekacauan hari ini, keluarga besar (KB) PII berdiri di mana? Di barisan nilai? Atau tenggelam di pusaran kepentingan?

Dirgahayu 79 tahun PII! []

[Penulis adalah wartawan senior,
peserta Basic Training di Lengkong, Tangerang, 1982]

octa vaganza