Sense of belonging kelembagaan, ketaatan berkoperasi, dan skala usaha merupakan pembeda utama anggota koperasi di negeri jiran tersebut dengan Indonesia.

Semangat KSP Kopdit Pintu Air untuk memberikan layanan terbaik kepada anggota tidak pernah padam. Untuk itu program pengembangan kompetensi pengurus dan pendidikan perkoperasian terus dilakukan, termasuk studi banding ke regulator dan beberapa koperasi di negeri jiran Malaysia.
Selain KSP Kopdit Pintu Air, peserta studi banding ini melibatkan berbagai koperasi lintas sektor seperti KSPPS Lariba Solusi Indonesia, KSPPS Artha Bahana Syariah, Koperasi Semandang Jaya, Koperasi Konsumen Swamitra Mandiri Pratama, Koperasi Konsumen Syariah BMT Khairul Amin Berkah, BMT NUT Temayang Bojonegoro, Koperasi Konsumen Syariah BMT Khairul Ikhwan, BMT NU Ngasem Group Bojonegoro, Koperasi Konsumen Wanita Tawar Sejuk, Koperasi Konsumen Kjub Puspetasari, Arta Rosan Tijari, hingga koperasi dari wilayah pelosok seperti Kopanesa Dinas Pendidikan Kabupaten Natuna dan Koperasi Produsen Perkebunan Tuah Buno.
Rombongan melaksanakan kegiatan tersebut selama empat hari mulai 29 April 2026 sampai dengan 2 Mei 2026. Di bidang regulator dan pendidikan, rombongan mengunjungi Suruhan Jaya Koperasi Malaysia (SKM), Institut Koperasi Malaysia (IKMA), dan Angkatan Koperasi Kebangsaan Malaysia (Angkasa).
Selain itu, di bidang koperasi praktisi mereka mengunjungi, Kopetro, Coop Bank Pertama, Koperasi Sahabat, Koperasi NUCW Berhad, dan Koperasi Jaffnese. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kerja sama koperasi dua negara sahabat.
Ketua KSP Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano, memberikan catatan khusus usai mengunjungi salah satu koperasi legendaris di Malaysia yakni Koperasi Jaffnese yang telah berusia 102 tahun. “Ada keunikan pada sistem pembayaran yang sangat tertib, baik melalui bendahara maupun mandiri. Kedisiplinan mereka luar biasa tinggi,” ungkap Jano.
Dari hasil kunjungan tersebut, ada beberapa pembelajaran yang diambil yakni rasa memiliki lembaga hingga ketaatan finansial. Anggota koperasi di Malaysia hampir tidak ada yang menunggak karena tingginya rasa memiliki (sense of belonging) terhadap koperasi.
Namun demikian, Jano mengakui ada perbedaan karakteristik dengan koperasi di Indonesia. Anggota yang menjadi koperasi di Malaysia cenderung homogen dan taat berkoperasi. Sementara di Indonesia heterogen dan kurang memiliki rasa kepemilikian lembaga. Sehingga, banyak dijumpai orang masuk koperasi hanya untuk meminjam lalu menghilang.
“Melatih kedisiplinan pada masyarakat kelas bawah menjadi tantangan tersendiri bagi kita di Indonesia, khususnya kami di NTT,” tambahnya.
Selain itu, rerata skala usaha koperasi Malaysia mencapai Rp18 miliar pertahun dengan nilai transaksi anggota mencapai Rp3,3 juta per bulan. Sedangkan Indonesia, rerata perputaran usaha berada di kisaran Rp1,63 miliar dengan nilai transaksi anggota sekitar Rp600.000 per bulan.
Setelah kegiatan studi banding berakhir, pria yang telah memimpin Kopdit Pintu Air selama 31 tahun itu berharap ada tahapan berikutnya seperti peningkatan kapasitas melalui magang kerja, pertukaran pengalaman praktik tata kelola hingga pengembangan bersama dalam aspek digitalisasi koperasi serta memperluas jaringan melalui Asean Cooperative Organization. (Dje)





