
PeluangNews, Jakarta-Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak membeberkan besarnya potensi sektor pertanian dan peternakan Jawa Timur (Jatim) yang kini menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional.
Mulai dari manufaktur, pangan, hingga sapi perah, Jawa Timur disebut memiliki kekuatan ekonomi yang sulit ditandingi daerah lain.
Hal itu disampaikan Emil dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) 2026 bertema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor” di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).
“Selain fokus pada sektor manufaktur, Jawa Timur memiliki kontribusi hampir seperempat terhadap sektor manufaktur nasional. Di saat yang sama, kontribusi sapi perah di Jawa Timur juga menembus hampir 6 persen secara nasional,” kata Emil.
Menurut Emil, Jawa Timur saat ini juga menjadi daerah peringkat pertama nasional untuk sejumlah komoditas strategis seperti jagung, padi, dan daging sapi. Sementara populasi sapi perah di provinsi tersebut telah mencapai sekitar 289 ribu ekor, menjadikannya salah satu sentra susu terbesar di Indonesia.
Ia menjelaskan, keberhasilan pengembangan sapi perah di Jawa Timur tidak lepas dari dukungan geografis dan pembangunan ekosistem peternakan yang telah dilakukan sejak lama. Kawasan pegunungan seperti Nongkojajar, Pasuruan, Pujon, Batu, hingga sebagian Malang menjadi wilayah favorit pengembangan sapi perah nasional.

“Keunggulan komparatif Jawa Timur memang terletak pada sektor sapi perah. Karena itu sejak awal kami membangun ekosistem teknologi pertanian yang mendukung pengembangan sapi perah,” ujarnya.
Emil menambahkan, pemerintah daerah juga serius menjaga keberlanjutan sektor peternakan, termasuk saat menghadapi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Pemerintah disebut telah mendistribusikan lebih dari 400 ribu dosis vaksin untuk menjaga produktivitas peternak.
Tak hanya itu, pengembangan sektor peternakan kini disebut sudah mengakar hingga tingkat desa. Emil mencontohkan pemanfaatan dana desa di kawasan Senduro, Lumajang, untuk membangun fasilitas pendingin susu atau cooler storage agar kualitas susu tetap terjaga sebelum dipasteurisasi.
“Pengembangan peternakan sapi di Jawa Timur kini sudah semakin terlembaga, baik secara institusional maupun kultural hingga ke tingkat desa,” katanya.
Anak Muda Mulai Melirik Peternakan
Dalam paparannya, Emil juga menyoroti mulai tumbuhnya minat generasi muda terhadap sektor peternakan modern. Menurutnya, keterbatasan lahan pertanian membuat peternakan menjadi sektor yang lebih realistis dan efisien untuk dikembangkan anak muda.
Saat ini, sekitar 31,76 persen dari total 24,25 juta angkatan kerja di Jawa Timur bekerja di sektor pertanian dalam arti luas, mulai dari tanaman pangan, perkebunan, peternakan hingga perikanan.
Namun, dengan jumlah penduduk mencapai 42 juta jiwa dan luas wilayah sekitar 48 ribu kilometer persegi, lahan pertanian semakin terbatas.
“Bagi generasi muda, sektor peternakan menjadi salah satu bidang yang paling memungkinkan untuk dikembangkan di tengah keterbatasan lahan,” ujar Emil.
Menurut dia, peternakan modern menawarkan peluang efisiensi yang lebih tinggi. Selain produktivitas yang lebih intensif, limbah peternakan juga bisa diolah menjadi biogas untuk mendukung operasional peternakan.
Model usaha seperti ini, lanjut Emil, mulai menarik perhatian anak muda karena dinilai lebih inovatif dibandingkan pola pertanian konvensional.
Untuk mendukung regenerasi petani dan peternak, Pemprov Jawa Timur juga menjalankan program Youth Agri Future dan vokasi peternakan yang dipadukan dengan akses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
“Khusus untuk anak muda, kami punya program Youth Agri Future dan program vokasi peternakan untuk meningkatkan kapasitas generasi muda,” katanya.
Tantangan Susu Nasional
Meski memiliki potensi besar, Emil mengakui industri susu nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketidakseimbangan antara kebutuhan pasar dan kondisi di lapangan.
Indonesia saat ini masih mengimpor susu karena produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan nasional. Namun di sisi lain, pernah terjadi peternak membuang susu akibat harga beli dari industri turun drastis.
“Sering terjadi disconnect antara kebutuhan pasar dan produksi di lapangan. Kebutuhannya sebenarnya ada, tetapi jika tidak didorong dan dijembatani, maka pasar dan produsen tidak akan bertemu,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah mendorong berbagai program agregasi pasar dan penguatan pembiayaan agar peternak rakyat bisa lebih kompetitif.
Emil juga menyoroti pentingnya menjembatani kesenjangan efisiensi antara peternakan modern dan peternakan rakyat. Saat ini perusahaan besar seperti Greenfields Indonesia telah menggunakan teknologi pemetaan genetik untuk meningkatkan produktivitas sapi perah.
Sementara peternak rakyat masih menghadapi tantangan modal, teknologi, dan kualitas bibit ternak.
“Ini yang membuat anak-anak muda tertarik, karena mereka melihat ada peluang untuk menjembatani efficiency gap tersebut,” pungkas Emil.








