
PeluangNews, Bandung – Kopi Indonesia kembali memperluas pasar ekspornya. Melalui pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG), komoditas kopi hasil petani berhasil menembus pasar Tiongkok dan Maroko dengan nilai transaksi lebih dari USD227 ribu. Capaian ini menjadi bukti bahwa SRG tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pembiayaan, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing komoditas nasional sekaligus membuka akses pasar global bagi petani dan pelaku usaha.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan SRG sebagai instrumen strategis dalam memperkuat rantai pasok komoditas, meningkatkan nilai tambah produk, serta mendukung peningkatan ekspor Indonesia.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelepasan ekspor kopi dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage, Bandung, menuju Tiongkok dan Maroko beberapa waktu lalu.
Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya mengatakan keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan bahwa SRG telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem logistik dan perdagangan komoditas nasional.
“Pelepasan ekspor ini membuktikan, implementasi SRG yang optimal mampu memperkuat daya saing komoditas Indonesia, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka akses pasar internasasional yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha,” ujar Tirta.
Pada tahap awal, sebanyak dua kontainer kopi dengan total volume 38,4 ton diekspor dengan nilai mencapai USD227.443,2. Pengiriman tersebut terdiri atas satu kontainer kopi Robusta Grade 2 sebanyak 19,2 ton senilai USD71.040 ke Maroko dan satu kontainer kopi Arabica Semi-Wash sebanyak 19,2 ton senilai USD156.403,2 ke Tiongkok.
Ekspor itu akan berlanjut dengan pengiriman delapan kontainer kopi Arabica Semi-Wash menuju Tiongkok. Total volume yang akan dikirim mencapai 153,6 ton dengan nilai sekitar USD1.251.225,60. Seluruh komoditas berasal dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage.
Menurut Tirta, keberhasilan implementasi SRG merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga pembiayaan, hingga petani.
“Keberhasilan implementasi SRG untuk ekspor ini merupakan hasil dari sinergi baik antara pemerintah pusat dan daerah bersama pelaku usaha. Optimalnya peran semua pihak sangat berpengaruh pada keberhasilan ini,” katanya.
Ekosistem tersebut melibatkan petani yang tergabung dalam Koperasi Gunung Luhur Berkah sebagai pemasok komoditas, PT ASLI Logistik Indonesia sebagai agregator, PT Sucofindo sebagai pengelola gudang SRG, PT Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai pemilik gudang sekaligus penggagas SRG berbasis rel, serta PT Kliring Berjangka Indonesia sebagai pusat registrasi SRG.
Dukungan pembiayaan juga datang dari Bank BJB dan PT ASLI Pangan Indonesia yang menghimpun investor untuk memperkuat ekosistem SRG. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung turut berperan dalam mendukung pengembangan sistem tersebut.
Tirta menilai ekspor kopi melalui SRG memiliki arti penting karena membuktikan bahwa komoditas yang disimpan di gudang SRG mampu menjaga kualitas sehingga memenuhi standar pasar internasional. Selain itu, SRG kini tidak lagi hanya menjadi instrumen pembiayaan dalam negeri, tetapi juga menjadi penghubung antara petani dan pasar ekspor.
“Ke depan, Bappebti akan terus mendorong optimalisasi pemanfaatan SRG sebagai instrumen ekosistem logistik dan pembiayaan yang kuat di hulu dan hilir sebagaimana yang diamanatkan dalam UU Nomor 9 Tahun 2006 juncto UU Nomor 9 Tahun 2011. Melalui SRG, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat, memperoleh akses pembiayaan yang mudah, serta jaminan kualitas dan kuantitas komoditas,” terang Tirta.
Sementara itu, Ketua Koperasi Gunung Luhur Berkah Miftahudin Saf mengatakan pemanfaatan SRG telah mendorong peningkatan ekspor koperasi secara signifikan sejak mulai digunakan pada 2020.
Ia menjelaskan, ekspor kopi ke Tiongkok diawali dengan satu kontainer dan akan dilanjutkan dengan sembilan kontainer berikutnya. Adapun pasar Maroko berpotensi menyerap delapan hingga sembilan kontainer kopi setiap bulan.
“Melalui pemanfaatan SRG, petani dapat menyimpan komoditas, menjual pada saat harga terbaik, serta ikut menjaga ketersediaan pasokan untuk memenuhi permintaan ekspor. Sejak memanfaatkan SRG pada 2020, ekspor komoditas Koperasi Gunung Luhur Berkah terus mengalami peningkatan,” ujar Miftahudin.
Keberhasilan ekspor kopi melalui Sistem Resi Gudang menjadi bukti bahwa penguatan ekosistem logistik, pembiayaan, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan mampu meningkatkan daya saing komoditas nasional. Model ini diharapkan dapat direplikasi pada komoditas lain sehingga semakin banyak produk unggulan Indonesia yang mampu menembus pasar internasional.








