
PeluangNews, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengalami defisit Rp180,4 triliun hingga akhir Mei 2026 atau setara 0,70% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Realisasi APBN hingga Mei 2026, lanjut Purbaya, masih menunjukkan sejumlah perkembangan positif. Salah satunya terlihat dari penerimaan pajak yang tumbuh 22,1%.
“Realiasasi APBN sampai Mei 2026, defisitnya tinggal Rp180,4 triliun atau 0,70% dari PDB,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dia mengemukakan bahwa dari sisi penerimaan, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.185 triliun atau 19,1% dari target APBN.
Penerimaan negara masih didominasi sektor perpajakan yang menjadi tulang punggung kas negara. Penerimaan perpajakan tercatat sebesar Rp 958,2 triliun atau tumbuh 18,9% dari target.
Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp 834,4 triliun atau tumbuh 22,1%. Sementara itu, kepabeanan dan cukai menyumbang Rp 123,8 triliun atau tumbuh tipis 0,7%.
Menkeu Purbaya mengutarakan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) hingga Mei 2026 mencapai Rp 226,4 triliun atau 19,9% dari target APBN.
Dari sisi belanja, realisasi belanja negara tercatat lebih tinggi dibandingkan pendapatan sehingga APBN mengalami defisit. Hingga akhir Mei 2026, belanja negara mencapai Rp 1.365 triliun atau 35,5% dari pagu APBN.
Belanja tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.059,3 triliun atau 33,6% dari pagu.
Sementara itu, transfer ke daerah terealisasi Rp 306,1 triliun atau 44,2% dari pagu. Secara lebih rinci, belanja kementerian dan lembaga terealisasi Rp 517,7 triliun atau 34,3% dari pagu.
Belanja non kementerian dan lembaga mencapai Rp 541,6 triliun atau 33% dari pagu.
Kementerian Keuangan juga mencatat keseimbangan primer mencapai Rp 58,6 triliun atau 65,5% dari target APBN. Sedangkan pembiayaan anggaran tercatat Rp 379,4 triliun atau 55,1% dari target. []








