
Roda sejarah bergulir pasti. STEM (Science Technology Engineering Mathematics) jadi keniscayaan. Jurus fardhu ‘ain dalam mengantisipasi realitas peradaban esok lusa nan sublim. Gabungan keempat pilar ilmu itu diplot lahirkan insan berpikir kritis, problem solving, dan inovatif. Dari Sains, ada opsi eksperimen, biologi, fisika, kimia; dari Teknologi: coding, robotik, AI, desain aplikasi; dari Enginering: bikin jembatan, mesin, drone, arsitektur; dan dari Matematika: data, statistik, perhitungan.
Terkait ini, beberapa negara ‘menghapus/mengurangi’ mata pelajaran yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan kekinian, terutama era AI, otomasi, dan kerja lintas bidang; tapi polanya beda-beda. Cina menghapus program kuliah yang outdated. Mereka lagi overhaul besar-besaran kurikulum perguruan tinggi buat nyambung ke AI dan ekonomi cerdas.
Finlandia ubah jadi ‘pembelajaran berbasis fenomena’, tidak hapus total. Yang berubah: Di SMA/usia 16+, Finlandia nambah modul lintas mata pelajaran. Siswa belajar “fenomena” bukan mata pelajaran terpisah. Mata pelajaran dasar seperti matematika, bahasa, sejarah tetap ada di SD-SMP. Hanya diwajibkan 1 proyek multimata pelajaran tiap tahun.
Amerika Serikat hapus tes/assessment nasional NAEP “Nation’s Report Card”: tiadakan asesmen di bidang seni, geografi, dan ekonomi. Australia kurangi konten kurikulum SD. Kurikulum baru: mengurangi 21% total ‘content descriptions’. Geografi SD: 50% konten dikurangi, sehingga kurikulum berfokus pada hal esensial. Inggris meminggirkan mata ajar dengan kualifikasi “bernilai rendah” untuk menyisakan yang “berkualitas tertinggi”.
Indonesia tak ‘menghapus’ pelajaran, tapi menggeser fokusnya supaya lulusan siap kerja di era digital dan hilirisasi industri. Kemendikbudristek dorong prodi STEM. Banyak PTN buka prodi baru: Data Science, AI, Robotik, Energi Baru Terbarukan. Prodi yang ‘sedikit peminat dan serapan rendah’ dievaluasi, dikecilkan kuotanya.
Dalam Visi Indonesia Digital 2045, ditargetkan 9 juta talenta digital sampai 2030. Relevansi STEM (Coding, Data, Cyber Security, AI, IoT) otomatis menjadi prioritas. Pelajaran humaniora/seni/bahasa tidak dihapus. Yang dilakukan: menambah porsi STEM lewat Informatika wajib dan projek memadatkan materi yang dianggap tidak esensial.
Antisipasi di atas jelas terkait dengan prediksi sirnanya beragam job di hari-hari mendatang. Kerjaan yang rentan hilang/berkurang drastis dalam 5-10 tahun ke depan adalah: profesi rutinitas kantoran; profesi manufaktur dan logistik; profesi media dan konten penerjemah dasar; profesi jasa dasar (teler bank, petugas SPBU, resepsionis hotel, pramuniaga toko retail); operator pabrik rutin; pekerja gudang; kasir minimarket; sopir truk, taksi, ojek; petugas tol/parkir.
Kadang terdengar ngeri: “AI ngambil kerjaan”, “robot gantiin manusia”.
Tapi STEM justru alat pemecah masalah terbesar manusia. Kerjaan nggak hilang, cuma berganti bentuk. Robot gantiin kerjaan ‘berulang’. Kita (harus) bisa berkolaborasi dengan teknologi. Manusia tetap ’CEO’-nya AI pinter ngitung. Nilai: etika, rasa, budaya, tujuan hidup; itu nggak bisa di STEM-kan. Justru di era STEM skill manusia paling mahal: berpikir kritis, berempati, dan berimajinasi. Tugas kita: belajar jadi “manusia plus STEM”. Bukan jadi saingan robot.●





