
PeluangNews, Jakarta – Ukuran keberhasilan koperasi dinilai perlu bergeser dari sekadar pencapaian kinerja keuangan menuju manfaat nyata yang dirasakan anggota. Pertumbuhan aset, omzet, maupun laba memang penting sebagai indikator kesehatan usaha, namun belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan koperasi apabila tidak diikuti peningkatan kesejahteraan anggotanya.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Webinar Bedah Buku “Koperasi Sebagai Perusahaan” karya Akhmad Junaidi yang diselenggarakan Asosiasi Profesi Perkoperasian Indonesia (APPI) dalam rangka Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 yang diikuti sekitar 150 peserta, dikutip Selasa (21/7).
Dalam forum tersebut, Presiden Direktur Koperasi BMI Group sekaligus Direktur Utama Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI), Kamaruddin Batubara, hadir sebagai penanggap. Menurutnya, buku tersebut menawarkan cara pandang baru mengenai koperasi sebagai perusahaan modern berbasis anggota (member-based enterprise) yang tetap berpegang pada jati diri koperasi serta berorientasi pada kesejahteraan anggota.
Kamaruddin, yang akrab disapa Kambara, menilai salah satu kekuatan buku itu terletak pada penekanannya terhadap konsep member value sebagai tolok ukur utama keberhasilan koperasi.
“Saya senang dengan buku ini. Jangan hanya laba yang dikejar. Berkoperasi itu adalah bagaimana meningkatkan pendapatan anggotanya. Nilai tambah yang diterima anggota harus menjadi ukuran. Kualitas hidup anggota harus benar-benar terukur,” ujar penerima penghargaan Satyalencana Wira Karya dari Presiden RI tersebut.
Ia menegaskan, koperasi semestinya tidak hanya berfokus pada pertumbuhan organisasi, melainkan memastikan anggotanya turut berkembang secara ekonomi maupun sosial.
“Bukan seberapa besar koperasi tumbuh, tetapi seberapa besar anggota ikut bertumbuh. Itulah ukuran keberhasilan koperasi yang sesungguhnya,“ tegasnya.
Menurut Kambara, peningkatan kesejahteraan anggota harus dibuktikan melalui indikator yang dapat diukur, mulai dari kenaikan pendapatan, kemudahan memperoleh layanan ekonomi, hingga meningkatnya kualitas pendidikan keluarga anggota.
Prinsip tersebut, lanjutnya, telah menjadi bagian dari praktik manajemen pemberdayaan anggota yang diterapkan Koperasi BMI Group. Melalui riset berkala, koperasi melakukan pengukuran terhadap perubahan kondisi ekonomi dan sosial para anggotanya.
“Kami mengukur pendapatan anggota naik atau tidak, bagaimana pendidikan anak-anaknya, bagaimana kualitas hidup keluarganya. Jadi yang kami ukur bukan hanya koperasinya yang bertumbuh, tetapi anggotanya juga harus bertumbuh,” katanya.
Selain menyoroti pentingnya manfaat bagi anggota, Kambara juga menekankan bahwa tata kelola yang baik merupakan fondasi utama dalam membangun koperasi yang profesional. Ia menilai masih terdapat anggapan bahwa pengurus dan pengawas memiliki posisi yang saling berlawanan, padahal keduanya mengemban tujuan yang sama, yakni memastikan seluruh rencana kerja berjalan sesuai amanah anggota.
“Pengurus dan pengawas bukan lawan. Semua harus bekerja berdasarkan rencana kerja yang sama. Nilai koperasi baru bermakna jika dikelola dengan tata kelola yang baik. Bisnis yang dijalankan juga harus benar-benar menjadi bisnis koperasi, bukan bisnis individu,“ ujarnya.
Dalam paparannya, Kambara juga menjelaskan bahwa konsep koperasi modern harus diwujudkan melalui pembangunan ekosistem usaha yang saling terintegrasi berdasarkan kebutuhan anggota. Dengan pendekatan tersebut, manfaat ekonomi dapat tetap berputar di dalam lingkungan koperasi.
Untuk mendukung konsep itu, Koperasi BMI Group mengembangkan berbagai bidang usaha, mulai dari jasa keuangan syariah melalui Koperasi Syariah BMI, sektor perdagangan melalui Koperasi Konsumen BMI, jasa konstruksi, mekanikal-elektrikal, percetakan, bengkel, layanan perjalanan umrah dan wisata melalui Koperasi Jasa BMI, hingga sektor teknologi informasi, kawasan wisata, dan pendidikan melalui Koperasi Sekunder BMI.
“Kalau anggota ingin membangun rumah, kita punya konstruksi. Mau umrah ada travel. Servis kendaraan ada bengkel. Semua kebutuhan anggota kita akomodasi. Yang terpenting, seluruh peluang usaha itu harus menjadi bisnis koperasi, bukan bisnis pribadi,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, Kambara juga mengajak gerakan koperasi nasional membangun model koperasi yang berakar pada karakter bangsa Indonesia. Menurutnya, nilai kekeluargaan dan gotong royong merupakan keunggulan yang harus menjadi fondasi pengembangan koperasi nasional.
“Kita harus membangun koperasi Indonesia. Kita satu-satunya bangsa yang memiliki jiwa kekeluargaan dan gotong royong. Jangan terus membanggakan model luar negeri, sementara karakter kita sendiri justru tidak dibangun,” katanya.
Ia juga mendorong pengembangan inovasi digital melalui konsep mobile cooperative (Mobile Coop) sebagai identitas ekonomi digital koperasi Indonesia.
Selain itu, Kambara menilai sejumlah regulasi teknis masih perlu disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan, termasuk ketentuan mengenai pembatasan biaya gaji yang menurutnya belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan koperasi, khususnya yang bergerak di sektor jasa keuangan dengan kebutuhan sumber daya manusia yang besar.
Menutup tanggapannya, Kambara menegaskan bahwa masa depan koperasi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan para pengurus. Menurutnya, pengurus tidak cukup hanya menguasai aspek administrasi, tetapi juga harus memiliki integritas, jiwa kewirausahaan, serta keberanian melakukan inovasi.
“Pengurus koperasi harus memiliki jiwa entrepreneur. Tata kelola tanpa nilai hanya menjadi slogan. Tata kelola tanpa member value hanya menjadi aktivitas. Member value tanpa pengukuran hanya menjadi harapan,“ ujarnya.
Ia berharap buku “Koperasi Sebagai Perusahaan” dapat menjadi panduan praktis bagi gerakan koperasi Indonesia dalam membangun organisasi yang profesional, berkarakter, serta mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi anggota.
“Buku ini memberi kerangka pemikiran yang kuat. Tugas kita adalah menerjemahkannya menjadi aksi nyata di lapangan. Mari jadikan buku ini bukan hanya bahan bacaan, tetapi bahan gerakan untuk membangun koperasi Indonesia yang lebih kuat dan lebih bermanfaat bagi anggotanya,“ pungkasnya.








