
PeluangNews, Jakarta — Momentum peringatan Hari Kartini dimanfaatkan untuk mendorong gerakan nasional penyelamatan kesehatan perempuan Indonesia.
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menginisiasi program Selamatkan PeRempuan INdonesia (SPRIN) sebagai gerakan lintas sektor guna menekan tingginya angka kematian ibu dan penyakit yang mengancam perempuan.
Data menunjukkan situasi yang masih memprihatinkan. Setiap hari, rata-rata 22 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas.
Selain itu, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis setiap tahun, dengan lebih dari 21.000 kematian—setara satu perempuan meninggal setiap 25 menit. Tanpa intervensi yang terstruktur, kondisi ini dinilai berpotensi mengancam kualitas generasi dan masa depan bangsa.
Ketua Umum Pengurus Pusat POGI, Budi Wiweko, menegaskan bahwa SPRIN bukan sekadar program kesehatan, melainkan gerakan kolektif nasional untuk meningkatkan kualitas perempuan Indonesia.
“SPRIN bukan sekadar program, melainkan gerakan kolektif untuk mendorong perubahan nyata dan berkelanjutan. Kami ingin mengubah cara pandang bahwa kesehatan perempuan bukan isu sektoral, tetapi fondasi pembangunan bangsa,” kata Prof. Budi dalam konferensi pers SPRIN Kartini Day 2026, di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, POGI menargetkan SPRIN berkembang menjadi Gerakan Nasional yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor. Bahkan, POGI juga menargetkan pembentukan Satgas SPRIN agar pelaksanaan program berjalan lebih terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari penguatan gerakan, POGI juga akan menggelar SPRIN Summit 2026 sebagai forum konsolidasi nasional sekaligus evaluasi capaian program. Selain itu, POGI tengah menyiapkan Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN) di Rumah POGI Nasional sebagai pusat edukasi, layanan, dan pemberdayaan perempuan.
Dalam implementasinya, SPRIN mengusung 10 fokus utama, antara lain skrining DNA HPV dan vaksinasi massal, edukasi kesehatan reproduksi, suplemen ibu hamil, skrining anemia, layanan menopause, hingga penguatan literasi kesehatan reproduksi melalui berbagai platform digital.
Program ini juga dijalankan melalui kolaborasi model pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Sejumlah pihak yang telah terlibat antara lain organisasi profesi kesehatan, akademisi, sektor swasta, hingga dunia usaha.
Sementara itu, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Isyana Bagoes Oka, menilai gerakan penyelamatan kesehatan perempuan sejalan dengan semangat perjuangan Kartini dan menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional.
“Perempuan selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kemajuan bangsa. Lebih dari satu abad setelah Kartini menyuarakan perjuangannya, perempuan kini tidak lagi hanya berada di ranah domestik, tetapi juga berperan aktif di ruang publik. Upaya seperti SPRIN menjadi bentuk konkret memastikan perempuan Indonesia lebih sehat, lebih terlindungi, dan lebih berdaya,” ujar Isyana.
Ia menambahkan, meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, perempuan Indonesia masih menghadapi tantangan serius, terutama dalam bidang kesehatan, termasuk tingginya angka kematian ibu dan bayi serta risiko penyakit yang mengancam kesehatan perempuan.
“Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan harus komprehensif, tidak hanya fokus pada penanganan, tetapi juga pencegahan, edukasi, dan penguatan sistem layanan kesehatan,” katanya.
Isyana menegaskan, kesehatan perempuan menjadi sangat strategis karena kualitas sumber daya manusia dimulai sejak masa sebelum kelahiran, bahkan sejak perencanaan keluarga.
“Perempuan yang sehat akan melahirkan generasi sehat. Ibu yang kuat akan membesarkan anak-anak berkualitas. Keluarga yang berkualitas menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif POGI yang menghadirkan berbagai program konkret seperti vaksinasi HPV, distribusi suplemen ibu hamil, edukasi digital, serta pembentukan Rumah Perempuan Indonesia sebagai pusat layanan terpadu.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan gerakan ini. Pemerintah, organisasi profesi, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat harus bersinergi untuk memastikan perempuan Indonesia mendapatkan akses layanan kesehatan yang berkualitas.
“Pada akhirnya, menyelamatkan perempuan Indonesia berarti menyelamatkan masa depan bangsa. Momentum Hari Kartini harus menjadi komitmen bersama untuk memastikan setiap perempuan memiliki akses kesehatan yang layak dan berkualitas,” pungkas Isyana.








