
PeluangNews, Jakarta – Potensi rumput laut Indonesia mulai dilihat dari perspektif yang lebih strategis, tidak sekadar sebagai komoditas pesisir, tetapi sebagai sumber biomolekul bernilai tinggi untuk masa depan pangan dan kesehatan. Hal ini disampaikan oleh Ratih Pangestuti, Peneliti Ahli Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menekuni bidang bioteknologi laut.

Gagasan tersebut mengemuka dalam sidang terbuka pengukuhan profesor riset yang digelar di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie BRIN, Jakarta, Rabu (15/4). Dalam orasi ilmiahnya berjudul “Bioprospeksi Makroalga sebagai Pilar Pangan dan Kesehatan dalam Transformasi Bioindustri Biru Indonesia”, Ratih menekankan pentingnya pergeseran arah riset dari sekadar eksplorasi menuju penciptaan nilai tambah yang berkelanjutan.
Menurutnya, makroalga atau rumput laut selama ini masih kerap diposisikan sebagai bahan mentah, padahal menyimpan potensi besar sebagai sumber senyawa bioaktif untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pangan hingga aplikasi biomedis. Ia menilai pendekatan bioprospeksi dan inovasi teknologi menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi tersebut.
Secara ilmiah, Indonesia memiliki sekitar 900 spesies makroalga atau hampir 11 persen dari total spesies dunia. Namun, kurang dari 10 spesies yang telah dimanfaatkan secara komersial. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya potensi yang belum tergarap secara optimal.
Melalui risetnya, Ratih mendorong eksplorasi sistematis untuk mengidentifikasi, mengkarakterisasi, dan mengembangkan potensi biologis makroalga menjadi produk bernilai tambah tinggi. Ia menjelaskan bahwa makroalga memiliki kandungan kimia yang beragam, termasuk polisakarida seperti agar, alginat, dan karaginan yang telah lama dimanfaatkan dalam industri pangan.
Lebih jauh, penelitiannya juga mengungkap potensi senyawa lain seperti pigmen alami dan polifenol yang memiliki aktivitas biologis sebagai antioksidan, antiinflamasi, hingga agen neuroprotektif. Salah satu temuan penting adalah potensi fucoxanthin, pigmen dari makroalga coklat, yang menunjukkan manfaat signifikan bagi kesehatan. Temuan ini membuka peluang pengembangan bahan baku farmasi dan pangan fungsional berbasis sumber daya laut.
Selain aspek eksplorasi, Ratih juga menyoroti pentingnya inovasi dalam proses ekstraksi. Metode konvensional dinilai kurang efisien dan berisiko merusak senyawa aktif. Oleh karena itu, ia mengembangkan pendekatan green extraction seperti ekstraksi subkritis, ultrasound-assisted extraction, hingga supercritical CO₂ extraction. Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kualitas senyawa sesuai prinsip keberlanjutan.
Penguatan riset juga dilakukan melalui integrasi sistem budidaya. Ratih menekankan bahwa keberlanjutan bioindustri tidak dapat dicapai tanpa pasokan bahan baku yang stabil dan terstandarisasi. Pengembangan budidaya terkontrol, termasuk untuk spesies yang belum banyak dimanfaatkan, dinilai dapat mendorong diversifikasi komoditas sekaligus meningkatkan kualitas produksi.
Dari sisi dampak, pengembangan bioindustri berbasis makroalga dinilai memiliki manfaat luas. Secara ekonomi, sektor ini berpotensi meningkatkan nilai tambah produk laut Indonesia yang selama ini masih didominasi ekspor bahan mentah. Dari sisi sosial, industri ini membuka peluang pemberdayaan masyarakat pesisir, termasuk perempuan, melalui penciptaan lapangan kerja berbasis komunitas. Sementara dari sisi lingkungan, makroalga berperan dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon serta menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Meski demikian, Ratih mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan teknologi, kesenjangan antara riset dan industri, hingga isu keberlanjutan lingkungan. Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat dalam mendorong hilirisasi riset.
“Makroalga bukan sekadar sumber daya, tetapi pilar strategis dalam membangun bioindustri biru Indonesia yang berkelanjutan,” tegasnya.
Ratih, yang lahir di Grobogan, Jawa Tengah, menempuh perjalanan akademik di bidang ilmu kelautan hingga meraih gelar doktor di Korea Selatan. Pengalaman internasional, termasuk program postdoctoral, membentuk pandangannya dalam melihat potensi laut Indonesia sebagai basis inovasi global.
Kontribusinya juga diakui secara luas. Ia meraih berbagai penghargaan, termasuk LIPI Young Scientist Award, serta masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists versi Elsevier-Stanford selama beberapa tahun berturut-turut.
Di tengah tantangan global seperti tekanan terhadap sistem pangan dan meningkatnya penyakit degeneratif, riset makroalga menjadi semakin relevan. Melalui inovasi yang dikembangkannya, Ratih menunjukkan bahwa laut Indonesia menyimpan potensi besar untuk mendukung kedaulatan pangan, kesehatan, dan penguatan bioekonomi nasional di masa depan.








