hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi
Bisnis  

BEI Terus Dorong UKM Go Public

BEI Target Penambahan 2 Juta Investor Baru di Tengah Gejolak Global
BEI Target Penambahan 2 Juta Investor Baru di Tengah Gejolak Global/dok.cnbc

Dalam tiga hari berturut-turut, yaitu pada 7, 8 dan 9 Juli 2026, Bursa Efek Indonesia kedatangan 5 emiten baru. Jumlah IPO pada tahun memang praktis jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan pada tahun lalu. Dalam 7 bulan pertama 2026, baru 6 perusahaan yang listing di BEI. Padahal, pada 2025 ada 26 perusahaan baru yang melantai di bursa. Kondisi ini menjelaskan bagaimana ekonomi 2026 memang menantang. Jadi, 5 perusahaan yang menjadi pendatang baru di lantai bursa ini pastilah bukan sembarang perusahaan karena pede masuk ke pasar dalam situasi yang menantang. Kelima emiten tersebut berasal dari sektor yang berbeda-beda.

 

PT Niramas Utama Tbk

Salah satu emiten baru tersebut adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman dengan merek INACO. Emiten ini menjadi perusahaan tercatat kedua di BEI pada 2026. Berdiri sejak 1990, INACO dikenal sebagai pelopor produk olahan nata de coco yang telah menembus berbagai pasar internasional, seperti Australia, Kanada, Singapura, hingga Amerika Serikat.

 

PT Nitrasanata Dharma Tbk

Di hari yang sama, pengelola jaringan JEC Eye Hospitals & Clinics PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) juga resmi melantai di Papan Utama sebagai perusahaan tercatat ketiga tahun ini. Berawal dari Klinik Mata Jakarta pada 1984, JEC kini berkembang menjadi jaringan layanan kesehatan mata terintegrasi dengan lima rumah sakit spesialis dan 11 klinik utama yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

 

PT Bach Multi Global Tbk

Sehari kemudian, yaitu pada 8 Juli 2026, giliran PT Bach Multi Global Tbk (BACH) yang IPO di Papan Utama. Perusahaan yang bergerak di bidang penjualan dan penyewaan genset serta konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi tersebut menawarkan saham perdana seharga Rp442 per lembar dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp1,8 triliun.

 

PT Esa Medika Mandiri Tbk

Pada hari yang sama, PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) resmi tercatat di Papan Pengembangan sebagai perusahaan kelima yang melantai di BEI sepanjang 2026. EMMI bergerak di bidang perdagangan alat laboratorium, alat farmasi, dan alat kedokteran dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp819 miliar.

 

PT Prodia Diagnostic Line Tbk

Di hari berikutnya, giliran PT Prodia Diagnostic Line Tbk – pengelola Lab Prodia – yang melakukan pencatatan saham perdana pada saat jam perdagangan bursa dibuka di 9 Juli 2026. Emiten ini masuk di Papan Pengembangan BEI.

PRDL merupakan bagian dari Prodia Group yang bergerak di bidang produksi dan perakitan alat kesehatan diagnostik in vitro yang menyediakan solusi sistem diagnostik terintegrasi. Perusahaan ini didirikan pada tanggal 16 April 2010 dan hadir sebagai mitra strategis bagi laboratorium klinik, rumah sakit, puskesmas, dan institusi kesehatan di seluruh Indonesia.

Menurut Presiden Direktur PRDL Cristina Sandjaja, tujuan dari IPO emiten tersebut bukan hanya sekadar mencari dana tambahan dari publik, namun juga meningkatkan tata kelola perusahaan dengan baik, serta menjaga keberlanjutan bisnis.

Di tengah tekanan pasar akibat sentimen terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI), datangnya para emiten baru ini menunjukkan bahwa pelaku usaha dari berbagai sektor mulai kembali confidence untuk masuk ke pasar modal mencari sumber pendanaan jangka panjang dalam rangka mendukung ekspansi usaha. Dengan bergabungnya enam perusahaan baru ini, emiten yang melakukan listing di BEI per 10 Juli 2026 sudah mencapai 957 perusahaan.

 

Terus Ajak UKM Go Public

Komitmen BEI untuk memperluas jumlah perusahaan tercatat tidak hanya diwujudkan melalui pencatatan saham baru, tetapi juga melalui pendampingan kepada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Salah satunya melalui program RISE to IPO yang diselenggarakan bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KemenUMKM) serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk di Surabaya.

Program ini dirancang sebagai pendampingan berkelanjutan bagi perusahaan menengah melalui empat pilar utama, yakni Reach, Inspire, Support, dan Elevate. Sebanyak 61 peserta yang mewakili 45 perusahaan dari berbagai sektor mengikuti kegiatan tersebut untuk memperoleh pemahaman mengenai akses pendanaan melalui pasar modal, tahapan penawaran umum perdana saham (IPO), hingga berbagai persiapan yang diperlukan sebelum menjadi perusahaan terbuka.

Dorongan serupa juga disampaikan dalam forum Investor Day yang mempertemukan regulator, pelaku industri, emiten, analis, dan investor untuk membahas strategi memperkuat daya saing serta meningkatkan kepercayaan investor di tengah tantangan ekonomi global. Dalam forum tersebut, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan pentingnya reformasi dan kolaborasi untuk membangun pasar modal Indonesia yang lebih tangguh, inovatif, dan berkelanjutan.

“Melalui berbagai inisiatif ini, BEI ingin menegaskan bahwa menjadi perusahaan publik bukan lagi sekadar pilihan bagi korporasi besar,” ujarnya.

Jeffrey mengatakan bagi UKM yang memiliki tata kelola yang baik dan prospek bisnis yang menjanjikan, pasar modal dapat menjadi jembatan untuk memperoleh pendanaan, memperkuat daya saing, sekaligus mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.

Ayo, siapa lagi yang mau menyusul? (drp)

pasang iklan di sini
octa vaganza