hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Survei 800 Titik Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Program MBG

Ilustrasi: Istimewa

PeluangNews, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan asupan gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga mulai menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Temuan itu terungkap dalam hasil survei independen Dewan Ekonomi Nasional (DEN) yang dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan saat melakukan siaran Pers di Jakarta.

Presiden Prabowo menerima Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan beserta jajaran pada 9 Juni 2026. Dalam pertemuan tersebut, DEN menyampaikan hasil survei mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia.

Survei tersebut menunjukkan bahwa program unggulan pemerintah itu tidak hanya berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus menciptakan lapangan kerja di sekitar lokasi pelaksanaan program.

Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa survei dilakukan secara profesional dan independen untuk menjaga kredibilitas hasil yang disampaikan kepada Presiden.

“Hasil survei yang dilakukan oleh Dewan Ekonomi mengenai pelaksanaan makan bergizi yang kita lakukan di 800 titik, jadi betul-betul dengan profesional. Jadi kita harus, kami di DEN menjaga betul kredibilitas kami dan itu kami laporkan ke Presiden,” ujar Luhut seperti dikutip dari siaran pers pada laman presidenri.go.id, Minggu (15/6/2026).

Sekretaris DEN Septian Hario Seto menjelaskan, survei tersebut dibiayai langsung oleh DEN dengan menggunakan sampel acak pada 800 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Dari hasil pemantauan tersebut, DEN menemukan bahwa mayoritas SPPG telah melibatkan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok kebutuhan program MBG.

“Hasil pertama yang kami melihat positif adalah bahwa ada 86,9 persen dari SPPG yang ada saat ini, itu paling tidak memiliki satu supplier kecil. Jadi ini adalah UMKM yang memang ada di dekat lokasi dari SPPG tersebut. Kalau dihitung secara rata-rata ada tiga UMKM yang digandeng oleh SPPG ini,” ungkap Septian.

Temuan itu menunjukkan bahwa program MBG mulai membentuk ekosistem ekonomi baru di tingkat daerah. Kehadiran SPPG tidak hanya berfungsi sebagai pusat distribusi makanan bergizi, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Lebih lanjut, DEN mencatat sekitar 65 persen UMKM yang menjadi pemasok kebutuhan program berasal dari kabupaten yang sama dengan lokasi SPPG. Kondisi tersebut dinilai penting karena manfaat ekonomi program dapat dirasakan langsung oleh pelaku usaha lokal.

“Nah, yang lebih menarik ada sekitar 65 persen sektor UMKM-nya ini berada di dalam satu kabupaten di mana SPPG itu berada. Jadi ini juga penting bahwa ini bukanlah supplier besar yang masuk, tapi UMKM-UMKM yang muncul itu memang UMKM yang ada di dalam kabupaten atau lokasi di mana SPPG tersebut berada,” jelas Septian.

Selain memberikan ruang tumbuh bagi UMKM, pelaksanaan Program MBG juga terbukti mendorong penyerapan tenaga kerja lokal. Berdasarkan hasil survei, hampir seluruh pekerja yang terlibat dalam operasional SPPG merupakan warga yang tinggal di sekitar lokasi layanan.

“Yang ketiga temuan kita adalah tenaga kerja, itu hampir 99% memang dari warga sekitar,” ujar Septian.

Meski menunjukkan hasil positif, DEN menilai masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat, terutama terkait akses permodalan bagi UMKM agar mampu meningkatkan kapasitas produksi serta memperluas ragam produk yang dapat dipasok ke SPPG.

DEN juga melihat dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh Program MBG turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Jadi ini kami juga melihat, ini juga menjadi salah satu pendorong kenapa kemarin pertumbuhan kita mencapai 5,61 persen,” kata Septian.

Hasil survei tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi yang disampaikan kepada Presiden Prabowo untuk memastikan Program MBG terus memberikan manfaat yang lebih luas, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi daerah.

“Jadi ini yang tadi kami laporkan kepada Bapak Presiden terkait dengan survei MBG yang dilakukan secara independen oleh Dewan Ekonomi Nasional,” pungkas Septian.

Temuan DEN memperlihatkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis mulai berkembang menjadi lebih dari sekadar program pemenuhan gizi. Di berbagai daerah, program ini juga menciptakan peluang usaha baru, membuka lapangan pekerjaan, serta memperkuat perputaran ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM dan masyarakat sekitar.

pasang iklan di sini
octa vaganza