
PeluangNews, Banten – Pagi itu kabut masih menggantung di atas Sungai Ciberang.
Di Desa Haurgajrug, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, Banten, tiga anak berseragam merah putih berdiri di tebing sungai yang curam. Tas mereka bukan ransel, melainkan plastik kresek yang diikat karet. Sepatu mereka jinjing.
Di depan mereka, Sungai Ciberang mengalir keruh kecoklatan. Jembatan gantung yang dulu menghubungkan desa mereka ke sekolah, sudah putus sejak 2022 lalu. Putus dan tidak pernah diperbaiki.
Yang tersisa hanya rakit bambu yang diikat seadanya, dan di beberapa titik lain, hanya seutas tali tambang dengan papan kayu lapuk selebar telapak tangan.
Aisyah, 9 tahun, kelas 3 SDN 1 Pajagan, menarik napas. Ia sudah hafal betul cara menyeberang. Kaki telanjangnya menyentuh papan pertama yang bergetar. Tangannya mencengkeram tali atas yang licin oleh lumut. Di bawahnya, air setinggi dada orang dewasa berputar.
Satu langkah. Dua langkah. Di tengah sungai, angin menggoyang tubuh kecilnya.
Butuh tiga menit untuk menempuh 20 meter itu. Tiga menit yang rasanya seperti selamanya. Di tebing seberang, ibunya meremas ujung jilbab, menahan napas.
Ini bukan adegan film. Ini adalah rutinitas pagi anak-anak di Lebak, Banten, setiap hari.
Bukan Cerita Baru
Apa yang dialami Aisyah bukan cerita baru bagi warga Lebak.
Pada 9 Agustus 2022, ANTARA Foto merekam siswa di Desa Haurgajrug harus menyeberangi Sungai Ciberang menggunakan rakit bambu karena akses jembatan gantung putus.
Di Kampung Cilangkap, jembatan gantung yang menjadi akses utama warga dan pelajar ambruk saat dilintasi lima pelajar SMP yang pulang sekolah dengan motor. Satu siswa harus dirujuk ke RSUD Malingping.
Dan yang paling diingat orang Lebak, terjadi pada 10 Maret 2015. Jembatan gantung tua berusia 27 tahun yang menghubungkan Desa Sindai, Kecamatan Sajira dan Pasir Eurih, Kecamatan Cimarga, putus. Saat itu, 46 murid SD sedang menyeberang. Mereka semua tercebur ke Sungai Ciberang. Seorang anak bernama Umi, 12 tahun, menderita luka parah di kepala, dada, dan kaki. KPAI bahkan meminta Bupati Lebak bertanggung jawab saat itu.
Foto perjuangan anak-anak Kampung Tanjung, Lebak, yang meniti jembatan bambu hampir putus di atas sungai deras, bahkan pernah dimuat Reuters dan membuat dunia terbelalak. Anak-anak Indonesia, di tahun 2020-an, masih harus seperti Indiana Jones untuk sampai ke kelas.
Sekolah yang Menunggu Runtuh
Setelah menyeberangi sungai, Aisyah masih harus berjalan 300 meter menuju sekolahnya.
SDN 1 Pajagan berdiri miring. Atap sengnya bocor di enam titik. Bu Yuni, guru honorer yang sudah 11 tahun mengajar dengan gaji Rp450 ribu yang dibayar tiga bulan sekali, menandai titik bocor dengan kapur. “Kalau hujan, anak-anak pindah ke sudut,” katanya pelan.
Papan tulis retak. Bangku diganjal batu bata. Di papan transparansi Dana Desa di kantor desa, tertulis: Alokasi infrastruktur Rp380 juta, realisasi 100%.
Warga hanya bisa berbisik. “Materialnya katanya sudah dibeli. Tapi truknya tidak pernah masuk desa,” kata seorang petani singkong, meminta namanya tidak ditulis.
Bagi Aisyah, ia tidak tahu apa itu Dana Desa atau APBD. Yang ia tahu, buku tulisnya harus selamat dalam plastik kresek itu.
Saya bertanya, apa cita-citanya?
“Jadi ibu guru, Pak. Biar adik-adik tidak takut menyeberang lagi.”
Bu Yuni di belakangnya menangis.
Harga Sebuah Jembatan
Untuk membangun jembatan gantung baja yang layak, hanya butuh Rp80 sampai Rp120 juta. Mungkin sama dengan biaya renovasi satu toilet di gedung dinas. Atau sama dengan harga satu set kursi empuk di ruang rapat ber-AC di kota.
Tapi bagi Aisyah, jembatan itu adalah segalanya. Jarak antara ia bisa menjadi guru, atau menjadi daftar panjang anak putus sekolah di Banten, provinsi yang masih menyisakan ribuan sekolah rusak berat.
Jam 12 siang, bel pulang berbunyi. Aisyah harus kembali. Menyeberangi tali yang sama. Sungai yang sama. Dengan rasa takut yang sama.
Sebelum naik ke papan pertama, ia menengadah. Berdoa pendek. Lalu melangkah lagi, dengan buku di punggungnya, membawa seluruh masa depan desanya di atas seutas tali.
Sampai kapan? []








