hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kemendag Cetak Eksportir Muda di Australia

Foto dok. Kemendag RI

PeluangNews, Jakarta – Perdagangan global kini tidak lagi hanya didominasi korporasi besar. Di tengah terbukanya akses pasar internasional dan pesatnya konektivitas digital, generasi muda Indonesia memiliki peluang semakin besar untuk menjadi pelaku utama ekspor nasional, termasuk melalui pemanfaatan jejaring pendidikan dan diaspora di luar negeri.

Melihat potensi tersebut, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mulai mendorong mahasiswa Indonesia di luar negeri agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pelaku usaha, eksportir, hingga penghubung produk Indonesia di pasar dunia.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui lokakarya ekspor-impor Indonesia ke Australia yang diinisiasi Atase Perdagangan RI Canberra, Agung Haris Setiawan, di Marie Reay Teaching Centre, Australian National University, Canberra, Australia, Sabtu (23/5/2026).

Kegiatan yang digelar secara hybrid tersebut mengusung tema “Campuspreneur: Mencetak Mahasiswa Indonesia Menjadi Eksportir dan Buyer Masa Depan” dan bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Australian Capital Territory serta PPIA ANU.

Selain menghadirkan mahasiswa Indonesia di Australia, lokakarya juga melibatkan pelaku usaha Indonesia secara daring. Founder Agis Indoply International Pty Ltd, Agis Fendy Hasan Bachtiar, turut hadir sebagai narasumber dan membagikan pengalaman membangun bisnis ekspor di Australia.

“Lokakarya ini bertujuan membuka wawasan mahasiswa Indonesia di Australia mengenai peluang perdagangan dan proses masuk pasar dari Indonesia ke Australia. Tidak hanya itu, lokakarya ini turut mendorong mahasiswa untuk mengambil peran sebagai calon eksportir, buyer, distributor, maupun penghubung produk Indonesia di Australia,” ujar Haris.

Menurut Haris, mahasiswa Indonesia di Australia memiliki posisi strategis karena memahami karakter pasar Indonesia sekaligus mengenal budaya bisnis, standar perdagangan, dan perilaku konsumen di Australia. Hal tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun jejaring bisnis internasional.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh harga murah, tetapi juga pola pikir global, kualitas produk, reputasi, serta kemampuan memenuhi standar internasional.

Dalam lokakarya tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai peluang produk Indonesia yang potensial di pasar Australia dan Pasifik, mulai dari kopi, kakao, rempah-rempah, herbal, alas kaki, bahan bangunan, furnitur, dekorasi rumah, fesyen dan modest wear, hingga jasa dan produk digital.

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai tahapan ekspor, mulai dari riset pasar, penentuan kode Harmonized System (HS), pemanfaatan perjanjian perdagangan, legalitas usaha, adaptasi produk dan kemasan, pemahaman aturan biosekuriti Australia, hingga strategi logistik dan membangun hubungan jangka panjang dengan buyer.

Kegiatan ini menjadi bagian dari semangat program Campuspreneur Kemendag yang mendorong mahasiswa aktif terlibat dalam ekosistem perdagangan internasional.

Selain lokakarya, Atase Perdagangan RI Canberra juga terus menjalin sinergi dengan mahasiswa Indonesia di Australia melalui berbagai program promosi dagang, termasuk kolaborasi bersama PPIA dan Mata Garuda Australia and New Zealand (ANZ) dalam program pop-up store “Lokal untuk Global” yang sebelumnya memperkenalkan 42 jenama UKM Indonesia kepada konsumen Australia.

Lokakarya turut melibatkan Kopicino Foodtruck sebagai penyedia makanan Indonesia bagi peserta. Usaha kuliner yang dirintis alumnus mahasiswa Indonesia di Australia tersebut dinilai menjadi contoh nyata kontribusi diaspora dalam memperkenalkan produk dan identitas Indonesia di pasar luar negeri.

Sementara itu, Agis Fendy Hasan Bachtiar membagikan pengalamannya membangun bisnis ekspor plywood Indonesia ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Kuwait, dan Uni Emirat Arab dengan volume lebih dari 30 kontainer per bulan.

Menurut Agis, mahasiswa Indonesia memiliki peluang besar untuk memulai usaha ekspor dari hal sederhana, mulai dari memahami kebutuhan pasar, mencari pemasok yang tepat, hingga membangun kepercayaan pelanggan secara konsisten.

Ia juga menjelaskan pentingnya legalitas usaha, penggunaan kontrak dan International Commercial Terms (Incoterms), hingga strategi membangun personal branding dan jaringan bisnis internasional.

Salah satu peserta lokakarya yang juga mahasiswa Master of Marketing Management ANU, Muhammad Zukhri Ihsan, mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait peluang perdagangan Indonesia-Australia.

“Saya memperoleh informasi yang sangat berharga dari Atdag RI Canberra dan Mas Agis, khususnya terkait kebijakan perdagangan Indonesia-Australia serta perspektif pelaku ekspor Indonesia. Saya juga baru mengetahui bahwa ekspor plywood dari Indonesia ke Australia tidak dikenakan pajak. Hal ini sangat menarik karena informasi tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat luas,” ujar Zukhri.

pasang iklan di sini
octa vaganza