hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Industri Manufaktur Dalam Tekanan, PHK Massal Mengancam

Agus Gumiwang Kartasasmita
Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita|Dok. Ist

PeluangNews, Jakarta – Konflik di Timur Tengah membawa dampak terhadap sektor manufaktur Indonesia yang tengah mengalami berbagai tekanan. Hal ini dikhawatirkan berpotensi menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui hal tersebut kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, dikutip Rabu (6/5/2026).

“Kita ini sekarang dalam kondisi yang memang harus diberi perhatian, dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia,” kata Agus.

Dia mengatakan bahwa saat ini sektor manufaktur dalam negeri sedang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari rantai pasok, harga bahan baku produksi, hingga pelemahan pasar.

Tetapi Menteri Agus meyakini kondisi ini hanya bersifat sementara, mengingat mayoritas tekanan berasal dari faktor global.

“Tekanan terhadap market, ada tekanan terhadap bahan baku. Itu memang dihadapi oleh semua negara, semua pihak, dan saya yakin ini sifatnya sementara. Saya yakin,” ujarnya.

Dia percaya industri dalam negeri mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global saat ini. Sebab, menurutnya, kondisi seperti ini bukanlah kali pertama sektor manufaktur mengalami tekanan.

“Saya tetap percaya dengan resiliensi sektor manufaktur. Kita sudah berkali-kali mengalami krisis dengan magnitude yang luar biasa, terakhir Covid-19, di mana teman-teman manufaktur bisa menunjukkan resiliensinya,” kata Agus.

Beberapa waktu lalu, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan adanya potensi PHK massal dalam tiga bulan ke depan imbas pecahnya konflik di Timur Tengah. Informasi ini didapat dari para buruh di lapangan.

Serikat pekerja disebut sudah diajak berdiskusi oleh perwakilan perusahaan terkait potensi pengurangan tenaga kerja.

Presiden KSPI Said Iqbal menegaskan, ancaman PHK paling terasa di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga polyester.

“Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya,” katanya dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026).

Sektor kedua yang terancam melakukan PHK adalah industri plastik akibat lonjakan harga bahan baku impor. Industri ini menghadapi tekanan karena biaya produksi meningkat seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Dampak lanjutan juga bisa merembet ke industri lain seperti elektronik dan otomotif yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik. []

octa vaganza