
PeluangNews, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih dapat terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi kering diperkirakan berlanjut hingga akhir Agustus, sementara musim hujan diprediksi baru mulai memasuki sejumlah wilayah pada pertengahan Oktober 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, berdasarkan analisis titik panas atau hotspot hingga 19 Agustus 2026, terdapat empat provinsi yang menjadi perhatian utama karena memiliki jumlah hotspot signifikan. Keempat wilayah tersebut yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Papua Selatan, dan Kalimantan Timur.
“Kalimantan Barat jumlah hotspot-nya paling banyak. Kedua Kalimantan Tengah, selanjutnya Papua Selatan, dan juga Kalimantan Timur,” ujar Faisal dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, Kamis (20/8/2026).
BMKG juga memproyeksikan pertumbuhan awan dalam 10 hari ke depan hingga 29 Agustus 2026 masih minim di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut terutama terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan, Maluku, dan sebagian Papua.
“Ini relatif kering dan masih berpotensi berlanjut di wilayah-wilayah tersebut,” kata Faisal.
Menurut Faisal, kondisi tersebut perlu diantisipasi karena periode kering masih berlangsung sebelum memasuki masa peralihan menuju musim hujan. Berdasarkan prediksi BMKG, musim hujan diperkirakan mulai datang pada pertengahan Oktober 2026.
Untuk mengantisipasi karhutla, BMKG bersama kementerian dan lembaga terkait terus menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas. Namun, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada keberadaan awan yang dapat dimodifikasi menjadi hujan. Tanpa potensi awan yang memadai, operasi hujan buatan tidak dapat dilakukan secara optimal.
Faisal mengatakan OMC penanganan karhutla telah dilakukan melalui sejumlah posko, antara lain di Pekanbaru, Palangkaraya, dan Pontianak. Sebagian operasi untuk sementara dihentikan karena kondisi atmosfer belum mendukung.
“Kalau tidak ada potensialnya, tidak bisa,” tegas Faisal saat menjawab pertanyaan Ketua Komisi V DPR RI Lasarus mengenai pelaksanaan hujan buatan.
Untuk Kalimantan Barat, BMKG memperkirakan terdapat potensi pelaksanaan OMC pada 23–27 Agustus 2026. Potensi awan yang muncul pada periode tersebut akan dioptimalkan untuk mendukung penanganan karhutla.
Sementara itu, Kalimantan Tengah menghadapi tantangan lebih besar. Hingga akhir Agustus, BMKG belum melihat potensi awan hujan yang cukup untuk dimodifikasi menjadi hujan di wilayah tersebut.
Selain penanganan karhutla, OMC juga dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk pengisian waduk di Jawa Barat dan Waduk Sepaku Semoi di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mulai mengalami kekeringan.
BMKG juga menyiapkan pesawat patroli untuk mendukung pemantauan di enam provinsi yang menjadi wilayah utama rawan karhutla, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau.
Pesawat tersebut dapat segera dialihkan menjadi pesawat OMC apabila ditemukan potensi awan yang memungkinkan dilaksanakannya operasi modifikasi cuaca.
“Pesawat tersebut dapat langsung dialihkan menjadi pesawat OMC ketika ditemukan potensi awan yang memungkinkan pelaksanaan operasi,” ungkap Faisal.
Dalam rapat tersebut, Faisal juga menjelaskan mengenai indikator hotspot pada peta pemantauan BMKG. Menurutnya, hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan adanya indikasi api di lokasi tersebut.
“Iya, itu hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Artinya ada api di sana,” jelasnya.
Faisal mengatakan karakteristik kebakaran di Papua Selatan dan Nusa Tenggara berbeda dengan wilayah yang memiliki lahan gambut. Kebakaran pada vegetasi savana dan semak memiliki karakter yang berbeda dibandingkan kebakaran pada lahan gambut.
Pada lahan gambut, kebakaran dapat berlangsung tidak sempurna dan menghasilkan karbon monoksida (CO) serta gas beracun lainnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mitigasi karhutla perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama selama periode kering dan sebelum musim hujan tiba.
BMKG memastikan dukungan operasional bersama kementerian dan lembaga terkait terus disiapkan. Pesawat patroli juga disiagakan dan dapat segera diterbangkan ketika ditemukan potensi awan yang mendukung pelaksanaan OMC.








