
PeluangNews, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak memasuki rumah masing-masing karena gempa susulan bisa terjadi kapan pun.
“Kesiapsiagaan tetap harus ditingkatkan, terutama dengan tidak memasuki rumah yang telah mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Kalau rumah sudah rusak, jangan dipaksakan untuk masuk. Kita tidak pernah tahu kapan gempa susulan terjadi, yang paling penting sekarang adalah keselamatan bapak dan ibu semua,” kata Kepala BNPB Suharyanto, Kamis (20/8/2026).
Imbauan BNPB tersebut diantaranya mengaku pada gempa susulan di wilayah Flores, NTT, pada Kamis 20 Agustus 2026 pukul 05.45 WIB.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5.8 pada kedalaman 10 km.
Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,35° LS; 120,63° BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 34 km arah timur laut Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tidak berpotensi tsunami.
Dia meminta agar warga mengikuti arahan petugas di lapangan selama proses penanggulangan bencana masih berlangsung. Pemerintah memastikan perbaikan rumah warga terdampak bencana gempa NTT.
Melalui BNPB, pemerintah memberikan bantuan biaya perbaikan rumah sebesar Rp15 juta untuk kerusakan ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan kategori berat akan diberi dukungan pembangunan hunian tetap permanen.
“Untuk rumah yang rusak ringan dan sedang akan kita bantu perbaiki. Kalau rusak berat, solusinya adalah hunian tetap. Pemerintah hadir agar masyarakat tidak dibiarkan menghadapi kondisi ini sendiri,” ujar dia.
Pemerintah juga memberikan dana tunggu hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan atau memilih menempati hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak gempa NTT.
“Yang paling penting sekarang datanya harus benar. Rumah mana yang rusak ringan, sedang, dan berat harus didata dengan baik. Setelah diverifikasi dan divalidasi, kita bisa segera menentukan bantuan dan mulai proses pembangunannya,” ucap Suharyanto.
Sementara itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pemerintah segera menyalurkan bantuan anggaran sebesar Rp44 miliar untuk penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain itu, Presiden Prabowo mempersiapkan anggaran lebih untuk daerah yang terkena bencana seperti di NTT. Pegawai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga mengumpulkan bantuan lalu disalurkan ke warga terdampak bencana.
“Ada satu truk oleh-oleh, ada selimut 380 lembar, cukup kelihatan dengan permintaan tadi kan. Terpal 81 buah, tadi perlu 160, ya? Nanti kita tambah lagi kalau perlu, ya,” kata Purbaya saat terjun langsung menyalurkan bantuan bencana alam gempa NTT pada Rabu (19/8/2026).
Dia mengemukakan bantuan sembako, bahan makanan dapur, hingga kebutuhan balita terus disalurkan secara kontinu.
Di saat mengecek kondisi riil lapangan, Menkeu Purbaya mendapat laporan ada wilayah di NTT yang sama sekali belum mendapat bantuan yakni di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur. Warga di sini belum mendapat bantuan makanan selama empat hari.
“Oh, kita akan minta BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) untuk melihat daerah itu. Yang jelas dari Kementerian Keuangan, kami nyiapin dana yang cukup sehingga BNPB kinerjanya tidak terganggu,” kata dia.
Atas kondisi itu, Purbaya meyakini koordinasi pemerintah daerah dengan pemerintah pusat dalam penanganan pascagempa kurang intens.
“Kayaknya seperti enggak ada koordinasi antara daerah sama pusat untuk penanggulangan bencananya. Karena ketika saya tanya di BPBD, banyak enggak tahunya,” tuturnya.
Namun, kini BNPB mulai menindaklanjuti laporan tersebut dan langsung menyalurkan bantuan makanan ke sana.
BNPB saat ini terus beroperasi di titik-titik terdampak gempa NTT. Mereka menyalurkan bantuan pangan, sandang, dan papan. []








