hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Budidaya Udang Vaname di Kebumen Hasilkan 46 Ton Udang Vaname

BUBK Kebumen milik KKP di Kebumen Jawa Tengah/ Dok. KKP

PeluangNews, Jakarta – Upaya pengembangan budidaya udang modern di Indonesia terus menunjukkan hasil positif. Kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kebumen, Jawa Tengah, berhasil mencatat panen lanjutan sebanyak 46 ton udang vaname pada siklus produksi kedelapan.

Hasil panen tersebut berasal dari panen parsial di 32 petak tambak. Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bagi pengembangan industri udang nasional yang modern, produktif, dan berkelanjutan.

Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu mengatakan, peningkatan produksi dan kualitas udang menunjukkan sistem budidaya yang diterapkan berjalan sesuai standar.

“Alhamdulillah, produksi terus meningkat dan kualitas udang sangat baik. Ini bukti bahwa sistem budidaya yang dijalankan sudah sesuai standar, termasuk pengelolaan lingkungan melalui IPAL,” ujar Tebe dalam siaran resmi beberapa waktu lalu di Jakarta.

Sebelumnya, Tebe meninjau langsung proses panen di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan, pada Jumat (1/5) lalu. Dalam kunjungan tersebut, ia mengapresiasi pencapaian BUBK Kebumen sekaligus memastikan penerapan standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) berjalan optimal.

Kinerja produksi BUBK Kebumen terus menunjukkan tren peningkatan. Dari total 139 kolam yang tersedia, seluruhnya kini telah beroperasi aktif. Pada siklus kedelapan, panen parsial dilakukan dalam tiga tahap, masing-masing sebanyak 12 ton, 15 ton, dan terakhir meningkat menjadi 19 ton.

Dengan demikian, total sementara produksi mencapai 46 ton dari 32 petak tambak, dengan ukuran udang berkisar size 35–40.

Tidak hanya dari sisi volume produksi, kualitas udang yang dihasilkan juga dinilai memenuhi standar pasar. Bahkan, hasil panen tersebut menarik minat pembeli yang datang langsung ke lokasi tambak.

Penanggung jawab teknis BUBK Kebumen, Iwan Sumantri menegaskan bahwa aspek pengelolaan lingkungan menjadi perhatian utama dalam operasional kawasan budidaya.

“Sistem IPAL berjalan dengan baik. Indikatornya terlihat dari kualitas air yang tetap terjaga dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan. Ini menjadi komitmen kami agar budidaya tetap produktif sekaligus berkelanjutan,” jelas Iwan.

Menurut dia, seluruh tahapan operasional mulai dari intake, tandon, on-farm, hingga sistem IPAL dijalankan sesuai standar operasional guna menjaga keberlanjutan produksi dan keamanan lingkungan.

Selain menjadi pusat produksi, BUBK Kebumen juga difungsikan sebagai sarana pembelajaran bagi para pembudidaya. Kawasan tersebut dinilai mampu mendorong transfer teknologi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, hingga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Salah satu petambak lokal, Andes Wahyabremudho mengaku merasakan dampak positif dari keberadaan BUBK, terutama dalam peningkatan pengetahuan teknis dan produktivitas usaha.

“Dengan adanya BUBK, kami bisa banyak belajar dari sisi teknis. Ilmu baru, sharing dengan tim teknis, sampai peningkatan kualitas budidaya sangat terasa. Dampak positifnya jauh lebih banyak,” ungkap Andes.

Ia juga menyebut kawasan tersebut membuka peluang kolaborasi antarpetambak dan mendukung peningkatan hasil produksi secara berkelanjutan.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono optimistis industri udang nasional akan terus berkembang seiring tingginya permintaan pasar global terhadap komoditas tersebut.

Untuk mendukung hal itu, KKP menjalankan sejumlah program peningkatan produktivitas pembudidaya, salah satunya melalui model budidaya udang berbasis kawasan yang mengedepankan teknologi dan prinsip ramah lingkungan.

octa vaganza