
PeluangNews, Jakarta-Di tengah dominasi burger berbahan daging yang identik dengan gaya hidup modern, sebuah inovasi sederhana justru lahir dari kegelisahan akan nasib bahan pangan lokal.
Dari dapur kecil dan riset mandiri, Burger TemCi hadir sebagai upaya mengubah komoditas desa menjadi produk bernilai tinggi.
Cerita itu bermula dari Dinda Feta Falestri, mahasiswi Agribisnis Universitas Sebelas Maret (UNS), yang melihat langsung bagaimana kentang kleci—komoditas khas Boyolali—selama ini hanya dijual dalam bentuk rebusan dengan harga terbatas.
“Saya melihat langsung bagaimana biasanya petani menjual kentang di pasar dalam bentuk rebus saja sehingga nilai jualnya masih terbatas. Padahal kalau diolah, nilainya bisa lebih tinggi. Dari situ kami ingin mencoba memanfaatkan sekaligus mendukung petani di sana,” ujar Dinda.

Berangkat dari keresahan tersebut, Dinda bersama timnya mengembangkan Burger TemCi—akronim dari tempe dan kentang kleci. Produk ini memadukan tempe sebagai sumber protein dengan kentang kleci yang memiliki karakteristik unik dengan tekstur tidak lembek, kadar air rendah, serta cita rasa cenderung manis. Selain itu, kentang ini juga kaya antioksidan dan berpotensi mendukung kesehatan.
Dari Kampus ke Pasar yang Lebih Luas
Bersama rekannya Anggita dan tim, Dinda membangun usaha ini secara bertahap. Dalam waktu sekitar enam bulan, lebih dari 700 porsi Burger TemCi berhasil terjual. Strategi pemasaran pun dimulai dari lingkup sederhana—dititipkan di sekitar kampus hingga sistem pre-order.
Namun, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Di tengah padatnya aktivitas perkuliahan, menjaga konsistensi produksi menjadi ujian tersendiri.
Meski demikian, kegigihan mereka membuahkan hasil. Burger TemCi mendapat dukungan melalui Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) UNS, serta mengikuti seleksi Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) untuk memperluas peluang pengembangan usaha.
Momentum penting datang saat mereka tampil dalam Campuspreneur Expo pada 1—2 April 2026. Di antara banyaknya pelaku usaha muda, stan Burger TemCi justru mencuri perhatian berkat konsep unik dan aroma khas yang ditawarkan.
Keikutsertaan dalam program Campuspreneur yang diinisiasi Kementerian Perdagangan menjadi ruang strategis bagi pengembangan bisnis mereka—mulai dari peningkatan kapasitas, strategi pemasaran, hingga perluasan jejaring.
“Harapannya, Burger TemCi bisa terus berjalan dan dikenal lebih luas. Melalui kegiatan Campuspreneur, kami juga bisa menambah jejaring dan bertemu dengan banyak wirausaha muda dari kampus lain yang usahanya keren-keren banget,” ungkap Anggita.
Lebih dari Sekadar Burger
Kehadiran Burger TemCi bukan sekadar inovasi kuliner, tetapi juga menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap potensi lokal. Di tangan anak muda kreatif, bahan sederhana seperti tempe dan kentang desa mampu bertransformasi menjadi produk kompetitif.
Lebih jauh, inisiatif ini membuka peluang baru bagi peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan sektor pangan lokal.
Di tengah tren kuliner modern, Burger TemCi membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari bahan mahal—melainkan dari keberanian melihat potensi yang selama ini terabaikan.







