
PeluangNews, Jakarta – Penyelenggaraan ibadah haji tinggal tiga hari lagi yakni pada 21-22 April 2026 mendatang.
Jemaah haji yang akan diberangkatkan (sesuai kuota) sebanyak 221.000 jemaah. Kuota ini terbagi atas 203.320 jemaah reguler dan 17.680 jemaah khusus.
Jemaah haji yang diberangkatkan pada 2026 mendaftar sekitar 26-30 tahun sebelumnya, atau rata-rata sejak tahun 1996-2000, karena panjangnya daftar tunggu (waiting list).
Pemberangkatan kloter I, jemaah haji Indonesia direncanakan mulai 22 April 2026.
Menurut Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, pentingnya kesiapan mental, spiritual, dan orientasi pelayanan bagi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dalam menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M ini.
Dahnil mengatakan itu saat memberikan arahan menjelang keberangkatan petugas haji pada Jumat (17/4/2026) di Asrama Haji Pondok Gede.
Wamenhaj menekankan tugas PPIH bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan bagian dari ibadah dan misi suci yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
“Kita siap menyukseskan Haji 2026. Kesiapan mental menjadi penting, termasuk kemampuan mengelola emosi, agar kekuatan fisik yang kita miliki benar-benar ditopang oleh kekuatan rohani yang siap,” kata dia.
Dia mengajak seluruh petugas untuk meniatkan keberangkatan sebagai bagian dari ibadah melalui jalan pengabdian dalam melayani jemaah haji.
“Niatkan pelepasan ini bahwa kita semua sedang menunaikan ibadah melalui peran sebagai petugas haji yang melayani jemaah agar mereka dapat menjalankan ibadah dengan baik. Ini adalah misi suci, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, agama, dan bangsa,” ucap Wamenhaj.
Sebanyak 363 PPIH Daker Madinah dan Bandara akan bertolak menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Wamenhaj juga mengingatkan bahwa PPIH merupakan ujung tombak keberhasilan penyelenggaraan haji, sehingga amanah besar dari masyarakat harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
“Banyak harapan yang dititipkan kepada kita. PPIH adalah ujung tombak kesuksesan. Jemaah kita adalah mereka yang telah memenuhi istithaah, yang berjuang dan berani mengupayakan diri agar bisa berhaji. Semangat spiritual jemaah Indonesia sangat luar biasa, dan itu adalah amanah yang harus kita jaga,” lanjutnya.
Dahnil menambahkan bahwa keberagaman latar belakang jemaah haji Indonesia harus direspons dengan pelayanan yang maksimal dan penuh empati.
“Profil jemaah kita beragam. Karena itu, mari tunaikan layanan semaksimal mungkin kepada seluruh jemaah, tanpa membedakan latar belakang. Pastikan pelayanan kita sukses, sehingga penyelenggaraan haji tahun ini menjadi sejarah baru bagi Indonesia, dan kita menjadi bagian di dalamnya,” katanya.
Berdasarkan data Pusdatin Kemenhaj (15 April 2026), profil jemaah haji Indonesia menunjukkan keragaman yang tinggi. Dari sisi pekerjaan, jemaah didominasi oleh ibu rumah tangga (52.717 orang), diikuti pegawai swasta (46.462), PNS (40.143), dan petani (24.126). Sementara itu, dari sisi pendidikan, mayoritas jemaah merupakan lulusan SD (55.217), SMA/SMK (52.796), serta Sarjana/S1 (51.968).
Adapun dari sisi usia, jemaah haji Indonesia didominasi kelompok usia 41–64 tahun, dengan jumlah laki-laki 58.461 orang dan perempuan 78.955 orang.
Selain itu, terdapat pula jemaah lanjut usia di atas 65 tahun yang mencapai lebih dari 40 ribu orang secara keseluruhan. Kondisi ini menegaskan pentingnya pelayanan yang adaptif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan jemaah.[]








