
rumah siap huni bmi pandeglang
PeluangNews, Pandeglang– Kamis, 2 Juli 2026, menjadi hari penuh haru bagi Isah, warga Kampung Ranca Seneng, Desa Ranca Seneng, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang. Di usia 86 tahun, Isah akhirnya memiliki rumah layak huni setelah puluhan tahun tinggal di bangunan sederhana dengan dinding bilik bambu, atap bocor, dan lantai tanah.
Sejak pagi, halaman rumah Isah dipenuhi warga dan tamu undangan. Tenda berdiri di depan rumah, kursi-kursi tertata rapi, sementara masyarakat datang untuk menyaksikan penyerahan Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) unit ke-571 dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia atau Kopsyah BMI.
Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Cikeusik Wahyu Awaluddin, Kepala Desa Ranca Seneng Supendi, Danramil Cikeusik Kapten Inf. Purgiaro, serta jajaran pengurus Kopsyah BMI.
Rumah lama Isah kini telah berubah total. Dinding bambu digantikan tembok permanen, atap bocor diganti rangka baja ringan dan genteng baru, sementara lantai tanah berubah menjadi keramik. Rumah sederhana itu kini memiliki ruang yang lebih layak, aman, dan nyaman untuk ditempati.
Suasana penyerahan rumah berlangsung hangat. Manajer Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWAF) Kopsyah BMI, Andi, sempat mencairkan suasana dengan candaan saat berbincang dengan Isah.
“Bu Isah umurnya berapa?” tanya Andi. rumah siap huni bmi pandeglang
“Delapan puluh enam tahun, Pak,” jawab Isah.
Andi lalu menimpali, “Hah, 86 tahun? Nggak mungkin. Kok masih seperti ABG 18 tahun?”
Candaan itu disambut tawa warga yang hadir. Di tengah suasana sederhana, kebahagiaan Isah menjadi pusat perhatian.
Mewakili Presiden Direktur Koperasi BMI Group Kamaruddin Batubara, Direktur Kepatuhan dan Risiko Kopsyah BMI Casmita mengatakan rumah tersebut dibangun dari gotong royong ribuan anggota melalui Gerakan Sedekah Seminggu Tiga Ribu atau Gassiteru.
Baca Juga:Hadiri RAT Koperasi BMI Group Menkop: Kontribusi Koperasi Sebagai Amanat Konstitusi Masih Minim
Melalui gerakan itu, anggota menyisihkan infak Rp1.000 dan wakaf Rp2.000 setiap pekan. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan untuk berbagai program sosial, termasuk pembangunan rumah layak huni bagi warga dhuafa. rumah siap huni bmi pandeglang
“Rumah ini dibangun dengan biaya sekitar Rp65 juta. BMI membangun tidak asal jadi. Kalau beramal, kita harus memberikan yang terbaik. Karena itu rumah HRSH dibangun menggunakan material berkualitas agar nyaman ditempati,” ujar Casmita.
Rumah Isah merupakan HRSH ke-571 yang dibangun Kopsyah BMI. Rumah tersebut menjadi unit ke-57 di Kabupaten Pandeglang dan yang pertama di Kecamatan Cikeusik.
Selain program rumah hibah, dana infak dan wakaf anggota BMI juga digunakan untuk layanan 11 ambulans gratis selama 24 jam, program Sanitasi Dhuafa, Sanimesra untuk masjid, mushala, dan pesantren, Sanikam untuk makam, Gerakan Seribu Sajadah dan Al-Qur’an, khitanan massal, hingga santunan anak yatim.
“Dari infak anggota, BMI bisa mengoperasikan 11 ambulans gratis lengkap dengan sopir, BBM, dan e-toll. Semua biayanya ditanggung koperasi,” kata Casmita.
Ia mengajak warga Ranca Seneng untuk bergabung menjadi anggota Kopsyah BMI. Menurutnya, masyarakat tidak harus meminjam dana untuk menjadi anggota, karena menabung pun sudah menjadi bagian dari gerakan gotong royong koperasi.
Casmita juga mengingatkan masyarakat agar menggunakan pembiayaan untuk kebutuhan produktif, pendidikan anak, atau pengembangan usaha, bukan untuk konsumsi berlebihan maupun judi online.
Danramil Cikeusik Kapten Inf. Purgiaro berharap Kopsyah BMI dapat menjangkau seluruh desa di Kecamatan Cikeusik.
“Mudah-mudahan 14 desa di Kecamatan Cikeusik bisa dijangkau Kopsyah BMI. Saya yakin koperasi ini membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Camat Cikeusik Wahyu Awaluddin menilai program tersebut membuktikan bahwa infak kecil dapat melahirkan dampak besar jika dilakukan secara konsisten dan gotong royong.
“Jangan pernah menyepelekan infak seribu rupiah. Dari gotong royong itulah lahir 571 rumah hibah. Ini membuktikan bahwa Koperasi BMI bukan sekadar lembaga bisnis, tetapi juga lembaga yang membangun kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Bagi Isah, rumah baru itu bukan sekadar bangunan. Rumah tersebut menjadi hadiah di usia senja, sekaligus bukti bahwa kepedulian dan gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. (RO)








