hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Kopdes Merah Putih Untung, Siapa yang Menikmati?

Foto: Istimewa

PeluangNews, Jakarta – Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih diproyeksikan menjadi motor baru penguatan ekonomi desa sekaligus sumber pendapatan yang dapat menopang pembangunan di tingkat lokal. Melalui skema yang disiapkan pemerintah, sebagian besar keuntungan koperasi akan kembali dinikmati masyarakat desa, sementara sebagian lainnya menjadi Pendapatan Asli Desa (PADes) untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Mendes PDT Yandri Susanto saat bertemu Kepala Desa se- Kabupaten Mojokerto, di Aula Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: Humas Kemendes PDT)

Komitmen tersebut disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto saat bertemu para kepala desa se-Kabupaten Mojokerto di Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (14/6/2026).

Yandri menegaskan, Kopdes Merah Putih dirancang bukan sekadar sebagai lembaga usaha desa, melainkan instrumen pemerataan manfaat ekonomi yang hasilnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat.

“Keuntungan dari Koperasi Desa Merah Putih itu, delapan puluh persen itu kembali ke rakyat di desa, dibagi pak. Yang dua puluh persennya untuk PADes. Jadi gak ada yang dibawa ke Jakarta pak,” ujar Yandri Susanto.

Menurut Yandri, keberadaan Kopdes Merah Putih juga akan memperkuat kemandirian desa karena berbagai sarana dan prasarana yang dibangun nantinya menjadi aset milik desa. Aset tersebut mencakup fasilitas penyimpanan hingga armada distribusi yang dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

“Nanti itu akan jadi aset pak. Ada juga gudangnya, ada truknya, ada mobil pickupnya, ada motor roda tiganya, jadi itu memang untuk desa pak,” katanya.

Di tengah beredarnya berbagai informasi mengenai pengelolaan dana desa, Yandri memastikan pemerintah tidak melakukan pemotongan dana desa. Menurutnya, yang dilakukan pemerintah adalah memperkuat tata kelola agar dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih produktif dan menghasilkan dampak ekonomi jangka panjang.

“Dana desa itu tidak diambil oleh pusat, tetapi diubah tata kelolanya. Kalau selama ini desa mengelola masing-masing, sekarang sebagian besarnya diarahkan untuk memperkuat Kopdes,” ujarnya.

Melalui penguatan tata kelola tersebut, Kopdes Merah Putih akan mengembangkan berbagai unit usaha yang dekat dengan kebutuhan masyarakat desa. Koperasi akan bergerak di sektor penyediaan sembako, distribusi pupuk dan gas, hingga berperan sebagai offtaker yang menampung hasil produksi warga.

Skema tersebut diharapkan mampu memperpendek rantai distribusi yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama ekonomi pedesaan. Dengan jalur distribusi yang lebih efisien, nilai tambah produk desa diharapkan meningkat dan akses pasar bagi masyarakat menjadi semakin luas.

Lebih dari itu, pemerintah juga menilai Kopdes Merah Putih dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap praktik pinjaman berbunga tinggi serta peran tengkulak yang kerap menekan harga hasil produksi petani maupun pelaku usaha desa.

Dengan konsep tersebut, Kopdes Merah Putih dipersiapkan tidak hanya sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi desa, menciptakan aset produktif milik desa, meningkatkan PADes, serta mendorong kesejahteraan warga secara berkelanjutan.

pasang iklan di sini
octa vaganza