Kesuksesan Andy Arslan Djunaid tidak semata-mata karena statusnya sebagai pewaris, namun diperoleh dari leadership yang kuat, inovasi, dan profesionalitas.

“Saya tidak mau disalahi sejarah, dimana jika Bapak yang membangun usaha, lalu Anaknya yang menikmati, Cucunya yang membangkrutkan,” ungkap Andy Arslan Djunaid, Ketua Umum Kospin JASA dalam Apa dan Siapa 100 Orang Koperasi Indonesia.
Andy yang merupakan sarjana ekonomi jebolan Universitas Islam Indonesia itu adalah cucu dari H. Ahmad Djunaid, inisiator Kospin JASA. Ungkapan Andy yang sering disebut “Kutukan Generasi Ketiga” itu bukan tanpa dasar. Survei The Economist Intelligence dan Harvard Business School menyebut, 95 persen bisnis keluarga tidak sanggup bertahan melewati generasi ketiga.
Namun pria kelahiran Pekalongan, 5 Juli 1971 itu berhasil menepis jebakan generasi ketiga tersebut. Kospin Jasa yang didirikan pada 13 Desember 1973 terus bertumbuh, alih-alih bangkrut. Sampai akhir 2025, asetnya tercatat sebesar Rp7,34 triliun, tumbuh 9% dari tahun sebelumnya Rp6,73 triliun. Pinjaman sebesar Rp4,05 triliun dan jumlah anggota pun terus bertambah, menjadi salah satu indikator bahwa Kospin JASA terus berkembang, terpercaya dan memberikan pelayanan yang baik.
Keberhasilan Andy mempertahankan Kospin JASA sebagai koperasi terbesar di Indonesia tidak lepas dari leadership dan kompetensinya. Meski berstatus sebagai pewaris, namun peraih Bakti Koperasi 2016 dan Satyalancana Wira Karya 2018 itu tidak berpuas diri dengan keistimewaan yang dimiliki.
Setelah lulus kuliah pada 1997, ia justru merantau ke Jakarta dan membangun usaha sendiri di industri perdagangan valuta asing. Hampir enam tahun ia bergelut dengan mata uang asing sebelum diminta mendampingi ayahandanya, Zaky Arslan Djunaid, Ketua Umum Kospin JASA saat itu pada 2004.
Setelah Ayahanda Zaky wafat, pada 2012 Andy dipercaya sebagai Ketua Umum Kospin JASA hingga kini. Beragam inovasi dikembangkannya untuk agar usaha koperasi terus bertumbuh. Ketua Forum Koperasi Indonesia (Forkopi) itu melakukan transformasi kelembagaan dan memperkuat digitalisasi layanan serta teta kelola agar bendera koperasi yang didirikan oleh tiga etnis: Jawa, China,dan Arab, itu tetap berkibar.
Selain itu, Kospin JASA juga dipercaya sebagai penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan bekerja sama dengan unsur pemerintah dan Asosiasi Pengasuh Pondok Pesantren Jawa Tengah menyalurkan pembiayaan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) khusus Pesantren.
Dari perjalanan sukses Andy, seistimewa apapun status ekonomi dan sosial yang dimiliki seseorang tidak akan berarti tanpa kompetensi dan profesionalitas. Selain itu, perlunya pengembangan inovasi dan adaptasi sesuai dengan perkembangan agar tidak terlindas zaman. (Dje).





