
PeluangNews, Sumba Barat Daya – Pagi itu, papan tulis hitam masih tergantung miring di dinding SD Islam Perokonda yang retak.
Debu semen masih berjatuhan dari langit-langit. Tapi di halaman, di bawah pohon asam yang rindang, sudah tertata 15 batu sebagai kursi.
Di sanalah ibu guru, Marta Lende (34) akan mengajar besok.
“Kalau kita tunggu gedung bagus dulu baru mengajar, kapan anak-anak pintar? Biar di bawah pohon dulu, yang penting mereka tidak lupa huruf,” ujarnya sambil menyapu pecahan genteng dengan sapu lidi, Minggu (4/10/2026) pagi.
Gempa M6,1 yang mengguncang Sumba Barat Daya pukul 05.55 WITA menghantam desa kecil itu paling keras. BMKG mencatat intensitas VI MMI di Kodi — artinya semua orang panik berhamburan. Bagi Marta, guncangan itu bukan sekadar data.
Ia sedang menyiapkan sarapan untuk dua anaknya, Yohana (9) dan Petrus (6), ketika tanah berguncang. Sang ibu, yang sudah 2 tahun lumpuh karena stroke, terjatuh dari tempat tidur bambu.
“Saya peluk ibu saya dulu, baru lari keluar gendong anak. Saya lihat sekolah di depan rumah, debunya naik. Hati saya langsung, ‘Tuhan, selesai sudah’,” kenangnya.
Sekolah itu adalah hidupnya. Delapan tahun ia mengabdi sebagai guru honorer. Gaji Rp 600.000 per bulan. Tidak pernah telat ia datang, meski harus jalan kaki 2 kilometer melewati savana. Suaminya, Markus, merantau menjadi tukang di Denpasar dan belum mengirim uang sejak 3 bulan lalu karena proyek sepi.
Untuk menyambung hidup, setiap sore setelah mengajar, Marta menjual kue cucur dan pisang goreng di Pasar Kodi. Untung Rp20 ribu sehari, ia tabung untuk beli buku tulis muridnya yang tidak mampu.
Kini, sekolahnya masuk dalam data BPBD: 1 bangunan sekolah rusak sedang, 2 rumah warga rusak, 1 luka ringan. Di balik angka itu, ada 21 murid kelas 2 yang ia ajar membaca.
“Siti belum lancar huruf R, Yohan belum bisa hitung 1 sampai 20. Kalau libur lama karena gempa, mereka lupa,” katanya cemas.
Maka ia membuat keputusan. Besok, Senin, ia akan meminjam terpal dari tetangga, menggelar tikar dari rumah, dan mengajar di bawah pohon asam. Ia sudah menulis di kertas karton: A B C D besar-besar.
Kepala Desa Perokonda, Paulus Kedu, menyebut Marta adalah sosok yang paling duluan datang membantu tetangga yang rumahnya retak, padahal sekolahnya sendiri rusak.
“Ibu Marta itu miskin secara uang, tapi kaya hati. Dia yang tenangkan ibu-ibu yang trauma gempa susulan,” kata Paulus.
Saat matahari Sumba mulai terik, Marta masih duduk di bawah pohon asam itu. Di pangkuannya, Petrus tertidur. Di tangannya, buku tulis yang selamat dari reruntuhan. Ia membolak-balik halaman yang berdebu.
“Gempa bisa retakkan tembok, tapi tidak bisa retakkan semangat anak-anak untuk sekolah,” ucapnya pelan, menatap savana yang luas di depan.
Di kejauhan, BMKG masih mencatat 62 kali gempa susulan. Tapi di bawah pohon asam di Kodi, seorang ibu guru miskin sedang menyiapkan pelajaran paling berharga: tentang ketahanan.[]








