
PeluangNews, Jakarta-Fashion tak hanya soal busana dan tren yang terus berganti. Di balik setiap karya, ada gagasan, karakter, proses kreatif, identitas, hingga perjalanan panjang para desainer. Semangat tersebut hadir dalam Gaya Archive Chapter 4 Fashion Installation yang kembali digelar sebagai bagian dari rangkaian Fashion Nation 20th Edition: The Icon Edit.
Pembukaan Gaya Archive Chapter 4 Fashion Installation digelar di Senayan City, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Program tahunan Indonesian Fashion Designer Council (IFDC) ini menghadirkan karya 23 anggota desainer IFDC yang terbagi dalam tema Spring, Summer, Autumn, dan Winter.
Ketua IFDC Sjamsidar Isa mengatakan, Gaya Archive bukan sekadar fashion installation, tetapi menjadi ruang untuk merayakan kreativitas sekaligus memperkenalkan karya para desainer kepada publik.
“Ini adalah sebuah ruang untuk merayakan kreativitas, memperkenalkan karya para desainer kepada publik, sekaligus menunjukkan bahwa fashion merupakan bagian dari perkembangan industri kreatif dan budaya Indonesia,” ujar Sjamsidar, saat pembukaan acara.

Karya-karya tersebut ditampilkan di area promenade, Ground Floor, Senayan City, dan dapat dinikmati publik mulai 18 hingga 27 September.
Sjamsidar berharap instalasi tersebut dapat menghadirkan perspektif yang lebih luas mengenai fashion. Menurutnya, fashion tidak hanya dipandang sebagai busana, tetapi juga sebagai karya yang memiliki gagasan, karakter, proses kreatif, dan identitas masing-masing desainer.
“Bukan hanya sebagai busana, tetapi sebagai sebuah karya yang memiliki gagasan, karakter, proses kreatif, dan identitas dari masing-masing desainer,” katanya.
Selain karya di Gaya Archive Chapter 4, IFDC juga menghadirkan pameran kostum panggung Sabat Marawi di Avenue Area, Ground Floor, Senayan City. Pameran tersebut menampilkan kostum yang dirancang oleh 12 desainer IFDC yang terlibat dalam pementasan Sabat Marawi.
Menurut Sjamsidar, kehadiran karya-karya tersebut menjadi pengingat bahwa fashion Indonesia memiliki hubungan kuat dengan kekayaan budaya dan keberagaman Indonesia.

“Melalui kreativitas para desainer, tradisi dan budaya dapat berkembang dalam bentuk yang baru, relevan, dan tetap diapresiasi oleh generasi masa kini,” tambahnya.
Semangat tersebut, lanjut dia, menjadi bagian dari upaya IFDC untuk terus mendorong kreativitas desainer Indonesia, memperkuat ekosistem fashion, sekaligus membawa kekayaan budaya Indonesia melalui ranah fashion.
Sementara, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya yang diwakili Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain di Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) Yuke Sri Rahayu, turut mengapresiasi penyelenggaraan Gaya Archive.
Menurutnya, tidak banyak ruang yang secara konsisten mendokumentasikan perjalanan para desainer Indonesia.
“Karena itu, saya melihat Gaya Archive bukan hanya sebagai sebuah pameran, tetapi juga sebagai sebuah ikhtiar untuk merawat perjalanan kreativitas fashion Indonesia,” paparnya.
Ia juga menilai tema “Four Seasons” memiliki relevansi dengan dunia fashion. Musim identik dengan perubahan sekaligus keberlanjutan, sebagaimana fashion yang terus mengalami perubahan tren.
Selain itu, kekuatan fashion Indonesia tidak hanya terletak pada desainernya. Menurutnya, hal yang membuat fashion Indonesia berbeda adalah cerita di balik setiap karya.
“Ada kreativitas, ada identitas, ada tren Indonesia, dan ada perjalanan panjang para desainer yang mampu membangun reputasi tersebut selama bertahun-tahun,” paparnya.
Ia menilai dokumentasi karya memiliki arti penting. Perjalanan para desainer yang dikomunikasikan dengan baik tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi desainer berikutnya.
“Mendokumentasikan karya sama pentingnya dengan menciptakan karya,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi yang menghadirkan kembali karya-karya dari Hikayat Nusantara. Menurutnya, kolaborasi seperti itu penting dalam memperkuat ekosistem industri kreatif.
“Tugas kami bukan menciptakan kreativitas, karena kreativitas lahir dari para pelaku industri. Tugas pemerintah adalah memastikan ekosistem semakin kuat sehingga karya-karya seperti ini memiliki ruang untuk terus berkembang, dikenal, dan memberikan nilai tambah bagi para kreatornya,” jelasnya.
Di sisi lain, Center Director Senayan City Selvyn mengatakan, penyelenggaraan Gaya Archive menjadi bagian dari rangkaian perayaan 20 tahun Senayan City.
“Senang sekali sore hari ini, dalam rangkaian acara anniversary Senayan City yang ke-20 tahun, kita kembali hadir bersama-sama dengan IFDC untuk mempersembahkan sebuah acara fashion yang sangat bergengsi,” ungkap Selvyn.
Ia mengatakan, Senayan City merasa bangga dapat menjadi partner dan memberikan kesempatan untuk menjadi showcase bagi karya-karya fashion Indonesia.
“Kami senang sekali dan bangga selalu diajak serta diberikan kesempatan untuk menjadi partner, menjadi showcase, mempertontonkan, dan memperkenalkan karya-karya fashion Indonesia kepada masyarakat,” imbuhnya.
Selvyn berharap kolaborasi tersebut dapat membawa fashion dan desain Indonesia semakin dikenal, baik di dalam negeri maupun dunia internasional.
“Kami berharap dapat membawa fashion dan desain Indonesia semakin dikenal, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional,” ujarnya.
Dalam momentum 20 tahun Senayan City, Selvyn juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan.
“Perjalanan Senayan City selama 20 tahun ini tidak akan terwujud tanpa berbagai hal yang kita lakukan bersama. Tidak ada pencapaian yang dapat kita raih tanpa kerja sama dan dukungan dari semua pihak,” pungkasnya.





