
PeluangNews, Sikka – Menteri Koperasi Republik Indonesia, Ferry Juliantono, memberikan apresiasi terhadap pencapaian Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Obor Mas.
Pernyataan tersebut disampaikan Menkop dalam acara “Ngopi Bareng” yang dihadiri oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena, Bupati Sikka, Dirut LPDB, serta keluarga besar KSP Kopdit Obor Mas di Maumere, Jumat (29/5/2026).
Kehadiran Menkop Ferry di bumi Flores ini membawa dua agenda besar yakni membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) Kopdit Obor Mas ke – XLII, sekaligus mengonsolidasikan program strategis nasional, yaitu pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Dalam arahannya, Menkop Ferry Juliantono mengungkapkan bahwa kedatangannya ke Sikka merupakan bentuk penghormatan nyata terhadap perjuangan Kopdit Obor Mas yang telah konsisten melayani masyarakat sejak tahun 1972.
Saat ini, Kopdit Obor Mas telah membukukan aset yang sangat fantastis, yakni mencapai Rp1,5 triliun dan terus bergerak menuju Rp2 triliun.
Angka ini menjadikan Obor Mas sebagai salah satu koperasi perkreditan terbesar, bukan hanya di NTT, melainkan juga menjadi pemantik pertumbuhan ekonomi koperasi di level nasional.
“Saya datang ke Kabupaten Sikka semata-mata untuk menghargai dan menghormati perjuangan dari Koperasi Obor Mas. Mereka membuktikan bahwa Obor Mas bukan saja lama secara sejarah, tetapi mampu berkembang dan membuktikan diri menjadi kebanggaan koperasi nasional,” ujar Ferry Juliantono.
Menkop Ferry juga mengaku terkesan dengan ekosistem koperasi di NTT. Berdasarkan data dari Gubernur NTT, Melki Laka Lena, gabungan aset dari koperasi-koperasi besar berbasis di NTT (Kopdit Obor Mas, KSP Pintu Air, KSP TLM, dan Swasti Sari) kini telah menembus angka di atas Rp10 triliun.
Menkop menggambarkan, secara lokal, total aset tersebut sudah setara dengan 50% atau separuh dari total aset Bank Pembangunan Daerah (BPD) NTT.
“Ukuran ini membuktikan bahwa Provinsi NTT sangat tepat untuk disebut sebagai Provinsi Koperasi. Pemerintah daerah dan masyarakatnya berhasil menjadikan koperasi sebagai badan usaha yang punya kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah,” tegasnya.
Meski memuji capaian di NTT, Menkop Ferry memberikan catatan kritis mengenai potret koperasi di tingkat nasional.
Ia memberikan ilustrasi bahwa jika dibandingkan dengan aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau korporasi swasta raksasa, aset koperasi secara nasional masih tertinggal sangat jauh sebuah kondisi yang ia sebut bagai “bumi dan langit”.
Ketidakseimbangan inilah yang menjadi fokus utama pemerintahan Presiden saat ini. Menkop menegaskan bahwa Kementerian Koperasi mengemban amanah besar untuk mengembalikan jalur perekonomian nasional sesuai mandat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
“Para founding fathers kita menginginkan struktur yang seimbang antara BUMN, swasta, dan koperasi. Bahkan, koperasi seharusnya menjadi soko guru artinya tiang utama atau mainstream dari arus perekonomian kita,” jelas Menkop.
Sebagai instrumen percepatan, pemerintah tengah masif membangun puluhan ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh pelosok Indonesia.
Hingga akhir Mei 2026, Menkop mengonfirmasi bahwa sebanyak 11.030 unit bangunan fisik berupa gudang, gerai, dan alat kelengkapan koperasi desa telah rampung 100 persen. Selain itu, ada sekitar 37.000 titik lahan yang sudah siap untuk divalidasi dan dibangun.
“Target kami, sebagaimana arahan Bapak Presiden, pada bulan Agustus tahun ini minimal 20.000 bangunan fisik gudang dan gerai Koperasi Desa Merah Putih sudah selesai dan siap dioperasionalkan secara nasional,” urainya.
Mengingat skala proyek ini sangat masif, Kementerian Koperasi meluncurkan strategi khusus dengan melibatkan koperasi-koperasi besar yang sudah mapan untuk bertindak sebagai “Kakak Asuh”.
Koperasi senior yang kaya pengalaman seperti Kopdit Obor Mas, diharapkan memberikan asistensi langsung bagi koperasi desa yang baru bertumbuh.
“Kami mengharapkan koperasi-koperasi yang existing dan sudah punya pengalaman matang ini bisa membantu keberadaan koperasi desa dan kelurahan yang baru tumbuh. Khususnya dalam membimbing pengelolaan lembaga keuangan mikro, karena pengelolaan di tingkat tapak membutuhkan pengalaman lapangan yang tidak sebentar,” ungkap Menkop Ferry.
Ia menambahkan, penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di bawah pendampingan koperasi-koperasi besar akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput.
Sementara, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi tata kelola KSP Kopdit Obor Mas yang dinilai berjalan baik di bawah kepemimpinan General Manajer Leonardus Frediyanto Moat Lering atau Yanto Lering
“Pak Yanto yang mengelola Obor Mas ini termasuk juga yang menurut saya mengelola koperasi ini dengan tata kelola yang sangat baik,” katanya.
Namun demikian, Melki Laka Lena mengingatkan agar koperasi di NTT tidak hanya berfokus pada sektor simpan pinjam, melainkan mulai memperluas usaha ke sektor produktif sesuai potensi daerah.
“Boleh gak, coba koperasi di NTT ini melompat lebih jauh lagi menjadi koperasi yang selain simpan pinjam juga produktif. Saya kira Obor Mas sudah mulai, tetapi kalau bisa kita perlebar lagi sesuai dengan potensi daerah,” pungkasnya.








