
PeluangNews, Jakarta — Industri percetakan Indonesia tengah memasuki fase baru ketika teknologi digital, kreativitas, dan kebutuhan industri bertemu dalam satu ekosistem. Momentum ini terlihat dalam penyelenggaraan ALLPrint Indonesia 2026, pameran internasional percetakan dan teknologi grafika terbesar di Indonesia, yang mempertemukan pelaku industri, produsen teknologi, hingga pengguna jasa percetakan dari berbagai sektor.
Pameran yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, berlangsung pada 7-10 Oktober 2026. Penyelenggaraan tahun ini menjadi edisi ke-27 dan diikuti lebih dari 400 peserta dari 10 negara.
CEO Krista Exhibitions Daud D. Salim mengatakan perkembangan teknologi percetakan digital menjadi salah satu daya tarik utama dalam pameran tersebut. Dari total peserta yang hadir, sekitar 75 persen menampilkan teknologi percetakan digital dengan beragam aplikasi.
“Teknologi cetak digital itu yang paling dinamis dan setiap tahun pasti ada perkembangannya. Dari 400 lebih peserta, hampir bisa dikatakan 75 persen itu teknologi cetak digital dengan berbagai jenis variasinya,” ujar Daud usai membuka acara ALLPrint Indonesia2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, teknologi yang dipamerkan tidak hanya menyasar kebutuhan percetakan di atas kertas. Perkembangannya telah merambah berbagai material dan kebutuhan industri, mulai dari plastik, branding, packaging, media promosi, tekstil, hingga kebutuhan arsitektur.
“Baik cetak di atas kertas, plastik, cetak branding, packaging, cetak promosi, cetak arsitektur juga ada ditampilkan. Bahkan, teknologi 3D printing juga ada,” katanya.

Selain mesin dan teknologi, pameran tersebut juga menghadirkan berbagai bahan pendukung industri percetakan, seperti kertas, vinil untuk kebutuhan promosi, tekstil, hingga material untuk produk fesyen seperti kaus. Teknologi sablon juga menjadi bagian dari inovasi yang ditampilkan.
Daud menuturkan, perkembangan teknologi percetakan juga membuka peluang investasi dengan nilai yang beragam. Pelaku usaha dari skala kecil, menengah hingga industri besar dapat menemukan teknologi sesuai kebutuhan dan kapasitas investasinya.
“Investasinya sangat beragam, mulai dari sekitar Rp50 juta sampai miliaran rupiah. Bahkan ada mesin yang harganya mencapai sekitar Rp10 miliar,” jelasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Cecep Rukendi menilai ALLPrint Indonesia 2026 memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan industri kreatif nasional, khususnya sektor penerbitan dan media kreatif.
Menurut Cecep, kehadiran pemerintah dalam pameran tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara industri percetakan, manufaktur, dan ekonomi kreatif.
“Kami hadir dari Kementerian Ekonomi Kreatif dan mendukung acara ALLPrint Indonesia 2026 ini karena sangat terkait dan menjadi ruang kolaborasi antara industri percetakan dengan industri kreatif, khususnya industri penerbitan,” ujar Cecep.
Dia mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan ALLPrint Indonesia 2026 yang telah berlangsung selama 27 tahun. Menurutnya, dengan diikuti peserta dari 28 provinsi dan 10 negara, pameran tersebut tidak lagi sekadar menjadi tempat memamerkan produk dan teknologi.
“Ini bukan hanya sebagai ajang pameran, tetapi juga menjadi marketplace dan ajang kolaborasi di antara para stakeholder industri penerbitan dan percetakan,” katanya.
Cecep menambahkan, perkembangan teknologi percetakan menjadi peluang untuk memperkuat industri manufaktur sekaligus mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif. Menurutnya, teknologi tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa diiringi kreativitas dalam menciptakan produk dan nilai tambah.
“Dari sisi perindustrian, ini tentu memperkuat aspek industri manufakturnya. Kami di ekonomi kreatif membantu mengembangkan ekosistem industri kreatif. Teknologi dengan kreativitas ketika bertemu akan menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi lagi,” ujar Cecep.
Penyelenggaraan ALLPrint Indonesian2026 pun menunjukkan bahwa industri percetakan tidak lagi sebatas bisnis produksi berbasis mesin. Perkembangan teknologi digital telah memperluas fungsi percetakan ke berbagai sektor, sekaligus membuka ruang baru bagi pelaku industri kreatif untuk menghasilkan produk yang lebih inovatif dan bernilai tambah.
Dengan menghadirkan teknologi, mesin, material, serta pelaku industri dari berbagai negara, ALLPrint Indonesiab2026 diharapkan menjadi ruang bertemunya kebutuhan industri dengan inovasi teknologi sekaligus memperkuat kolaborasi antara sektor manufaktur dan ekonomi kreatif di Indonesia.








