Berdasarkan data Global Petrol Prices, harga BBM jenis bensin tercatat naik di 106 negara pasca konflik di Timur Tengah. Kenaikan tertinggi terjadi di Filipina, 54,2% per 23 Maret 2026.

Seiring dengan penutupan Selat Hormuz dan intensitas serangan Iran terhadap kapal-kapal asing di perairan Teluk Persia, sejumlah negara telah menghadapi kekosongan pasokan BBM. Penutupan jalur strategis yang menjadi rute distribusi sekitar sepertiga pasokan minyak dan gas dunia ini berdampak pada gangguan pasokan energi dan komoditas di berbagai negara.
Berdasarkan data Global Petrol Prices, harga BBM jenis bensin tercatat naik di 106 negara setelah sekitar sebulan konflik. Kenaikan tertinggi terjadi di Filipina, mencapai 54,2% per 23 Maret 2026 dibanding harga 23 Februari 2026. Di India pun begitu. Antrean warga mengular di sejumlah SPBU.
Thailand menghentikan ekspor energi kecuali ke Laos dan Myanmar, serta menerapkan kebijakan work from home (WFH) bagi pegawai pemerintah dan BUMN. Kebijakan WFH juga diterapkan di Vietnam, Sri Lanka, dan Filipina untuk menekan konsumsi energi.
Di sektor transportasi, sejumlah maskapai di Vietnam, Filipina, dan Malaysia mulai mengkaji penghentian operasional pada beberapa rute penerbangan. Selain itu, berbagai kampanye efisiensi energi juga digencarkan. Sebut saja pembatasan penggunaan lift dan pendingin ruangan di kantor pemerintahan di Thailand, atau imbauan mandi lebih singkat di Korsel.
Pemerintah Indonesia? Sejauh ini belum menunjukkan langkah nyata untuk mengantisipasi krisis pasokan energi. Di tengah risiko yang mulai meningkat, pemerintah baru mengkaji langkah apa saja yang akan dilakukan untuk mengantisipasi krisis energi.
Pakar Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi, menilai kondisi pasokan energi nasional masih relatif aman. Indonesia masih memproduksi sekitar 600 ribu barel minyak mentah per hari, yang setelah diolah di kilang menghasilkan sekitar 400 ribu bph. Produksi ini menjadi penyangga di tengah kebutuhan impor BBM yang mencapai sekitar 1,2 juta bph.
Tekanan terbesar justru berada pada sisi fiskal, ujar praktisi migas Hadi Ismoyo. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga BBM atau menambah beban subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat. Indonesia, kata dia, masih dapat bertahan hingga enam bulan ke depan, dengan asumsi harga minyak di kisaran US$90 per barel. Jika konflik mereda, tekanan terhadap harga energi berpotensi menurun.
Kenaikan harga energi telah mendorong peningkatan biaya produksi, terutama pada komponen energi dan logistik yang paling sensitif terhadap dinamika geopolitik. “Lonjakan harga minyak mulai memberikan tekanan langsung pada biaya produksi. Di saat yang sama, gangguan jalur logistik global juga meningkatkan biaya distribusi serta menyebabkan keterlambatan pengiriman,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani.
Tekanan juga dirasakan pada bahan baku impor, khususnya bagi industri yang bergantung pada komoditas seperti gula, gandum, dan kedelai, serta bahan penunjang seperti plastik untuk kemasan. Kondisi ini membuat tekanan biaya menjalar ke berbagai sektor, seiring eratnya keterkaitan rantai pasok global. Indonesia mungkin belum merasakan krisis energi seperti negara lain hari ini. Namun, ketergantungan pada impor, tekanan harga global, dan beban subsidi yang terus membesar menunjukkan bahwa ketahanan tersebut berdiri di atas fondasi yang rapuh.●








