Komunitas ini mendorong kebaya sebagai busana nasional, mengadakan kegiatan sosial, serta mempromosikan kebaya ke generasi muda melalui program goes to school/campus/office.
Berawal dari gerakan “Selasa Berkebaya” dan “Indonesia Berkebaya,” “Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia”–yang dibentuk tahun 2014 oleh sejumlah mantan wartawan–kini memperjuangkan agar kebaya dapat diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Sebelumnya, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan ini telah mengakui batik sebagai warisan budaya. Berbagai upaya, termasuk dorongan dari pemerintah, dilakukan oleh komunitas ini
Menurut salah seorang pendiri Komunitas Berkebaya Indonesia, Rahmi Hidayati, “Nanti kaya batik, semua orang tahu itu dari Indonesia. Kita pengen persepsi, oh Sari dari India, Kimono dari Jepang, dan sekarang Kebaya dari Indonesia. Itu sama-sama kita jaga, karena kalau enggak kita akan sukar menghindar dari tsunami budaya”.
Selama ini kita udah terimbas budaya Eropa, K-Pop. Padahal kita punya budaya bagus tapi gak kita apa-apain. Sebut saja misalnya, tari-tarian, atau busana. “Kita punya kain, pakainya kain, sayangnya kita gak peduli, akhirnya sudah kena tsunami semua. Sekarang saatnya kita tegakkan kembali berbagai keungggulan khas tersebut bersama-sama,” ujar Rahmi.
Perempuan Berkebaya Indonesia adalah komunitas yang didedikasikan untuk melestarikan budaya Indonesia dengan mengenakan kebaya dalam aktivitas sehari-hari.
“Gerakan “Indonesia Berkebaya” diaktifkan oleh beberapa komunitas dan individu. Antara lain: Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia: Komunitas ini memiliki tujuan untuk menggaungkan kembali budaya nusantara dan melestarikan kebaya sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.
Rahmi Hidayati: Pendiri Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia, yang berkomitmen untuk mengenakan kebaya pada setiap kegiatannya.
Musa Widyatmodjo: Perancang busana yang terinspirasi dari busana-busana nasional Indonesia dan ingin membawa baju nasional menjadi naik tingkat.
Bakti Budaya Djarum Foundation: Organisasi yang menginisiasi gerakan “Kita Berkebaya” untuk meningkatkan apresiasi dan pemahaman masyarakat terhadap kebaya sebagai bagian dari identitas budaya.
Renitasari Adrian: Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, yang ingin melihat kebaya tidak hanya dipakai saat acara formal, tapi menjadi bagian dari identitas sehari-hari perempuan Indonesia.
Gagasan di balik pembentukan PBI dimaksudkan untuk melestarikan budaya, menjadikan kebaya pakaian sehari-hari, serta memperjuangkan kebaya sebagai warisan budaya tak benda UNESCO. Wujudnya, menggelar gerakan seperti “1.000 perempuan berkebaya”, Kongres Kebaya Nasional, dan mempromosikan kebaya di luar negeri. Kesemuanya itu berdampak mendorong kebanggaan mengenakan kebaya sebagai simbol identitas dan keanggunan perempuan Indonesia.
Dari wilayah tetangga terdekat DKI Jakarta, pelestarian kebaya sebagai busana tradisional Indonesia terus dilakukan oleh Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Tangerang Raya. Dalam setiap kegiatannya, PBI mengedukasi dan mengajak masyarakat menjadikan kebaya sebagai busana keseharian.
Perempuan Berkebaya Indonesia Tangerang Raya dideklarasikan pada 13 Agustus 2022 bertepatan di momen menyambut HUT Kemerdekaan RI. Terbentuknya PBI Tangerang Raya merupakan cabang ke 10 yang hadir di Indonesia. Adapun daerah lainnya seperti Bogor, Yogyakarta, Bali, Jakarta, Sumatera Utara, Banten, Salatiga, Pekalongan dan Banyumas.
“Satu tahun berdiri PBI Tangerang Raya telah memiliki anggota mencapai 90 orang yang tersebar di K0ta Tangsel, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Anggota PBI berasal dari beragam kalangan mulai dari Ibu Rumah Tangga, ASN, Wiraswasta, mahasiswa, dan lainnya,” ujar Ketua PBI Tangerang Raya, Artati Yudhiwati.
Sejak dideklarasikan, PBI menggelar berbagai kegiatan sosialisasi dan pengenalan kebaya sebagai busana tradisional Indonesia yang dapat dikenakan dalam berbagai aktivitas kepada masyarakat terutama generasi muda. “Kami telah mengadakan Kebaya Goes to Campus, lomba fashion show berkebaya, parade berkebaya, ke pasar bareng berkebaya, sarapan bareng berkebaya dan bugar berkebaya dan lainnya,” kata mbak Yudhi.
Upaya melestarikan tradisi wanita berkebaya dapat diawali dengan menggunakan gaun tradisional tersebut dalam setiap aktivitas. “Menggunakannya sesering mungkin dan dalam kesempatan apa pun, Ada anggota PBI yang bersepeda, bersepatu roda pakai kebaya, saat ini sudah ada kebaya berbahan khusus menyerap keringat,” paparnya.
“Setiap hari saya pakai kebaya kecuali jika ada acara formal yang mengharuskan menggunakan jas,” kata wanita notaris itu. Kebiasaan itu kini diikuti oleh putrinya sebagai seorang notaris diikuti juga oleh salah satu putrinya. Menurut dia dengan sosialisasi dan pengenalan penggunaan kebaya dalam berbagai aktivitas akan menarik perhatian masyarakat untuk mengikutinya.
“Contohnya ketika kita ke pasar berkebaya, masyarakat akan lihat wah ternyata berkebaya itu modis, berkebaya dapat dipakai tidak hanya di acara khusus saja, kalau dulu kita lihat yang berkebaya orangtua kita, sekarang kita lestarikan dengan berkebaya di aktivitas sehari-hari,” ujarnya
Gerakan “Indonesia Berkebaya” digalakkan agar perempuan Indonesia, terutama kelompok perempuan milenial, lebih mencintai budaya dan tidak segan-segan mengenakan kebaya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak cukup sampai di situ, komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia kini sedang memperjuangkan kebaya ke Unesco sebagai warisan budaya dunia.
Sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau, tentu Indonesia memiliki banyak budaya yang harus dilestarikan agar tak lekang oleh waktu. Salah satunya adalah kebaya, pakaian tradisional perempuan Indonesia
Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud mengatakan, pemerintah sudah pasti akan memberikan dukungan penuh pada “Gerakan Berkebaya Indonesia” ini. Bentuk dukungannya adalah dengan memfasilitasi ke ruang kebudayaan yang lebih besar agar kebaya bisa lebih mendunia.
“Ini gerakan diinisiasi oleh komunitas, dan tugas pemerintah hanya memfasilitasi, ngasih ruang memperkenalkan stakeholder kebudayaan yang lebih luas, sehingga ekosistemnya terbangun. Kita tidak ikut campur mengatur. Kita dorong memperkenalkannya ke ruang besar ini. Tugas kita di situ ya sebagai fasilitator,” ujar Dr. Hilmar Farid, mantan Dirjen Kebudayaan Kemendikbud.
Tujuan yang ingin dicapai gerakan “Indonesia Berkebaya” antara lain:
Melestarikan Budaya: Gerakan ini bertujuan untuk menggaungkan kembali budaya nusantara dan melestarikan kebaya sebagai salah satu warisan budaya Indonesia;
Meningkatkan Kesadaran: Gerakan ini ingin meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebaya sebagai identitas bangsa dan simbol kebudayaan Indonesia;
Mengangkat Martabat Kebaya: Gerakan ini berusaha untuk mengangkat martabat kebaya sebagai busana nasional yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, tidak hanya acara formal saja;
Menciptakan Identitas Bangsa: Gerakan ini ingin menciptakan identitas bangsa yang kuat melalui kebaya, sehingga masyarakat Indonesia dapat lebih bangga dengan warisan budayanya sendiri;
Mendukung Pariwisata: Gerakan ini juga dapat mendukung pariwisata Indonesia dengan mempromosikan kebaya sebagai salah satu ikon budaya negara.
Artinya, lebih dari sekadar mempromosikan kebaya sebagai busana, tapi gerakan ini juga melestarikan budaya, meningkatkan kesadaran, dan menciptakan identitas bangsa.●(Nay)









